Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi IPO. Foto: Pixabay.

Ilustrasi IPO. Foto: Pixabay.

CASHLEZ JADI EMITEN BARU KE-27 TAHUN INI

Minat IPO Belum Surut

Farid Firdaus, Senin, 4 Mei 2020 | 20:38 WIB

JAKARTA, investor.id – Minat calon emiten baru untuk melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham diyakini belum surut. Saat ini, sebanyak 18 perusahaan berkomitmen untuk melaksanakan aksi korporasi tersebut. Sementara itu, sepanjang tahun bejalan ini, sebanyak 27 perusahaan berhasil menggalang dana sebesar Rp 3,66 triliun dari hasil IPO.

Direktur Penilaian BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, sebanyak 18 perusahaan yang berada dalam pipeline BEI belum menyatakan mundur atau menunda rencana IPO. Calon emiten baru ini merupakan perusahaan dari berbagai sektor. Namun, BEI tidak mengungkap secara rinci nama-nama perusahaan tersebut.

Selain IPO, BEI juga mencatat masih ada empat rencana penerbitan obligasi untuk pertama kali, lima rencana penerbitan exchange traded fund (ETF), dan satu penerbitan dana investasi real estate (DIRE). “Dengan demikian, total pipeline penerbitan sebanyak 28 untuk semua instrumen, dan semua pipeline sampai saat ini masih on schedule,” kata Nyoman kepada Investor Daily, Senin (4/5).

Berdasarkan data BEI, realisasi IPO saham di kuartal I-2020 saja mencapai 19 perusahaan dengan total perolehan dana Rp 2,87 triliun. Aksi IPO paling tinggi terjadi pada Januari yang sebanyak delapan perusahaan, kemudian sedikit menurun menjadi enam perusahaan pada Februari 2020.

Ketika pemerintah menetapkan pandemi Covid-19 sebagai bencana nasional pada 13 Maret 2020, setelahnya terjadi beberapa kali penurunan tajam pada indeks harga saham gabungan (IHSG). Hal tersebut terutama dipicu oleh aksi jual secara besar-besaran atau panic selling oleh investor.

Panic selling pun berdampak pada realisasi IPO. Selama Maret 2020, aksi IPO tercatat hanya sebanyak lima perusahaan. Namun, jumlah IPO mengalami peningkatan menjadi tujuh perusahaan selama April 2020.

Mengawali Mei 2020, PT Cashlez Worldwide Indonesia Tbk (CASH) resmi mencatatkan sahamnya (listing) di BEI, kemarin. Perusahaan yang bergerak di bidang teknologi finansial (fintech) sistem pembayaran ini menjadi emiten ke-27 tahun ini sekaligus menjadi emiten ke 691 yang tercatat di BEI.

Menurut Nyoman, Cashlez menjadi fintech sistem pembayaran pertama yang melantai di bursa. Perseroan juga merupakan start-up hasil binaan IDX incubator. IPO Cashlez diharapkan bisa menjadi rujukan bagi start-up lainnya yang ingin menjadi perusahaan publik.

Saat IPO, Cashlez melepas sebanyak 250 juta saham baru atau setara 17,5%, dengan harga Rp 350 per saham. Secara bersamaan, perseroan juga menerbitkan Waran Seri I dengan rasio 1:1. PT Sinarmas Sekuritas menjadi penjamin pelaksana emisi efek. Saat debut perdagangan, saham CASH ditutup menguat Rp 34 (9,71%) ke posisi Rp 384.

Makin Ekspansif

Presiden Direktur Cashlez Worldwide Indonesia Tee Teddy Setiawan mengatakan, dari perolehan dana segar yang sebanyak Rp 87,5 miliar, sekitar 61,31% akan digunakan untuk mengakuisisi PT Softorb Technology Indonesia (STI). Sisa dana akan digunakan sebagai modal kerja perseroan.

“Melalui IPO ini, kami dapat terus berinovasi dalam mengembangkan bisnis dan salah satunya adalah akuisisi STI yang menurut kami sangat strategis untuk pertumbuhan bisnis kami,” ujar Teddy.

Akuisisi tersebut, lanjut dia, diharapkan dapat menciptakan sinergi untuk pengembangan bisnis, salah satunya melalui jumlah merchant yang bergabung bersama Cashlez. Sampai saat ini, jumlah merchant Cashlez mencapai lebih dari 7.000 merchants, 88% diantaranya terdiri dari usaha menengah kecil mikro (UMKM).

Untuk akhir tahun ini, jumlah merchant yang bergabung dengan Cashlez diproyeksikan akan mencapai 10.000 merchants. Dalam hal pertambahan jumlah merchant ini, Cashlez turut berpartisipasi membantu proses digitalisasi UMKM ditengah pandemi Covid-19.

Sebagai catatan, kinerja Cashlez sepanjang 2019 mengalami peningkatan jika dibandingkan dari tahun sebelumnya. Nilai Gross Transaction Value (GTV) perseroan pada akhir tahun 2019 meningkat menjadi Rp 3,81 triliun atau bertumbuh 183% secara tahunan (year on year) dibanding tahun 2018. Target peningkatan GTV selanjutnya diproyeksikan 3 kali lipat dari realisasi 2019.

“Sebagai perusahaan yang dapat menyediakan multi payment dengan one stop solution kami berharap melalui IPO ini dapat terus bertumbuh dan mendorong perekonomian Indonesia dengan membantu para pelaku usaha, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah,” ujar Teddy.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN