Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Main hall Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto Ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Main hall Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto Ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Mirae: IHSG April Berpotensi Terkonsolidasi

Kamis, 8 April 2021 | 22:34 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memprediksi, nilai transaksi bursa saham dan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) akan terkonsolidasi selama April 2021. Hal ini seiring dengan kondisi makro ekonomi domestik yang belum bertenaga dan momentum puasa.

Investment Information Head Mirae Asset Sekuritas Roger memprediksi nilai transaksi bursa saham akan terpangkas menjadi kisaran Rp 9 triliun per hari pada April 2021. Nilai ini menurun dari rerata Januari, Februari, serta Maret yang masing-masing mencapai Rp 20 triliun, Rp 15 triliun, dan Rp 10 triliun per hari.

“April ada kemungkinan turun tipis menjadi sekitar Rp 9 triliun per hari, faktor puasa juga biasanya akan membuat nilai transaksi harian lebih lesu dibandingkan dengan sebelumnya,” ujar Roger dalam acara Media Day Mirae Asset Sekuritas secara virtual, Kamis, (8/4).

Dia juga memprediksi IHSG akan terkonsolidasi downtrend dengan support di level 5.892-5.735 dan resistance di level 6.195-6.281. Roger mengatakan, IHSG ini akan bergerak positif ke depannya, namun masih akan terdilusi oleh kondisi makroekonomi.

Sementara sentimen positif yang akan mempengaruhi IHSG ke depan adalah laporan kinerja keuangan emiten untuk tahun 2020 dan kuartal I-2021. Lalu, sentimen lainnya adalah aksi korporasi beberapa emiten, terutama musim dividen. 

Roger mencatat ada beberapa emiten unggulan (blue chips) yang memiliki imbal hasil (yield) dividen tinggi. Beberapa di antaranya adalah PT Adaro Energy Tbk (ADRO) sebesar 3,3%, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) 3,2%, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) 2,7%, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) 2,7%, PT Astra International Tbk (ASII) 2,3%, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) 2,2%, dan PT United Tractors Tbk (UNTR) 2,1%.

Di tengah konsolidasi tersebut, Mirae Asset merekomendasikan beberapa saham yang patut dicermati. Saham tersebut seperti PT PP London Sumatra Tbk (LSIP) dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) yang berpeluang menguat seiring ekspektasi peningkatan kinerja pada kuartal I-2021. 

Kemudian dari sektor poultry, Roger menilai ada dua saham yang berpotensi terkerek akibat kenaikan harga ayam broiler, yaitu PT Japfa Comfeed Tbk (JPFA) dan PT Malindo Feedmil Tbk (MAIN). Adapun target harga untuk kedua saham itu adalah Rp 2.500 dan Rp 930.

Momentum puasa dan lebaran, lanjut Roger berpeluang menggerakkan dua saham konsumsi, yakni PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP). Kedua saham Indofood ini berpeluang terkerek ke level Rp 8.700 dan Rp 12.500.

Dari sisi kondisi makroekonomi, Ekonom Mirae Asset Sekuritas Anthony Kevin menilai prospek perbaikan ekonomi global yang positif masih dibatasi kondisi di dalam negeri yang belum cukup baik. Beberapa kondisi utama adalah distribusi vaksinasi Covid-19 yang masih lambat dan perekonomian kelas menengah ke bawah yang belum membaik.

Dari global, dia menuturkan ada beberapa sentimen positif utama yang diprediksi dapat memberikan dorongan untuk penguatan pasar. Sentimen itu adalah angka aktif Covid-19 dunia yang menurun signifikan, kampanye vaksin terbesar sepanjang masa, dan prospek pemulihan ekonomi yang sesuai jalurnya. “Distribusi vaksin akan menjadi kunci bagi prospek pemulihan ekonomi dunia tersebut, dan perbaikan ekonomi jangka panjangnya di tingkat global masih tetap menjanjikan,” ujar Kevin.

Di sisi negatifnya, potensi kenaikan tingkat yield lanjutan dari obligasi pemerintah AS (US Treasury) masih akan berdampak pada pelemahan pasar keuangan domestik terutama mata uang rupiah. Sebagai gambaran, yield seri US Treasury acuan yaitu tenor 10 tahun saat ini berada pada kisaran 1,65%, naik dari posisi 0,9% pada akhir 2020.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN