Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investor tengah mencermati pergerakan harga saham. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Investor tengah mencermati pergerakan harga saham. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Mirae: Saham Bank dan Komoditas Jadi Pilihan

Rabu, 13 Januari 2021 | 22:04 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memandang sektor komoditas dan perbankan akan menjadi sektor unggulan di pasar saham tahun ini. Penguatan harga komoditas dan meningkatnya arus modal asing menjadi faktor yang mempengaruhi pergerakan saham di kedua sektor tersebut.

Head of Research Division PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Hariyanto Wijaya mengatakan, harga komoditas tahun ini meningkat karena membaiknya Prompt Manufacturing China (PMI) Tiongkok. "Meningkatnya PMI Tiongkok menandakan aktivitas konstruksi di negara tersebut meningkat sehingga membutuhkan banyak nikel," jelas dia dalam acara konferensi pers secara virtual, Rabu (13/1).

Menurut Hariyanto, nikel menjadi salah satu komoditas yang dibutuhkan karena menjadi bahan baku baja dalam pembangunan di negara Tirai Bambu tersebut. Masifnya pembangunan ini seiring dengan ambisi Tiongkok untuk menghubungkan jalur sutera yang penting dalam perdagangan di Asia.

Hal lain yang mempengaruhi harga nikel adalah kebijakan Presiden Amerika Serikat Joe Biden yang mendukung program energi bersih. Kebijakan ini akan meningkatkan produksi kendaraan listrik ramah lingkungan yang tentunya akan meningkatkan permintaan nikel.

"Harga komoditas nikel saat ini sudah meningkat ke level US$ 18 ribu per ton, namun saya melihat ke depan bisa menembus US$ 20 ribu per ton karena dua faktor tadi," kata dia.

Sementara untuk komoditas yang lain, yakni minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) juga diprediksi akan meningkat. Meningkatnya permintaan dari dua negara konsumer terbesar, yakni Tiongkok dan India menjadi faktor penyebab peningkatan harga CPO. Di satu sisi, pasokan CPO terganggu karena adanya La Nina dan juga rendahnya inventory di Malaysia yang diperkirakan berlangsung hingga kuartal II-2021.

Pelemahan mata uang dolar AS juga menjadi faktor meningkatnya harga komoditas. Menurut Hariyanto, kebijakan AS yang menyuntikkan stimulus cukup besar untuk merangsang perekonomian menyebabkan nilai tukar dolar AS melemah.

"Sementara komoditas memiliki korelasi terbalik dengan mata uang dolar. Tren dolar AS yang melemah seolah-olah membuat harga komoditas murah, sehingga permintaan meningkat," papar dia

Sedangkan untuk saham perbankan, menurut Hariyanto akan terbantu karena meningkatnya foreign inflow (arus modal asing) ke pasar saham. Seiring dengan kebijakan Biden yang menaikkan pajak tinggi di AS menyebabkan investor beralih ke negara emerging market. Indonesia, dalam hal ini dipandang sebagai negara dengan valuasi yang murah, namun pertumbuhan dan return on equity (ROE)-nya bagus. 

Pada tahap awal, perusahaan managed fund asing akan masuk ke dalam saham berkapitalisasi besar yang saat ini banyak diisi oleh perbankan. "Empat bank dengan kapitalisasi besar di bursa juga mencatatkan ROE yang bagus dengan ekspektasi laba bersih yang meningkat pada tahun ini," kata dia.

Dengan melihat sentimen-sentimen tersebut, ada delapan saham yang menjadi pilihan Mirae Asset pada Januari ini. Saham-saham tersebut adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT PP London Sumatera Tbk (LSIP), PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA).

“Kami memilih Antam dan Vale Indonesia karena emiten ini penerima manfaat dari kenaikan harga nikel seiring dengan naiknya permintaan dari produksi baja dan baterai EV," jelas Hariyanto.

Sedangkan saham LSIP menjadi pilihan karena emiten sawit ini akan terdorong kenaikan harga CPO. United Tractors juga masuk pilihan karena memperhitungkan dampak positif dari kenaikan harga emas. Adapun Japfa dipilih adanya pemulihan sektor unggas.

Hariyanto menyebutkan, per 7 Januari 2021, saham pilihan dengan bobot yang sama menghasilkan akumulasi tingkat pengembalian (return) sebesar 43,9%. Hal ini mengungguli akumulasi return IHSG sebesar -3,7% sejak dimulainya laporan top picks bulanan pada Agustus 2019.

Sementara itu, untuk indeks harga saham gabungan (IHSG) pada Januari ini diprediksi akan menguat seiring dengan optimisme prospek ekonomi di tahun baru. Hariyanto menyebutkan, dalam 8 tahun terakhir, kecuali 2017 dan 2020, indeks acuan di Bursa Efek Indonesia (BEI) secara rata-rata naik 1,5% selama Januari.

"Pada Januari 2020, IHSG memang terkoreksi 5,7% di tengah sentimen buruk di awal tahun yakni serangan AS terhadap jenderal tertinggi Iran, Qasem Soleimani, pada 3 Januari yang dikhawatirkan memicu perang dunia ketiga dan pandemi virus corona sejak Maret 2020," ujar dia.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN