Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi Investasi. Foto: Goumbik (Pixabay)

Ilustrasi Investasi. Foto: Goumbik (Pixabay)

Mirae Teratas, Geser Mandiri Sekuritas

Minggu, 27 September 2020 | 20:52 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menempati posisi teratas sebagai broker dengan nilai transaksi perdagangan saham terbesar sepanjang tahun berjalan atau hingga 25 September 2020. Perseroan menggeser posisi PT Mandiri Sekuritas yang sebelumnya merajai pangsa pasar.

Nilai transaksi perdagangan saham yang dicatatkan Mirae mencapai Rp 227,12 triliun selama periode 1 Januari-25 September 2020. Nilai tersebut melampaui jumlah transaksi perdagangan saham yang dibukukan Mandiri Sekuritas sebanyak Rp 227,08 triliun. Hal tersebut membuat pangsa pasar dua broker ini sama-sama sebesar 7,98%.

Chief Executive Officer (CEO) Mirae Asset Sekuritas Indonesia Taye Shim mengatakan, pangsa pasar Mirae dalam nilai transaksi telah meningkat signifikan dibanding akhir tahun 2019 yang sebesar 4,64%. Ketika itu, posisi tersebut merupakan kedua terbesar setelah Mandiri Sekuritas yang sebesar 7,48%. Sementara, tiga sekuritas lain yang masuk lima besar per akhir 2019 adalah CGS-CIMB Sekuritas dengan pangsa pasar 4,42%, UBS Sekuritas 4,26%, dan Morgan Stanley Sekuritas 3,87%.

“Penggerak utama di balik nilai transaksi Mirae adalah investor ritel kami. Selama pandemi Covid-19, investor ritel menjadi investor paling aktif di pasar modal Indonesia,” jelas dia kepada Investor Daily, Minggu (27/9).

Taye menegaskan, penurunan pasar saham pada awal tahun menjadi pintu masuk yang menarik bagi investor ritel. Kini, pihaknya tidak lagi percaya investor ritel berinvestasi hanya mengandalkan firasat. Hal ini lantaran investor ritel punya akses ke informasi yang berkualitas untuk membuat keputusan.

Kondisi tersebut, kata dia, berbeda dengan krisis keuangan 2008, dimana investor ritel tidak menikmati bullish pasar saham selama satu dekade. Pasalnya, setelah 2008, investor ritel belum banyak memiliki akses ke informasi berkualitas karena terbatasnya saluran bertukar pesan. Seperti diketahui, ketika itu, aplikasi chat untuk bertukar pesan melalui smartphone hanya dikuasai oleh BlackBerry Messanger.

“Sekarang, kita menggunakan grup WhatsApp, Youtube, Blog serta saluran media digital lain bagi investor ritel. Hal itulah yang membuat kami yakin pasar digerakkan yang oleh investor ritel ini kemungkinan bertahan dalam jangka panjang,” jelas dia.

Adapun berdasarkan data internal Mirae, sebanyak delapan broker lain yang masuk daftar 10 sekuritas dengan nilai transaksi saham terbesar hingga 25 September, antara lain Credit Suisse dan UBS Sekuritas dengan pangsa pasar masing-masing 5%. Lalu, Maybank Kim Eng 4,92%, CGS-CIMB Sekuritas 4,79%, Indo Premier Sekuritas 4,51%, CLSA Sekuritas 4,21%, Macquarie Sekuritas 4,20%, dan Morgan Stanley 3,87%.

Investor Lokal

Secara terpisah, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Efek Indonesia (BEI) Laksono Widodo percaya investor lokal berperan dalam menjaga pasar saham supaya tidak tertekan terlalu dalam saat pandemi Covid-19. “Kami melihat investor domestik ritel sebanyak penyelamat,” ujar dia.

Jumlah investor di Tanah Air telah mencapai 3,13 juta single investor identification (SID) per akhir Agustus 2020, naik 26,2% dibanding posisi akhir tahun lalu 2,48 SID. Dari total investor tersebut, sebanyak 1,31 juta SID adalah investor saham.

Investor domestik dinilai menjadi penggerak saat investor asing terus-menerus melakukan aksi jual bersih (net sell). Hingga 25 September 2020, nilai net sell asing mencapai Rp 42,17 triliun. Selama September ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun nampak lebih volatile dibanding Agustus lalu.

Seperti diketahui, penurunan IHSG paling dratis terjadi selama Maret 2020 yang negatif 16,76%. Namun, IHSG kembali bangkit pada April dengan penguatan bulanan 3,91%, dan terus menguat 0,79% selama Mei. Sementara pada Juni, IHSG mampu bertumbuh 3,19%, dan naik 4,98% pada Juli, kemudian menguat 1,73% selama Agustus.

Sebelumnya, Laksono mengatakan, pandemi Covid-19 yang masih berlangsung tetap membuat BEI menerapkan kehati-hatian. BEI belum mengembalikaan seluruh sistem perdagangan bursa seperti kondisi sebelum pandemi. BEI terlebih dahulu memberlakukan sesi perdagangan pra pembuka atau pre-opening untuk saham-saham LQ45 mulai 7 September 2020.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN