Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu konter BRI Syariah. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Salah satu konter BRI Syariah. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Momentum Akumulasi Kembali Saham BRIS

Sabtu, 24 Oktober 2020 | 07:09 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Setelah pengumuman rencana penggabungan usaha (merger) bank syariah BUMN, harga saham PT BRI Syariah Tbk (BRIS) mengalami fluktuasi. Namun, dalam jangka panjang, saham BRIS diprediksi masih prospektif.

Pada awal pengumuman rencana merger, harga BRIS sempat mengalami auto rejection batas atas selama dua hari berturut-turut pada 13-14 Oktober 2020.

Sebelum perdagangan dihentikan sementara karena auto reject, harga BRIS melonjak 25% ke level Rp 1.405. Bahkan, pada penutupan perdagangan 20 Oktober 2020, harga BRIS melesat ke level Rp 1.500. Harga saham ini sudah naik 175,22% dibandingkan harga pada awal perseroan menjadi perusahaan terbuka, yakni Rp 545.

Sementara itu, perdagangan Kamis 22 Oktober 2020, harga BRIS terpangkas 6,81% ke posisi Rp 1.300.

PT BRI Syariah Tbk (BRIS). Foto: Perseroan.
PT BRI Syariah Tbk (BRIS). Foto: Perseroan.

Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Edwin Sebayang mengatakan, kejatuhan harga BRIS saat ini merupakan kesempatan untuk melakukan pembelian atas saham tersebut. Pasalnya, dalam jangka panjang, harga BRIS bisa meningkat tajam.

“Menurut perhitungan harga wajar dari BRIS setelah merger sekitar Rp 1900-an._ Ke depan, saya optimistis harga BRIS bisa mencapai minimal Rp 2800-an,” kata Edwin kepada Investor Daily, Kamis (22/10).

Dia menjelaskan, perhitungan harga tersebut dilakukan dengan melihat perkembangan harga saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang dahulu juga merupakan merger empat bank. Setelah Bank Mandiri melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/ IPO) saham pada 2003, harga saham BMRI di level Rp 675.Namun, saat ini sudah mencapai Rp 5.525.

Menurut Edwin, hal yang terjadi saat ini bisa dilihat secara teknikal. Kenaikan harga BRIS yang sangat cepat beberapa waktu lalu memunculkan beberapa gap pada harga Rp 1.125-1200.

“Kenaikan yang demikian cepat juga membuat BRIS menjadi jenuh beli (overbought), sehingga perlu cooling down. Tidak heran terjadi profit taking,” papar dia.

Secara terpisah, analis PT Panin Sekuritas William Hartanto mengatakan, pergerakan harga BRIS memang harus dilihat secara fundamental. Sebab, apabila dilihat secara teknikal, harga BRIS justru akan menurun ke level Rp 1.125.

Sebelumnya, analis PT Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas mengatakan, prospek harga BRIS pasti akan jauh lebih menarik dengan adanya rencana merger. Target harga secara pasti akan bisa dilihat setelah merger selesai dilakukan. Namun, saat ini terdapat potensi kenaikan 5-15% bagi investor yang akan melakukan trading buy.

Di lain pihak, Head of Investment PT Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe mengemukakan, sentimen merger bank syariah BUMN menjadi sentiment positif bagi BRI Syariah. Sebab, BRI Syariah adalah satu-satunya entitas yang berstatus perusahaan terbuka di antara bank-bank syariah yang digabungkan.

“Sentimen merger ini bisa membuat harga BRIS melesat di atas level Rp 1.500,” papar dia.

Aplikasi mobile banking BRIS Online
Aplikasi mobile banking BRIS Online

Sementara itu, analis PT Phillip Sekuritas Anugerah Zamzami mengatakan, pasar sudah bereaksi terlebih dahulu sebelum adanya kepastian merger. Namun, setelah merger dilakukan, prospek BRIS sebagai surviving entity tetap akan bagus. Aset dan nilai buku BRIS akan meningkat sehingga bisa ditransaksikan di PBV yang lebih tinggi.

Bagi investor yang sudah memiliki BRIS, menurut Zamzami, ini adalah momen untuk menikmati keuntungan. Sedangkan bagi yang belum memiliki BRIS sebaiknya mengoleksi ketika saham tersebut sedang terkoreksi.

Hingga semester I-2020, BRI Syariah mencatatkan kinerja yang positif. Laba bersih perseroan melesat 230% menjadi Rp 117,2 miliar. Aset perseroan tercatat sebesar Rp 49,6 triliun, meningkat 34,75% dibandingkan semester I-2019.

Direktur Utama BRI Syariah Ngatari mengatakan, pertumbuhan tersebut di atas rata-rata pertumbuhan industri perbankan nasional maupun syariah. Tidak hanya mencatat pertumbuhan laba, pembiayaan dan dana murah perseoran juga mengalami peningkatan yang signifikan.

Hingga semester I-2020, BRI Syariah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 37,4 triliun, tumbuh 55,92% secara tahunan. Pertumbuhan pembiayaan ditopang oleh segmen ritel, yakni UKM, mikro, dan konsumer.

Kapitalisasi Pasar

BRISyariah siap menerapkan new normal
BRISyariah siap menerapkan new normal

Merger PT BRI Syariah Tbk (BRIS), PT Bank Syariah Mandiri (BSM), dan PT BNI Syariah (BNIS) akan berdampak terhadap lonjakan modal dan aset. Penggabungan tersebut juga akan menaikkan kapitalisasi pasar BRI Syariah selaku entitas yang dipertahankan dalam aksi korporasi tersebut dan berdampak positif terhadap bank BUMN selaku pemegang saham.

RHB Sekuritas dalam risetnya mengungkapkan, merger tersebut akan direaliasikan dengan tukar saham berdasarkan valuasi masing-masing bank. Berdasarkan hasil penilai independen, nilai wajar saham BRIS Rp 781 per saham merefleksikan PBV 1,45 kali, nilai wajar saham BSM senilai Rp 27.322 per saham, dan nilai wajar saham BNIS Rp 2,73 juta per saham.

Berdasarkan perhitungan tersebut, setiap satu saham BSM akan ditukarkan dengan sebanyak 34,97 saham BRIS dan setiap satu saham BNIS setara dengan 3.500,2 saham BRIS.

Menurut RHB Sekuritas, dampak positif merger tiga bank syariah BUMN ini akan membuat BRI Syariah menjadi bank BUKU III dengan total modal inti berkisar Rp 19,1 triliun.

“Merger tersebut akan menjadikan BRI Syariah menjadi pemain penting di kelas bank BUKU III setelah merampungkan merger,” sebut sekuritas asing tersebut. Sedangkan berdasarakan total aset setelah merger, RHB Sekuritas menyebutkan bahwa BRI Syariah akan memiliki aset Rp 225 triliun atau menempati peringkat tujuh, menggeser PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN). Hal ini akan menjadikan BRI Syariah sebagai bank papan atas di Indonesia.

BRISyariah siap menerapkan new normal
BRISyariah siap menerapkan new normal

Sementara itu, Credit Suisse Securities Indonesia menyebutkan, merger tiga bank syariah BUMN tersebut akan berdampak terhadap lonjakan kapitalisasi pasar BRIS menjadi Rp 61,3 triliun, yang merefleksikan P/B sekitar 3 kali dan P/E 28 kali dibandingkan kapitalisasi pasar BRIS sebelum merger senilai Rp 14,6 triliun, yang merefleksikan P/B sekitar 2,8 kali dan P/E 62 kali. Nilai kapitalisasi pasar tersebut dihitung berdasarkan harga penutupan BRIS Rp 1.500 pada 20 Oktober 2020.

Refloating

BRISyariah siap menerapkan new normal
BRISyariah siap menerapkan new normal

Baru-baru ini, BRI Syariah, Bank Syariah Mandiri, dan BNI Syariah telah mengumumkan struktur kepemilikan saham bank hasil merger.

Dalam struktur tersebut, kepemilikan saham publik bakal tersisa 4,4%. Jumlah kepemilikan tersebut kurang dari ketentuan yang berlaku. Pasalnya, dalam Ketentuan V.1 Peraturan Bursa Nomor I-A disebutkan bahwa jumlah saham yang dimiliki oleh pemegang saham bukan pengendali dan bukan pemegang saham utama paling sedikit 50 juta saham dan paling sedikit 7,5% dari jumlah saham dalam modal disetor.

Menurut analis Phillip Sekuritas Anugerah Zamzami, untuk memenuhi kepemilikan publik yang minimal sebesar 7,5%, bank hasil merger harus melakukan refloating. “Dalam melakukan refloating ini, bank hasil merger memiliki waktu sekurangnya dua tahun sesuai ketentuan,” kata dia.

Salah satu mekanisme dari refloating ini bisa melalui private placement. Dengan mekanisme ini, kepemilikan pemegang saham lain kemungkinan akan terdilusi.

Private placement tidak akan mempengaruhi kinerja saham bank hasil merger. Namun, mekanisme ini bisa melindungi investor minoritas dan meningkatkan volume perdagangan saham.

Secara terpisah, analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas mengungkapkan, dengan rendahnya tingkat kepemilikan publik, bank hasil merger harus kembali menjual sahamnya ke publik.

Menurut Sukarno, penjualan saham tersebut bisa mempengaruhi harga saham apabila dilakukan di pasar reguler. “Tapi kalau tidak melalui pasar regular tidak akan berdampak ke harga saham,” ujar dia. (hut)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN