Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Foto ilustrasi: DEFRIZAL.

Foto ilustrasi: DEFRIZAL.

MUFG dan Indonesia Eximbank Danai Timah US$ 73,5 Juta

Farid Firdaus, Rabu, 15 April 2020 | 20:38 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Timah Tbk (TINS) meraih pinjaman senilai US$ 73,5 juta untuk kebutuhan ekspansi proyek TSL Furnace Ausmelt di Muntok, Bangka Belitung. Rinciannya, sebanyak US$ 32 juta dari MUFG Bank Ltd dan US$ 41,5 juta dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (Indonesia Eximbank).

Hal tersebut terungkap dalam laporan keuangan Timah yang dipublikasikan, Rabu (15/4). Penandatanganan perjanjian pinjaman dilakukan pada 5 Februari 2020. Pinjaman ini dikenakan bunga LIBOR plus margin tertentu dan akan jatuh tempo 120 bulan untuk pinjaman MUFG dan 96 bulan utuk pinjaman Eximbank sejak tanggal perjanjian.

Sementara itu, Timah juga memperpanjang fasilitas modal kerja dengan beberapa bank yang semula jatuh tempo pada 2020. Dalam daftar utang yang jatuh tempo 2020, terdapat pinjaman berdominasi mata uang asing senilai US$ 240 juta yang berasal dari Bank Mandiri cabang Eropa dan Hong Kong. Jatuh tempo bervariasi antara Februari, Mei, dan Juni 2020. Selain itu, PT Bank Syariah Mandiri turut tercatat sebagai kreditur Timah.

Adapun Timah memiliki fasilitas pinjaman dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) senilai Rp 1,5 triliun yang akan jatuh tempo pada 28 Juli 2020 dengan tingkat suku bunga 7,7%. Kreditur besar perseroan lainnya adalah PT Bank BTPN Tbk (BTPN) dengan nilai pinjaman Rp 1 triliun yang jatuh tempo 30 November 2020 dengan tingkat suku bunga 7,98%-8,08%.

Sebagai informasi, kreditur Timah lainnya yaitu DBS, CIMB, Bank Permata, BNI, BNI Syariah, BRI, MUFG, dan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). Secara total, pinjaman jangka pendek Timah tercatat mencapai Rp 8,79 triliun.

Per 31 Desember 2019, manajemen Timah menyatakan tidak memenuhi beberapa batasan-batasan yang diwajibkan dalam perjanjian pinjaman. Kemudian, perseroan akhirnya mendapatkan pembebasan persyaratan dari para kreditur.

“Pembebasan persyaratan dinyatakan dalam surat pengampunan formal yang diterima pada Desember 2019, Januari, Februari, Maret, dan April 2020, terkecuali surat pemebebasan dari SMI,” ungkap manajemen dalam laporan keuangannya.

Sementara itu, Timah membukukan pendapatan sebesar Rp 19,3 triliun pada 2019, melonjak 75,13% dari pendapatan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 11,02 triliun. Penjualan perseroan ditopang oleh kenaikan penjualan logam timah dari Rp 9,74 triliun menjadi Rp 17,72 triliun pada tahun 2019.

Pendapatan dari tin solder berkontribusi sebanyak Rp 381,71 miliar, tin chemical sebanyak Rp 335,02 miliar, pendapatan dari aluminium Rp 316,23 miliar, dan pendapatan bisnis rumah sakit Rp 222,37 miliar, bisnis real estat Rp 210,84 miliar, penjualan nikel Rp 74,00 miliar, jasa galangan kapal Rp 36,44 miliar, dan lain-lain sebesar Rp 178 juta.

Kenaikan tersebut juga diiringi beban pendapatan usaha Timah yang melonjak 82,79% menjadi Rp 18,17 triliun dari beban pendapatan usaha 2018 Rp 9,94 triliun. Di sisi lain, beban umum dan administrasi juga naik menjadi Rp 1,05 triliun pada 2019 dari tahun sebelumnya hanya Rp 829,35 miliar. Hal ini membuat perseroan menanggung rugi bersih Rp 611,28 miliar, berbanding terbalik saat 2018 ketika perseroan mengantongi laba bersih Rp 132,29 miliar.

Manajemen Timah mencatat, terjadi penurunan harga timah yang signifikan berserta penurunan ekonomi sebagai dampak dari virus corona (Covid-19). Penurunan harga timah tersebut akan berdampak signifikan terhadap nilai persedian timah beserta profitabilitas perseroan lantaran harga spot di akhir 2019 telah digunakan sebagai penentuan nilai realisasi neto dari sebagaian persedian timah lancar. Selain itu, hal tersebut juga akan berdampak terhadap pemulihan aset non-keuangan.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN