Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi investasi. Foto: Nattanan Kanchanaprat (Pixabay)

Ilustrasi investasi. Foto: Nattanan Kanchanaprat (Pixabay)

Musim Panen Investasi Hijau

Jumat, 28 Januari 2022 | 13:54 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Baru dua bulan menanam modal, Widhi sudah mulai panen. Saldo rekeningnya terus bertambah berturut-turut pada 10 Januari 2022, dan 10 Desember 2021. Ini adalah buah dari produk investasi hijau, Green Sukuk ST008, yang dibelinya November lalu.

Widhi menaruh Rp 5 juta pada instrumen investasi yang dikeluarkan pemerintah Indonesia itu. Kupon obligasi alias bunga berfluktuasi, minimal 4,8% per tahun, yang ditransfer ke rekening pemilik setiap tanggal 10, mulai Desember 2021 hingga November 2023 nanti.

Pria 45 tahun ini bukanlah aktivis di bidang lingkungan hidup, atau pegiat pecinta alam. Tapi, ia mempertimbangkan faktor pelestarian bumi (environment social and governance/ESG) dalam berinvestasi. Alhasil, ketika seorang karib memperkenalkannya pada Green Sukuk ST008, yang saat itu baru dirilis Kementerian Keuangan, ia pun mengangguk. "Cocok dengan karakter saya,” ujarnya, akhir Desember 2021 lalu. Ia beralasan, “Ada aspek lingkungannya.”

Green Sukuk Ritel - Sukuk Tabungan adalah obligasi ritel syariah berbasis lingkungan yang diluncurkan pemerintah Indonesia. Melalui produk ini, pemerintah berkomitmen mengembangkan pasar keuangan syariah, sekaligus mengatasi perubahan iklim. Pemerintah mengumpulkan dana publik untuk membiayai proyek ramah lingkungan di dua sektor, yakni transportasi berkelanjutan dan ketahanan terhadap perubahan iklim.

Baca juga: COP26 Momentum Indonesia Terima Peluang Investasi Hijau

Istilah investasi hijau sebenarnya telah dikenal oleh para pelaku pasar modal. Sayang, belum banyak yang tertarik menyentuh, apalagi menekuninya. Jajak pendapat online yang disebar ke kalangan investor –terutama di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) serta beberapa daerah lain— menunjukkan minimnya kepedulian terhadap perubahan iklim. 

Dari 56 responden yang mengisi kuesioner virtual, lebih dari separuhnya mengaku sudah pernah mendengar tentang investasi berwawasan lingkungan. Meski hampir 70% narasumber menilai berinvestasi di instrumen investasi hijau adalah hal penting atau sangat penting, namun hanya 20,4% yang memiliki produk investasi jenis ini. 

Survei Pentingnya Investasi Berbasis ESG

Survei Investasi Berbasis ESG, Foto: Gita Rossiana/Investor Daily

Rupanya, faktor cuan yang lebih menjadi pertimbangan. Adapun investor yang benar-benar peduli pada pengembangan energi dan lingkungan yang bersih, bisa dihitung dengan jari. Salah satunya adalah Widhi.

Berbeda dengan Dessy, yang sebenarnya juga melek isu investasi hijau. Tapi, praktisi humas, 35 tahun ini menilai ESG bukanlah acuan utama investor ritel dalam berinvestasi, melainkan lebih dimaksudkan untuk meningkatkan brand awareness korporasi. "Aku fokusnya cuan, tidak peduli soal ESG," ia mengungkapkan. Sebab, menurut Dessy, produk investasi ESG return-nya tidak menarik.

Mengandalkan sebagian gaji yang disisihkan sebagai sumber dana investasi, Dessy lebih memilih emiten yang dia pahami. Meskipun emiten itu bergerak di bisnis batubara -- perusahaan yang dituding paling berkontribusi terhadap emisi karbon-- selama masih mencetak laba dan berkinerja moncer, akan tetap menjadi pilihannya untuk menaruh dana.

Baca juga: Perpres NEK Dorong Penurunan Emisi Karbon dan Tingkatkan Investasi Hijau

Investasi hijau dalam kacamata Dessy lebih sesuai bagi investor berorientasi jangka panjang. Produk yang cocok dengan karakteristik investor seperti ini adalah emiten saham yang memiliki proyek energi berkelanjutan seperti kendaraan listrik, atau pembangkit listrik dengan energi ramah lingkungan. Sebaliknya, instrumen jenis ini tidak pas seuntuk investor ritel yang berpikir bisa mendulang cuan dalam semalam.

Raymond, yang telah 10 tahun lebih berinvestasi di pasar saham, memiliki pandangan yang nyaris serupa dengan Dessy. "Invest in what you know and what you love," terang dia. Dengan prinsip ini, Raymond meyakini investor bisa memilih produk investasi yang sejalan dengan tujuannya, bukan hanya berpatokan dengan ESG.

Potensi Besar

Antusiasme Widhi tidak bisa mengimbangi fakta tentang fenomena investasi hijau di Asia, terutama Indonesia. Berdasarkan laporan Global Sustainable Investing Asset (GSIA), total investasi aset berkelanjutan di seluruh dunia mencapai US$ 33,6 miliar (Rp 481 triliun lebih), pada 2018. Tapi, dari jumlah sebesar itu, negara-negara di Asia --kecuali Jepang-- hanya menyumbang secuil.

Tabel Investasi Berkelanjutan di Dunia

Global Sustainable Investing Asset, Foto: Gita Rossiana/Investor Daily

Negara-negara di Asia bukan tidak peduli dengan isu yang sedang ramai diperbincangkan ini. Pemerintah Indonesia bahkan sudah mengeluarkan produk investasi ESG khusus untuk investor ritel, yang pertama di dunia. Produk itu adalah Green Sukuk Ritel ST006 yang diterbitkan pada 2019 lalu. Dengan tingkat imbalan 6,75%, produk ini menyedot Rp 1,46 triliun dari 7.735 orang investor.

Terlihat besar, namun ternyata dana yang terkumpul dan jumlah investor Green Sukuk Ritel ST006 tergolong kecil. Sejumlah mitra distribusi (midis) mengungkapkan, rendahnya perolehan ST006 karena banyak hal, seperti dari frekuensi penerbitan, waktu sosialisasi yang pendek, kondisi perekonomian, dan yang utama basis investor yang belum berkembang. 

Pemerintah menyadari kelemahan produk ST006. Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman menjelaskan, pada 2019, pemerintah menerbitkan surat berharga negara (SBN) ritel hampir setiap bulan. Sementara, penerbitan ST006 dilakukan pada kesempatan terakhir, 2019. "Portofolio investasi investor sudah banyak tersedot pada SBN ritel sebelumnya," kata dia.

Baca juga: Dorong Barter Keringanan Utang dengan Investasi Hijau

Selain itu, kupon ST006 lebih rendah dari sukuk tabungan (ST) seri sebelumnya sehingga minat investor sedikit berkurang. Akan tetapi, menurut Luky, realisasi penjualan ST006 sebesar Rp 1,46 triliun tersebut sudah melebihi target penjualan seluruh mitra distribusi ST006 sebesar Rp 1,3 triliun.

Meski begitu, pemerintah tidak kapok untuk menerbitkan produk investasi hijau berikutnya. Ada proyek transportasi berkelanjutan (sustainable transportation) dan ketahanan terhadap perubahan iklim (resilience to climate change) yang menanti dibiayai.

Luky mengungkapkan, pemerintah juga merancang tujuh strategi untuk menggenjot penjualan Green Sukuk Ritel. Pemerintah akan mengeksplorasi media sosial. Ada kampanye melalui video challenge reels Instagram dan Tiktok serta edukasi melalui media sosial yang didesain untuk menyedot kalangan milenial.

Tahun-tahun berikutnya, kinerja produk investasi hijau meningkat. Green Sukuk Ritel ST007 pada 2020 berhasil menggaet 16.992 investor dengan penjualan Rp 5,42 triliun. Sedangkan Green Sukuk Ritel ST008 sukses membetot 14.337 investor dengan perolehan Rp 5 triliun.

Namun, pencapaian itu belum seberapa, mengingat potensi investor ritel yang besar. Hingga akhir 2021, jumlah investor pasar modal mencapai 7,47 juta orang yang meliputi investor reksadana (6,82 juta orang), investor surat berharga negara (610,82 ribu orang), dan investor saham (3,4 juta orang).

Editor : Gita Rossiana (gita.rossiana@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN