Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kebun Sawit milik PT Astra Agro Lestari Tbk. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Kebun Sawit milik PT Astra Agro Lestari Tbk. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Musim Panen Laba Astra Agro Hingga 2021

Sabtu, 31 Oktober 2020 | 07:07 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Lonjakan laba bersih PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) hingga kuartal III-2020 memperkuat optimisme berlanjutnya pertumbuhan kinerja keuangan perseroan pada 2021. Kenaikan rata-rata harga jual minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO) dan penurunan pajak diperkirakan menjadi faktor utama penopang kinerja Astra Agro.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Andreas Kenny mengungkapkan, penurunan pajak dari 25% menjadi 22% ditambah kenaikan ratarata harga jual CPO menjadi pendongkrak kinerja keuangan Astra Agro hingga September 2020.

“Kuatnya pertumbuhan keuntungan perseroan hingga September mendorong kami untuk merevisi naik target laba bersih perseroan tahun 2020 dan 2021,” tulis dia dalam risetnya, baru-baru ini.

Astra Agro membukukan lonjakan laba bersih 424% menjadi Rp 583 miliar hingga kuartal III-2020 dibandingkan periode sama tahun lalu senilai Rp 111 miliar. Sedangkan pendapatan perseroan naik 7,6% dari Rp 12,38 triliun menjadi Rp 13,32 triliun.

Kebun sawit. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana
Kebun sawit. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Pencapaian pendapatan dan laba bersih tersebut setara dengan 66,2% dan 87,1% dari target Danareksa Sekuritas serta setara dengan 71,5% dan 71,5% dari konsensus analis.

Pertumbuhan yang signifikan tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk merevisi naik target laba bersih Astra Agro tahun ini dari Rp 669 miliar menjadi Rp 901 miliar. Sedangkan proyeksi pendapatan dipertahankan sebesar Rp 20,12 triliun.

Begitu juga dengan perkiraan laba bersih Astra Agro tahun 2021 yang direvisi naik dari Rp 785 miliar menjadi Rp 1,05 triliun. Sedangkan perkiraan pendapatan pada 2021 dipertahankan sebesar Rp 21,26 triliun. Tahun lalu, perseroan membukukan pendapatan dan laba bersih masing-masing Rp 17,45 triliun dan Rp 211 miliar.

Danareksa Sekuritas juga merevisi naik target harga saham AALI dari Rp 12.500 menjadi Rp 13.000 dengan rekomendasi beli. Target tersebut menggambarkan keyakinan bahwa harga jual CPO akan tetap berada di atas MYR 2.700 per ton hingga akhir 2020 dan La Nina yang diperkirakan berdampak terhadap penurunan minyak nabati di Brasil  dan Argentina.

Sementara itu, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan mengungkapkan, Astra Agro menunjukkan kinerja operasional yang rendah hingga September 2020. Hal itu ditunjukkan oleh penurunan produksi tandan buah segar (TBS) sebesar 10,1% menjadi 3,39 juta ton.

“Kami memperkirakan penurunan produksi TBS akibat El Nino tahun lalu berimbas terhadap kinerja kebun perseroan tahun ini,” tulis dia dalam risetnya. Penurunan produksi TBS diikuti oleh pelemahan produksi CPO sekitar 17,4% menjadi 1,03 juta ton. Produksi CPO tersebut merepresentasikan sekitar 61,9% dari total target produksi CPO sepanjang tahun ini. Meski produksi turun, perseroan berhasil mendongkrak pendapatan yang didukung oleh kenaikan rata-rata harga jual yang juga mendorong kenaikan laba bersih perseroan.

TBS Sawit. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana
TBS Sawit. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Walaupun laba bersih Astra Agro tumbuh pesat hingga September 2020, Mirae Asset Sekuritas tetap mempertahankan target kinerja keuangan Astra Agro tahun 2020 dan 2021. Begitu juga dengan target harga saham AALI dipertahankan Rp 13.400 dengan rekomendasi beli. Target tersebut merefleksikan perkiraan PBV tahun 2020-2021 sekitar satu kali.

Mirae menargetkan peningkatan laba bersih Astra Agro menjadi Rp 712 miliar tahun ini dan diharapkan peningkatan berlanjut menjadi Rp 954 miliar pada 2021, dibandingkan pencapaian tahun lalu Rp 211 miliar. Pendapatan perseroan juga diharapkan naik menjadi Rp 15,09 triliun pada 2020 dan menjadi Rp 16,34 triliun pada 2021, dibandingkan tahun lalu senilai Rp 17,45 triliun.

Sebelumnya, Presiden Direktur Astra Agro Lestari, Santosa mengatakan bahwa perseroan akan merevisi belanja modal atau capital expenditure (capex) tahun ini dari rencana semula Rp 1,3 triliun. Hal ini dilakukan karena kondisi bisnis yang dipengaruhi oleh pandemic Covid-19.

Rencana revisi belanja tersebut dilakukan karena perseroan telah melakukan evaluasi ulang untuk menunda capex yang diperkirakan belum esensial.

“Kami mengantisipasi apabila kondisinya semakin memburuk, maka likuiditas dan cash kami bisa cukup untuk mendanai operasional, seperti membayar gaji karyawan,” katanya.

CEO Astra Agro Lestari Santosa
CEO Astra Agro Lestari Santosa

Kemudian, revisi capex tersebut juga dilakukan karena perseroan tengah mengambil kebijakan untuk melakukan pengetatan akses keluar masuk kebun. Perseroan melakukan screening terhadap pekerja yang masuk ke dalam perkebunan, sehingga aktivitas yang non-esensial juga tidak bisa berjalan dengan baik.

Santosa menambahkan, belanja modal yang masih normal dilakukan adalah untuk tanaman yang belum menghasilkan, sebab biaya pemeliharaan dan perawatannya sudah dikapitalisasi. Capex yang dianggarkan untuk aktivitas ini sekitar Rp 700-750 miliar. “Dengan demikian, capex tahun ini sekitar Rp 1 triliun atau Rp 200-300 miliar lebih rendah dari rencana yang telah disampaikan,” ujar dia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN