Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dari kiri ke kanan, Direktur Komersial BeritaSatu media Holdings (BSMH) Arga Lazuardi, Direktur Pemberitaan BSMH Primus Dorimulu, President Director Mustika Ratu Bingar Egidius Situmorang, Director of Business Development and Innovation Mustika Ratu Kusuma Anjani, dan CFO Mustika Ratu Jodi Suryokusumo berfoto saat kunjungan media ke BeritaSatu di Jakarta, Selasa (25/1/2022). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Dari kiri ke kanan, Direktur Komersial BeritaSatu media Holdings (BSMH) Arga Lazuardi, Direktur Pemberitaan BSMH Primus Dorimulu, President Director Mustika Ratu Bingar Egidius Situmorang, Director of Business Development and Innovation Mustika Ratu Kusuma Anjani, dan CFO Mustika Ratu Jodi Suryokusumo berfoto saat kunjungan media ke BeritaSatu di Jakarta, Selasa (25/1/2022). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Mustika Ratu Harapkan Insentif Pengembangan Industri Ekstraksi

Selasa, 25 Januari 2022 | 22:57 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - PT Mustika Ratu Tbk (MRAT) mengharapkan adanya insentif dari pemerintah untuk pengembangan industri ekstraksi dan bahan pendukung industri kosmetika di sisi hulu. Investasi dan insentif tersebut dinilai bakal efektif untuk menekan impor bahan baku.

Presiden Direktur PT Mustika Ratu Tbk Bingar Egidius Situmorang mengungkapkan, impor yang terjadi di industri kosmetika dipicu oleh minimnya perusahaan dalam negeri yang berinvestasi di industri ekstraksi. Selain itu, tidak adanya insentif dari pemerintah juga mendorong tingginya impor bahan baku.

Menurut Egi, para pelaku usaha beranggapan, dengan impor, pemenuhan terhadap kebutuhan bahan baku menjadi lebih mudah dibanding mengandalkan bahan baku lokal. Sementara, pasokan bahan baku dalam negeri juga belum bisa optimal akibat minimnya insentif dan pembinaan dari pemerintah kepada para petani.

“Itulah beberapa yang kita lihat menjadi hambatan dalam memaksimalkan potensi alam Indonesia, sehingga banyak perusahaan yang mengambil jalan pintas dengan mengimpor bahan yang sudah jadi. Karena untuk indutri ekstraksi ini perlu scale. Jadi, kalau scale-nya tidak banyak, dan produknya dijual mahal, nanti tidak bisa bersaing dengan produk impor,” papar Egi dalam Media Visit di Kantor Beritasatu, Selasa (25/1).

President Director Mustika Ratu Bingar Egidius Situmorang saat kunjungan media ke BeritaSatu di Jakarta, Selasa (25/1/2022). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
President Director Mustika Ratu Bingar Egidius Situmorang saat kunjungan media ke BeritaSatu di Jakarta, Selasa (25/1/2022). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Karena itu, Egi memandang, investasi dan insentif di industri ekstraksi harus menjadi gerakan nasional. Langkah ini diharapkan dapat meredam masuknya bahan baku impor.

Diakui Egi, saat ini sudah ada perusahaan yang mulai mengembangkan industri ekstraksi. Meski demikian, gerakan tersebut perlu diperbesar lagi. Termasuk, dengan menggandeng BUMN untuk berkolaborasi bersama.

“Kita seharusnya bekerja sama, karena mustahil jika hanya mengandalkan satu atau dua perusahaan. Tetapi harus sama-sama demi kepentingan negara untuk mengonversi bahan baku segar dari tanaman-tanaman di perkebunan, kemudian diproses menjadi ekstrak dan dicampur dengan bahan baku lain,” jelas dia.

Adapun Mustika Ratu sendiri telah menggunakan hampir semua bahan baku produksinya dari lokal. Terlebih, herbal yang Tingkat Komponen Dalam Negerinya (TKDN) mencapai 100%.

Ironisnya, industri obat-obatan di dalam negeri, masih mengandalkan 90% bahan bakunya dari impor. “Ini yang menyedihkan, dan kita baru menyadari hal ini saat pandemi. Indonesia sebagai negara kekayaan hayati, tapi bahan baku obatnya harus impor. Padahal, 70% bahan baku obat itu ada juga di Indonesia,” ungkap Egi.

Untuk itu, kata dia, ekosistem industri ekstraksi ini perlu dibangun dari hulu hingga hilir, serta adanya insentif kepada para pelaku usaha agar bersedia berinvestasi di sektor ini. Sehingga, akan terjadi kerja sama strategis antara para pelaku industri dan para petani untuk melakukan pembinaan.

“Kalau industri ekstraksi sudah dibuka di Indonesia, berarti suplai bahan baku harus konsisten dengan kualitas dan jumlah yang memenuhi kebutuhan,” tutur Egi.

Dia menegaskan, hal ini penting untuk didorong, karena akan berdampak positif terhadap ekosistem perekenomian nasional. Dampak lainnya bukan hanya bagi industri, tetapi juga meningkatkan minat para petani untuk kemudian menanam bahan baku yang dibutuhkan produk-produk industri, seperti jahe, kunyit, sambiloto, dan lain-lain. “Harapannya, para petani juga dapat bertani dengan hasil yang nilainya jauh lebih tinggi,” tutup dia.   

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN