Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pekerja melintasi layar pergerakan saham di gedung BEI, Jakarta, belum lama ini.  Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Pekerja melintasi layar pergerakan saham di gedung BEI, Jakarta, belum lama ini. Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Naik-Turunnya Saham IPO Terkait Kinerja Emiten

Gita Rossiana/Thereis Love Kalla, Kamis, 20 Februari 2020 | 15:35 WIB

JAKARTA, investor.idAssociate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus berpendapat meningkatnya dan menurunnya saham yang melakukan IPO itu wajar saja. Hal ini dinilai dari kinerja emiten tersebut.

“Ini wajar saja, kita ambil contoh PT Indosat Tbk (ISAT). Pada waktu itu pihaknya (Indosat) mengatakan akan melakukan aksi korporasi yakni mengakuisisi suatu hal, itu dari pagi saham Indosat dihajar naik ke atas. Namun ketika melakukan konperensi pers, pihaknya (Indosat) mengumumkan pembatalan akuisisi sehingga harganya turun, di sini ada kekecewaan, tapi ini sah saja,” ujar dia kepada Investor Daily di Jakarta, Rabu (19/2).

Head of Fixed Income Division PT Indomitra Securities Maximilianus Nico Demus. Foto: id.linkedIn
Head of Fixed Income Division PT Indomitra Securities Maximilianus Nico Demus. Foto: id.linkedIn

Nico menambahkan, pihak bursa juga mendorong berbagai usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal ini dinilai dapat membantu para investor yang memiliki tabungan kecil namun ingin berinvestasi di pasar modal. Dengan demikian, investor tidak hanya terpaku saja dengan saham besar, dan dapat memilih saham kecil.

Mengenai saham gorengan, Nico menilai saham gorengan itu tidak ada, ini hanya ekspektasi para pelaku pasar. “Contohnya saat publik membeli saham TLKM dan BBRI, mereka meyakini bahwa kinerja emiten tersebut baik, ekspektasi mereka beli dengan harapan harganya akan naik,” ujar dia.

Sementara itu, Direktur Utama Mandiri Sekuritas Dannif Danusaputro mengatakan, dari sisi penjamin emisi, pihaknya melihat saham IPO yang terkena ARA menunjukkan adanya permintaan yang lebih dari investor di pasar perdana. Saham yang terkena ARA dinilai wajar apabila fundamental emiten tersebut bagus dan meyakinkan.

Dannif enggan berkomentar jauh terkait ulah para bandar saham yang sengaja mengerek saham-saham IPO. Pihaknya lebih menekankan supaya investor mencermati fundamental dan prospek para emiten pendatang baru.

Saat ini, Dannif menilai calon emiten cenderung wait and see dalam mengeksekusi IPO tahun ini karena sejumlah sentimen, seperti virus korona. Di sisi lain, dia juga menegaskan, aksi IPO seperti dari kelompok usaha BUMN masih dimatangkan.

“Beberapa anak usaha BUMN memang ada yang berniat IPO, tapi belum pada tahap final,” jelas dia, di Jakarta, Rabu (19/2).

Sejumlah emiten yang berniat menggalang dana IPO di atas Rp 1 triliun diperkirakan bakal menemukan tantangan pada semester I-2020. Namun, kata Dannif, permintaan investor terhadap saham IPO tidak bisa dilihat dari kasus per kasus.

“Mungkin ada investor institusi yang mempertimbangkan kondisi pasar dalam menempatkan investasi mereka. Tapi kalau untuk investor ritel, kami menilai kondisi saat ini bisa jadi momentum untuk berinvestasi saham secara jangka panjang,” ujar dia.(rid/bil/jn)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN