Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang pegawai melintasi layar perdagangan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, belum lama ini. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Seorang pegawai melintasi layar perdagangan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, belum lama ini. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Nama-nama Baru dalam Daftar Perusahaan yang akan IPO

Farid Firdaus, Rabu, 18 September 2019 | 10:16 WIB

JAKARTA, investor.id – Sebanyak 22 perusahaan berencana melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham tahun ini. Dari jumlah tersebut, sebanyak 12 perusahaan bisa dibilang nama-nama baru yang selama ini belum terungkap ke publik.

Berdasarkan pipeline Bursa Efek Indonesia (BEI) per 17 September 2019, dua belas perusahaan itu antara lain PT Asia Sejahtera Mina, PT Singaraja Putra, PT Sinergi Inti Plastindo, PT Ginting Jaya Energi, dan PT Aneka Mineral Indonesia.

Selain itu, terdapat PT Palma Serasih, PT Mulia Boga Raya, PT Prima Globalindo Logistik, PT Cisadane Sawit Raya, PT Indo Bintang Mandiri, PT Repower Asia Indonesia, dan PT SAM Indonesia.

Sedangkan 10 perusahaan yang sebelumnya masuk dalam pipeline IPO per Agustus 2019 adalah PT Ifishdeco, PT Dana Brata Luhur, PT Itama Ranoraya, PT Trinitan Metals and Minerals, PT Optima Prima Metal Sinergi, PT Gaya Abadi Sempura, PT Nusantara Almazia, PT Gunung Raja Paksi, PT Alamanda Investama, dan PT Digital Mediatama Maxima.

Sementara itu, berdasarkan data PT Kustodian Efek Sentral Indonesia (KSEI), Nusantara Alamazia telah menetapkan harga IPO Rp 220 per saham. Perseroan melepas sebanyak 461,53 juta saham ke publik. Dengan demikian, perseroan bakal mengantongi dana segar Rp 101,53 miliar.

“Selain saham perdana, perseroan juga menawarkan waran dengan harga pelaksanaan Rp 680. Setelah mendapatkan pernyataan efektif 16 September, perseroan melangsungkan masa penawaran umum pada 17-18 September,” tulis KSEI dalam laporannya, Selasa (17/9).

Sesuai rencana, masa penjatahan akan dilakukan pada 20 September dan distribusi saham pada 24 September. Dengan begitu, perseroan bakal mencatatkan saham dan waran di BEI pada 25 September 2019.

Dana IPO

Berdasarkan catatan Investor Daily, sebanyak 37 emiten baru mengantongi dana senilai total Rp 11 triliun dari IPO saham sejak awal Januari hingga 23 September 2019 nanti. Sebanyak tiga emiten baru kompak mencatatkan saham perdananya pada pekan ini.

Setelah PT Bhakti Agung Propertindo Tbk (BAPI) yang listing pada Senin (16/9) dan PT Telefast Indonesia Tbk (TFIN) pada Selasa (17/9), selanjutnya adalah PT Gunung Raja Paksi Tbk pada Kamis (19/9).

Head of Financial PT UOB Kay Hian Sekuritas Nefo Handojo mengatakan, sebagai penjamin emisi tunggal IPO Gunung Raja Paksi, pihaknya mencatat terjadi kelebihan permintaan (oversubscribed) selama penawaran umum yang berlangsung pada 13-16 September 2019.

“Dari porsi penjatahan terpusat (pooling) saham yang ditawarkan kepada publik sebesar Rp 10 miliar, di UOB Kay Hian yang masuk tercatat lebih dari Rp 40 miliar. Jadi bisa dikatakan oversubscribed,” kata Nefo kepada Investor Daily.

Gunung Raja Paksi bersiap menjadi emiten ke-36 yang mencatatkan sahamnya di BEI tahun ini. Perseroan akan mengantongi dana sekitar Rp 1,03 triliun dari melepas 1,23 miliar saham pada harga Rp 840 per saham.

Semula, PT Kresna Sekuritas sempat tercatat menjadi penjamin emisi IPO perusahaan lembaran baja ini. Namun, Kresna memutuskan mundur sebelum masa penawaran umum berlangsung.

Dengan perolehan dana IPO Rp 1,03 triliun, otomatis Gunung Raja menjadi emiten kedua yang mengimpun dana IPO di atas Rp 1 triliun tahun ini. Tercatat, memang tak banyak emiten baru yang menggalang dana IPO jumbo sepanjang 2019, selain PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG Tbk (LIFE).

Dana yang diraih perusahaan asuransi milik Sinarmas Group tersebut pun bukan dana segar untuk perusahaan, melainkan sepenuhnya hasil divestasi saham yang dilakukan oleh PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA).

Jika dirata-rata, para emiten baru sepanjang tahun berjalan ini mayoritas menggalang dana pada kisaran Rp 100-200 miliar. Selain itu, merujuk data BEI, sampai saat ini bisa dikatakan bulan Juli menjadi puncak emiten melakukan listing. Sebanyak 15 listing saham terjadi kala itu. Sementara, pada Agustus, tidak terjadi satupun aksi pencatatan saham perdana.

Pekan depan, pencatatan saham akan dilakukan oleh PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk (OMPS). Lankah ini merupakan strategi perusahaan dalam memperkuat bisnis di bidang besi scrap yang berasal dari kapal bekas. Industri ini tergolong baru di Indonesia, namun memiliki potensi yang besar.

Seperti Optima Prima, tahun ini banyak emiten berskala kecil percaya diri menggelar IPO. BEI pun meyakini, emiten-emiten baru ini cenderung lebih terdiverisifkasi. Masuknya emiten berbagai skala juga menunjukkan bursa bukan hanya menjadi tempat eksklusif bagi emiten kelas kakap.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN