Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Timah di Pangkal Pinang

PT Timah di Pangkal Pinang

Nasib PT Timah Akibat Anjloknya Permintaan

Parluhutan Situmorang, Sabtu, 25 April 2020 | 11:07 WIB

JAKARTA, investor.id - Penurunan permintaan komoditas timah seiring pandemi Covid-19 bakal menekan performa keuangan PT Timah Tbk (TINS) tahun ini. Permintaan komoditas timah diperkirakan mulai pulih pada 2021.

Analis Danareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri mengungkapkan, pandemic Covid-19 telah berimbas terhadap kejatuhan rata-rata harga jual timah dalam beberapa bulan terakhir.

“Permintaan timah juga turun tajam di pasar global, seiring dengan pelemahan permintaan barang elektronik selama masa pandemi ini,” tulis Stefanus dalam risetnya, baru-baru ini.

Dia menegaskan, penurunan permintaan juga akibat penutupan sejumlah pabrik di Tiongkok beberapa bulan lalu, sehingga permintaan timah dari sejumlah pabrik elektronik turun drastis. Imbasnya adalah penurunan konsumsi timah global yang diproyeksikan berlanjut hingga akhir 2020.

“Kondisi tersebut diperkirakan menekan kinerja keuangan Timah sepanjang tahun ini. Sedangkan konsumsi timah diproyeksikan mulai kembali pulih tahun depan menuju kisaran US$ 18 ribu per ton dibandingkan perkiraan tahun ini sebesar US$ 16-17 ribu per ton,” jelasnya.

Timah batangan produksi PT Timah Tbk
Timah batangan produksi PT Timah Tbk

Meski demikian, Danareksa Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli saham TINS dengan target harga Rp 700. Target harga tersebut telah mempertimbangkan ekspektasi pulihnya pasar timah tahun depan. Target ini juga mengimplikasikan perkiraan PE tahun ini sekitar 59,9 kali dan PBV mencapai 0,8 kali. Target tersebut juga mempertimbangkan penurunan pendapatan Timah menjadi Rp 13,92 triliun tahun ini dibandingkan realisasi tahun lalu yang men- capai Rp 19,3 triliun.

Perseroan juga diharapkan kembali meraup laba bersih tahun ini dengan proyeksi Rp 87 miliar dibandingkan rugi bersih tahun lalu yang mencapai Rp 611 miliar.

Tahun lalu, Timah membukukan lonjakan pendapatan sebesar 75,13% menjadi Rp 19,3 triliun dibandingkan tahun sebelumnya Rp 11,02 triliun. Lonjakan tersebut didukung oleh kenaikan penjualan logam timah dari Rp 9,74 triliun menjadi Rp 17,72 triliun.

Peningkatan tersebut juga membuat beban pendapatan usaha Timah melonjak 82,79% menjadi Rp 18,17 triliun dari beban pendapatan usaha 2018 yang sebesar Rp 9,94 triliun.

Beban umum dan administrasi juga naik dari Rp 829,35 miliar menjadi Rp 1,05 triliun pada 2019. Hal tersebut membuat perseroan menanggung rugi bersih Rp 611,28 miliar, berbanding terbalik saat 2018 ketika perseroan mengantongi laba bersih Rp 132,29 miliar.

Sebelumnya, Timah meraih pinjaman senilai US$ 73,5 juta untuk kebutuhan ekspansi proyek TSL Furnace Ausmelt di Muntok, Bangka Belitung. Rinciannya sebanyak US$ 32 juta dari MUFG Bank Ltd, dan US$ 41,5 juta dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (Indonesia Eximbank). Hal tersebut terungkap dalam laporan keuangan Timah yang dipublikasikan.

Timah batangan produksi PT Timah Tbk
Timah batangan produksi PT Timah Tbk

Penandatanganan perjanjian pinjaman dilakukan pada 5 Februari 2020. Pinjaman ini dikenakan bunga LIBOR plus margin tertentu dan akan jatuh tempo 120 bulan untuk pinjaman MUFG dan 96 bulan utuk pinjaman Eximbank sejak tanggal perjanjian.

Sementara itu, Timah juga memperpanjang fasilitas modal kerja dengan beberapa bank yang semula jatuh tempo pada 2020. Dalam daftar utang yang jatuh tempo 2020, terdapat pinjaman berdominasi mata uang asing senilai US$ 240 juta yang berasal dari Bank Mandiri cabang Eropa dan Hong Kong. Jatuh tempo bervariasi antara Februari, Mei, dan Juni 2020. Selain itu, PT Bank Syariah Mandiri turut tercatat sebagai kreditur Timah.

Adapun Timah memiliki fasilitas pinjaman dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) senilai Rp 1,5 triliun yang akan jatuh tempo pada 28 Juli 2020 dengan tingkat suku bunga 7,7%. Kreditur besar perseroan lainnya adalah PT BTPN Tbk (BTPN) dengan nilai pinjaman Rp 1 triliun yang jatuh tempo 30 November 2020 dengan tingkat suku bunga 7,98-8,08%.

Sebagai informasi, kreditur Timah lainnya yaitu DBS, CIMB, Bank Permata, BNI, BNI Syariah, BRI, MUFG, dan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). Secara total, pinjaman jangka pendek Timah tercatat mencapai Rp 8,79 triliun. Per 31 Desember 2019, manajemen Timah menyatakan tidak memenuhi beberapa batasan-batasan yang diwajibkan dalam perjanjian pinjaman.

Kemudian, perseroan akhirnya mendapatkan pembebasan persyaratan dari para kreditur. Manajemen Timah mencatat, terjadi penurunan harga timah yang signifikan berserta penurunan ekonomi sebagai dampak dari pandemi Covid-19.

Penurunan harga timah tersebut akan berdampak signifikan terhadap nilai persedian timah beserta profitabilitas perseroan lantaran harga spot di akhir 2019 telah digunakan sebagai penentuan nilai realisasi neto dari sebagaian persedian timah lancar.

Selain itu, hal tersebut juga akan berdampak terhadap pemulihan aset non-keuangan. “Manajemen sedang menganalisasi dampak penurunan harga timah dan penurunan ekonomi terhadap bisnis. Covid-19 dinilai berpotensi menurunkan permintaan dan harga timah karena ekpektasi pertumbuhan ekonomi dunia yang rendah,” tulis manajemen.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN