Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investor melihat harga saham via telepon genggam. (BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal)

Investor melihat harga saham via telepon genggam. (BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal)

Net Buy Rp 72,1 T, Berikut Menu Saham yang Paling Banyak Disantap Asing

Kamis, 5 Mei 2022 | 22:14 WIB
Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Hanya dalam tempo empat bulan atau hingga 28 April 2022, investor asing membukukan transaksi beli bersih (net buy) saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebesar Rp 72,1 triliun. Jumlah tersebut bahkan telah melampaui net buy sepanjang 2021 yang senilai Rp 38 triliun.

Derasnya aliran dana asing ke bursa saham Indonesia terjadi seiring peningkatan risiko ketidakpastian global. Hal itu mendorong capital inflow ke pasar saham negara berkembang yang memiliki pertumbuhan dan inflasi terjaga, salah satunya Indonesia.

Berdasarkan data RTI, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) adalah saham yang paling banyak dibeli asing selama empat bulan ini. Net buy asing terhadap BBRI di pasar reguler mencapai Rp 10,7 triliun. Harga BBRI pun telah melesat 18,49%.

Baca juga: Banyak Saham Big Cap Bikin Investor Happy, Ini Daftarnya

Setelah itu, saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dengan net buy mencapai Rp 9,2 triliun, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebesar Rp 5,8 triliun, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp 5,4 triliun, dan saham PT Astra International Tbk (ASII) senilai Rp 3,5 triliun.

Harga TLKM hingga empat bulan ini melonjak 14,36%, BBNI melejit 36,67%, BBCA meningkat 11,3%, dan ASII naik 32,89%.

Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee menjelaskan, aliran dana asing mengalir deras ke sejumlah negara penghasil komoditas, termasuk Indonesia.

“Goldman Sachs dan JP Morgan bahkan menyebut negara yang paling bagus di Asia Tenggara adalah Indonesia, karena dipicu oleh komoditas yang tinggi. Itu baru didukung oleh faktor global, belum dari dalam negeri,” papar dia.

Baca juga: Hampir Semua Sektor Saham Pulih, Mau Tahu Juaranya?

Menurut Hans, dari dalam negeri datang dari data surplus perdagangan Indonesia yang berturut-turut mengalami kenaikan. Kemudian, pembukaan kegiatan ekonomi dan penanganan kasus Covid-19 di dalam negeri yang sudah bagus. Alhasil, perekonomian tidak terlalu terpukul.

“Dengan demikian, pasar merespons hal ini dengan positif. Aliran dana asing pun masuk ke pasar modal kita, sehingga IHSG berkinerja bagus sejak awal 2022,” ujarnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN