Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Rakyat Indonesia (BRI). Foto: Istimewa/Beritasatu.com

Bank Rakyat Indonesia (BRI). Foto: Istimewa/Beritasatu.com

Nilai Rights Issue BRI Rp 95,92 Triliun

Selasa, 27 Juli 2021 | 12:46 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) secara resmi akan menggelar penambahan modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue pada September 2021 mendatang. Nilai total rights issue bisa mencapai Rp 95,92 triliun dengan estimasi harga pelaksanaan sekitar Rp 3.346

Berdasarkan prospektus yang diterbitkan pada Senin, (26/7/2021), nilai rights issue sebesar Rp 95,92 triliun berasal dari nilai inbreng atas saham PT Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) sekitar Rp 54,77 triliun.

Selain itu, juga berasal dari perkiraan dana tunai yang bisa diperoleh dari Penawaran Umum Terbatas (PUT) I sekitar Rp 41,15 triliun. Dalam rights issue ini, BRI akan melepas 28,67 miliar saham dengan nilai nominal Rp 50.

Sementara harga pelaksanaan belum disebutkan. Namun dengan asumsi jumlah saham yang dilepas sebanyak 28,67 miliar saham dan dana yang bisa diperoleh dari rights issue sekitar Rp 95,92 triliun, maka harga pelaksanaan diestimasikan sekitar Rp 3.350. Saat ini jumlah saham beredar BBRI sebanyak 123,34 miliar saham.

Kekuatan jaringan BRI, Pegadaian dan PNM
Kekuatan jaringan BRI, Pegadaian dan PNM

Pemerintah selaku pemegang saham pengendali, yakni dengan kepemilikan 56,75% akan mengeksekusi seluruh haknya dengan melakukan inbreng. Inbreng tersebut berupa 6,24 juta saham Seri B di Pegadaian dan 3,79 juta saham Seri B di PNM. Dengan memperhatikan nilai wajar, maka nilai inbreng saham

Pegadaian mencapai Rp 48,67 triliun dan PNM sebesar Rp 6,1 triliun. Sesuai rencana, dana yang diperoleh dari rights issue akan dipergunakan untuk mendukung pembentukan holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Ultra Mikro (UMi). Dengan pembentukan holding tersebut, BRI berharap bisa menjangkau segmen ultra mikro yang saat ini mencapai 63 juta unit usaha.

“Selain itu, dana dari rights issue juga akan digunakan untuk modal kerja perseroan, khususnya untuk pembentukan ekosistem ultra mikro,” tulis manajemen.

Adapun sebelumnya, BRI mendapatkan persetujuan untuk menggelar rights issue dari pemegang saham pada RUPS Luar Biasa 22 Juli 2021. Pernyataan efektif akan diperoleh pada 30 Agustus 2021. Pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan dilakukan pada 13 September 2021.

Sementara perdagangan HMETDakan dilakukan pada 13-22 September2021.

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk

Direktur Utama BRI Sunarsomengungkapkan, aksi korporasi ini bakal berdampak kepada laporan keuangan konsolidasian BRI per 31 Maret 2021. Total aset BRI meningkat dari Rp 1.411 triliun menjadi Rp 1.515 triliun. Total liabilitas BRI  per Maret 2021 juga meningkat dari Rp 1.216 triliun menjadi Rp 1.289 triliun setelah terbentuknya holding._

“Kemudian, laba bersih konsolidasian BRI meningkat dari Rp 7 triliun menjadi Rp 8 triliun,” kata Sunarso usai RUPSLB BRI secara virtual di Jakarta, Kamis (22/7).

Target Pembiayaan Pegadaian
Pegadaian

Adapun Pegadaian, per 31 Maret 2021 berhasil mencatat aset sebesar Rp 72,19 triliun atau meningkat 1,02% dari posisi akhir 2020 sebesar Rp 71,46 triliun. Kemudian, pinjaman yang disalurkan Pegadaian sebesar Rp 58,30 triliun._

Di tengah kenaikan aset, Pegadaian justru mencatatkan penurunan liabilitas. Dalam tiga bulan pertama tahun 2021, jumlah liabilitas perusahaan menurun 0,38% menjadi Rp 46,68 triliun.

Adapun, jumlah ekuitas Pegadaian sebesar Rp 25,51 triliun per Maret 2021. Laba Pegadaian turun 12,8% dari Rp 809,07 miliar menjadi Rp 705,46 miliar di akhir Maret 2021. Pendapatan usaha tercatat Rp 5,45 triliun dengan beban usaha Rp 4,52 triliun. 

Ilustrasi PNM. (Foto: Istimewa/Beritasatu.com)
Ilustrasi PNM. (Foto: Istimewa/Beritasatu.com)

Sementara itu, PNM sampai dengan akhir Maret 2021 membukukan laba bersih Rp 186 miliar. Sedangkan pendapatan sebelum diaudit sebesar Rp 1,76 triliun. Adapun total aset PNM sampai akhir Maret 2021 tercatat Rp 35,3 triliun dengan total liabilitas Rp 29,5 triliun.Kemudian, total ekuitas tercatat Rp 5,8 triliun._

Pada kuartal I-2021, total penyaluran pinjaman PNM sebesar Rp 11,7 triliun dengan baki debet Rp 26,4 triliun. PNM juga mencatat peningkatan nasabah dalam waktu 3 bulan naik 1,1 juta menjadi 9 juta nasabah, naik 38,1%.

Sunarso menekankan bahwa terbentuknya Holding UMi akan menciptakan sinergi luar biasa tiga kekuatan institusi keuangan ini. BRI dengan lebih dari 100 juta nasabahmemiliki 9.493 jaringan kantor, 27.450 tenaga pemasar mikro, serta 466.864 agen Brilink.

Sementara Pegadaian memiliki 4.087 outlet, 1.564 tenaga pemasar, dan 9.764 agen. Lalu PNM dengan 3.291 jaringan kantor dan 32.480 tenaga pemasar.

Prospek Harga Saham

Kinerja keuangan BRI, Pegadaian dan PNM
Kinerja keuangan BRI, Pegadaian dan PNM

Equity Analyst PT Sucor Sekuritas Edward Lowis menjelaskan, adanya rights issue bisa berdampak positif terhadap kinerja BRI dalam jangka panjang dan menengah. Pasalnya, rights issue menciptakan sinergi antara BRI dengan Pegadaian dan PNM.

“Tentunya ini juga akan berdampak positif kepada harga saham BBRI,” jelas dia kepada Investor Daily, Senin (26/7).

Edward mengungkapkan, pihaknya menargetkan saham BBRI berpotensi menembus Rp 4.470 dalam satu tahun ke depan. Sementara pada penutupan perdagangan, Senin (26/7), harga saham BBRI menurun 1,03% ke level Rp 3.830.

Penurunan harga saham ini, menurut Edward merupakan hal yang wajar. Pasalnya, nilai dari rights issue yang akan dilakukan cukup besar. Namun, dengan melihat kinerja saham BBRI dalam satu bulan terakhir seharusnya sudah memfaktorkan adanya rights issue tersebut.

Lebih lanjut, rights issue ini juga berpotensi besar mengangkat kapitalisasi pasar (market cap) BRI menuju Rp 600 triliun.

Market cap (kapitalisasi pasar) saat ini sudah Rp 480 triliun. Dengan ditambah rights issue sebesar Rp 96 triliun, maka akan mendekati Rp 600 triliun,” ujarnya.

Investment Information Head Mirae Asset Sekuritas Indonesia Roger menjelaskan, tujuan rights issue BRI untuk memperkuat permodalan dan pengembangan usaha. “Tentu saja, setelah rights issue, performanya akan semakin baik dan berdampak positif pada harga sahamnya,” kata dia.

Tahun ini, Roger memperkirakan pendapatan BRI mencapai Rp 117 triliun dan laba bersih Rp 29 triliun.

Tahun lalu, BRI meraup laba bersih Rp 18,66 triliun dan pendapatan bersih (pendapatan bunga dan klaim) Rp 80,09 triliun.

Mengenai harga saham, menurut Roger, akan terkonsolidasi menjelang tanggal rights issue dan setelah diketahui harga pelaksanaannya. Meski demikian, harga saham BRI akan kembali terapresiasi setelah rights issue rampung. “Harganya bisa menembus Rp 4.450,” ungkapnya.

Selain harga saham, nilai kapitalisasi pasar saham BRI juga akan meningkat setelah rights issue. Roger memperkirakan, dengan asumsi harga rights issue Rp 3.900 per saham, maka kapitalisasi pasar BRI akan bertambah Rp 90 triliun dan menjadi sekitar Rp 580 triliun.

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana
Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menjelaskan, dengan adanya rights issue, harga saham BRI akan terkonsolidasi dulu. Meski demikian, dengan mengonsolidasikan Pegadaian dan PNM, pendapatan dan aset BRI akan meningkat. Harga saham BRI bisa menguat menuju level Rp 5.500 dalam 12 bulan ke depan.

Sementara itu, CEO Fazz Financial Group & Co-Founder Payfazz Achie Anugrah berpendapat bahwa terbentuknya holding mikro tiga entitas, yakni BRI, Pegadaian, dan PNM menjadi kekuatan yang dahsyat. Apalagi masing-masing memiliki basis nasabah yang besar dan riil.

“Ke depan, hal ini akan membuat performa keuangan BRI sebagai induk bakal sangat solid. Apalagi dengan ba-  sis nasabah mikro yang begitu besar,” kata dia.

CEO Fazz Financial Group & Co-Founder Payfazz, Achie Anugrah dalam media visit virtual dengan redaksi Beritasatu Media Holdings (BSMH), Senin, 26 Juli 2021. (Foto: BSMH/Herman)
CEO Fazz Financial Group & Co-Founder Payfazz, Achie Anugrah dalam media visit virtual dengan redaksi Beritasatu Media Holdings (BSMH), Senin, 26 Juli 2021. (Foto: BSMH/Herman)

Menurut Dirut BRI Sunarso, perseroan terus melakukan eksplorasi sumber-sumber pertumbuhan baru yang selaras dengan aspirasi perseroan untuk menjadi Champion of Financial Inclusion.

Segmen ultra mikro telah diidentifikasi sebagai sumber pertumbuhan baru melalui pembentukan ekosistem ultra mikro.

Ekosistem ini akan menyediakan layanan keuangan yang terintegrasi bagi para pengusaha segmen ultra mikro sehingga memungkinkan mekanisme naik kelas ke nasabah mikro lebih tertata dengan baik.

Rencana tersebut juga selaras dengan visi pemerintah dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024 yaitu untuk mendorong inklusi keuangan. BRI memiliki target komposisi mikro sebesar 45% dari total kredit BRI pada tahun 2025. Target itu bisa dicapai lebih cepat dengan integrasi antara BRI, Pegadaian, dan PNM. Hingga kuartal I-2021, komposisi kredit segmen mikro sebesar 40,2% berjalan sesuai rencana, atau naik dari kuartal I-2020 sebesar 36,2%. (hg)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN