Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi investasi. Foto: Tumisu (Pixabay)

Ilustrasi investasi. Foto: Tumisu (Pixabay)

November, Dana Kelolaan Reksa Dana Capai Level Tertinggi Tahun Ini

Minggu, 6 Desember 2020 | 21:48 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan, dana kelolaan (asset under management/AUM) industri reksa dana hingga November 2020 mencapai Rp 547,84 triliun atau tertinggi sepanjang tahun ini. Dana kelolaan tersebut meningkat 1,04% dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebanyak Rp 542,17 triliun.

Menurut Direktur Utama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Uriep Budhi Prasetyo, peningkatan dana kelolaan industri reksa dana sejalan dengan pertumbuhan jumlah investor reksa dana. Per 19 November 2020, jumlah investor reksa dana mencapai 2,82 juta orang. "Jumlah investor reksa dana per 19 November 2020 meningkat 59,32% dari akhir 2019 yang mencapai 1,77 juta orang," kata dia, baru-baru ini.

Jumlah investor reksa dana ini, lanjut Uriep, merupakan yang terbanyak dibandingkan jumlah investor lain di pasar modal. Tercatat, jumlah investor di saham mencapai 1,5 juta orang dan investor di surat berharga negara (SBN) sebanyak 448,14 ribu orang. Total jumlah investor di pasar modal mencapai 3,53 juta orang.

Selain dari penambahan jumlah investor, pertumbuhan dana kelolaan dan jumlah investor sejalan dengan bertambahnya selling agent fintech, yang juga menjadi faktor peningkatan transaksi. Sampai saat ini, sekurangnya ada 11 selling agent fintech yang memfasilitasi transaksi reksa dana.

Uriep menjelaskan, hingga 19 November 2020, selling agent fintech sudah mencatat dana kelolaan reksa dana sebesar Rp 5,2 triliun atau meningkat 133% dari realisasi akhir 2019 senilai Rp 2,23 triliun. Pertumbuhan dana kelolaan reksa dana di industri fintech ini paling banyak disumbang oleh reksa dana pasar uang, yakni sebesar Rp 2,81 triliun. Kemudian dikontribusi pula oleh reksa dana pendapatan tetap sebesar Rp 1,09 triliun, reksa dana saham sebesar Rp 700 miliar dan jenis reksa dana lainnya.

Sebelumnya, peneliti senior BEI Poltak Hotradero mengatakan, dana kelolaan industri reksa dana masih bisa bertumbuh ke depan. Dia mengungkapkan, apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 270 juta jiwa, dana kelolaan industri reksa dana saat ini mencapai Rp 2 juta per kapita atau sekitar US$ 130 per kapita. Sementara, pendapatan penduduk Indonesia mencapai US$ 4.000 per kapita.

Apabila dibandingkan dengan Thailand, nilai dana kelolaan reksa dana di Indonesia masih jauh sekali. Di negara 'Seribu Pagoda' tersebut, pendapatan kapita penduduknya mencapai US$ 7.000 per orang dengan dana kelolaan reksa dana penduduknya mencapai US$ 4.000 per orang. "Dengan hanya menyamai Thailand saja, kita masih punya peluang untuk bertumbuh 15 kali lipat," kata dia.

Untuk bisa mengejar pertumbuhan tersebut, menurut Poltak, penting bagi regulator untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap industri reksa dana. Selain itu, regulator harus membentuk infrastruktur agar masyarakat mudah bertransaksi secara digital.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN