Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan melintas di depan layar monitor saham di sebuah sekuritas di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Karyawan melintas di depan layar monitor saham di sebuah sekuritas di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

OCBC NISP: Volatilitas Saham Masih akan Terjadi

Sabtu, 6 Maret 2021 | 08:58 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) menilai, volatilitas pasar saham dalam jangka pendek masih tetap ada. Namun, pasar saham masih akan tetap positif dalam jangka panjang.

Wealth Management Head Bank OCBC NISP Juky Mariska mengatakan, fenomena January Effect hanya bertahan pada 2 minggu pertama di bulan Januari. Hal ini tidak cukup kuat untuk membawa indeks harga saham gabungan (IHSG) menguat.

"Sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penurunan -1,95% pada bulan Januari," jelas Juky dalam Market Outlook yang diterima pada Jumat (5/3).

Namun demikian, adanya vaksinasi perdana Covid-19 kembali mendorong penguatan IHSG pada awal Februari 2020 sehingga  membuat para investor merealisasikan keuntungan di minggu terakhir. Melihat hal ini, Juky menilai, volatilitas pasar saham tetap ada karena kasus harian Covid-19 yang masih tinggi.

"Tetapi proses vaksinasi serta dukungan pemerintah untuk mendorong pemulihan ekonomi diharapkan dapat memberikan sentimen positif bagi pasar dalam jangka panjang," terang dia.

Di pasar obligasi, Juky melihat masih  cukup tertekan selama bulan Januari. Imbal hasil pemerintah tenor 10 tahun naik sebesar 5,45% ke level 6.21%. Melihat hal itu, dia menilai pasar obligasi masih cukup menarik untuk level saat ini, dengan adanya ruang untuk pemangkasan suku bunga acuan, dengan rendahnya inflasi dan Rupiah yang relatif stabil menguat.

Pemerintah dan Bank Indonesia juga akan terus melakukan sinergi kebijakan makroekonomi yang akomodatif untuk mendukung pemulihan.

"Kami memperkirakan imbal hasil obligasi akan berada di kisaran 6-6,2% untuk kuartal pertama tahun ini," kata dia.

Adapun terkait pemulihan ekonomi, Juky menilai masih akan menjadi penantian utama pada 2021 setelah kontraksi yang terjadi tahun sebelumnya. Berbagai kebijakan fiskal dan moneter, serta vaksinasi yang sudah berjalan diharapkan menjadi katalis yang akan mendorong pemulihan.

Dari sisi global, kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) masih mencatatkan pertumbuhan yang moderat. Inflasi pun masih jauh di bawah target 2%, yang membuat The Fed masih akan mempertahankan kebijakan suku bunga rendah.

Paket stimulus fiskal senilai US$ 1,9 triliun yang saat ini sudah disetujui DPR AS diharapkan dapat mendongkrak pemulihan ekonomi. Perbaikan ekonomi juga terlihat dari aktivitas manufaktur mayoritas kawasan Asia yang menunjukkan ekspansi, meski beberapa melambat jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Bank Sentral China (PBoC) memutuskan untuk memperketat kebijakan moneter dengan cara menarik dana dari sistem perbankan. Hal tersebut dilakukan untuk memitigasi risiko terhadap sistem keuangan, dan PBoC akan tetap mendukung perekonomian melalui kebijakannya.

Dari dalam negeri, data periode Januari 2021 menunjukkan kuatnya fundamental Indonesia ditengah pandemi. PMI manufaktur berekspansi sebesar 52,2 dan cadangan devisa berhasil mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah sebesar US$ 138 miliar.

Sepanjang 2020, Produk Domestik Bruto (PDB) dirilis terkontraksi -2,7%. Secara keseluruhan, fundamental Indonesia yang baik di tengah proses vaksinasi diharapkan dapat menjadi katalis positif bagi pemulihan ekonomi.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN