Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi pasar modal. Foto: Energepic (Pexels)

Ilustrasi pasar modal. Foto: Energepic (Pexels)

OJK Catat Penurunan Nilai Penghimpunan Dana di Pasar Modal Menjadi Rp 54,13 Triliun

Selasa, 4 Agustus 2020 | 17:16 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatatkan penurunan nilai penghimpunan dana dari pasar modal hingga 28 Juli 2020 menjadi Rp 54,13 triliun, dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 109,18 triliun. Pandemi virus Covid-19 yang melanda dunia hingga Indonesia disinyalir menjadi faktor utama penurunan jumlah penawaran umum tersebut tersebut.

Penghimpunan dana tersebut terdiri atas penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham, penerbitan saham baru (rights issue), dan emisi obligasi maupun sukuk. Berdasarkan data OJK per 28 Juli 2020, total penawaran umum yang dilakukan emiten mencapai 73 penawaran umum dengan nilai Rp 54,13 triliun. Nilai ini turun dari realisasi hingga 28 Juli 2019 mencakaup 94 penawaran umum dengan nilai Rp 109,18 triliun.

"Pencapaian tersebut juga menunjukkan penurunan, dibandingkan dengan penawaran umum saham yang digelar emiten hingga akhir 2019 mencapai 179 penawaran umum dengan nilai Rp 166,85 triliun," jelas Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso di Jakarta, Selasa (4/8).

Penawaran umum paling banyak berasal dari IPO saham yang dilaksanakan oleh 28 emiten dengan nilai Rp 3,28 triliun. Kemudian, penawaran umum berkelanjutan efek bersifat utang atau sukuk Tahap II oleh 26 emiten dengan nilai Rp 28,85 triliun.

"Sisanya penawaran umum terbatas oleh delapan emiten dengan nilai Rp 9,52 triliun dan penawaran umum berkelanjutan efek bersifat utang atau sukuk tahap I oleh 23 emiten dengan nilai Rp 12,79 triliun," kata Wimboh.

Dilihat dari sektor industri, nilai penawaran umum paling besar dilakukan oleh sektor keuangan, yakni 52,86% dari total realisasi. Sektor selanjutnya adalah sektor infrastruktur, utilitas, dan transportasi sebanyak 19,05% dan sektor pertambangan sebanyak 10,03%. Sisanya berasal dari berbagai sektor lainnya.

Wimboh menjelaskan, semenjak terjadinya pandemi Covid-19, kondisi pasar modal Indonesia memang sempat turun. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Maret 2020 sempat menurun, namun kembali berbalik dalam beberapa waktu terakhir atau pada Juli 2020 sudah berada di atas 5.000.

Sentimen positif di pasar modal Indonesia yang ditopang oleh investor ritel dan non residen, sehingga nilai modal yang keluar mulai menurun. Wimboh menjelaskan, modal asing yang keluar (outflow non residen) pada 3 Agustus 2020 sudah turun ke Rp 1,48 triliun di pasar saham. Bahkan, pada surat berharga negara (SBN) sudah mulai terjadi modal asing masuk sebesar Rp 5,06 triliun.

Wimboh melanjutkan, pihaknya terus mencermati kondisi pasar modal dan menerapkan kebijakan yang sesuai untuk mengurangi dampak akibat pandemi Covid-19. Sejak Februari 2020, OJK sudah mengeluarkan kebijakan untuk meredam volatilitas, seperti dengan pelarangan transaksi short selling, buyback saham tanpa melalui Rapat Umum Pemegang Saham, perubahan batasan auto rejection, peniadaan saham yang dapat diperdagangkan pada sesi pra pembukaan di bursa efek, trading halt untuk penurunan 5% dan pemendekan jam perdagangan efek.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN