Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
lustrasi Indeks Harga Saham Gabungan. Foto: SP/Ruht Semiono

lustrasi Indeks Harga Saham Gabungan. Foto: SP/Ruht Semiono

OJK Usulkan Tim Khusus untuk Hadapi Gejolak Pasar Modal

Farid Firdaus, Minggu, 16 Februari 2020 | 10:00 WIB

JAKARTA, investor.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengusulkan pembentukan satuan tugas (task force) yang berisi perwakilan sejumlah Self Regulatory Organization (SRO) dan pelaku pasar dalam menghadapi berbagai polemik yang melanda pasar modal saat ini.

Usulan tersebut mengemuka dalam pertemuan antara OJK dengan direksi manajer investasi, direksi perusahaan efek, Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Pelaku Investasi Indonesia (APRDI), serta Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) di Jakarta, Jumat (14/2).

Ketua APEI Oktavianus Budiyanto mengatakan, pertemuan dengan OJK tidak secara spesifik membahas kasus per kasus yang ada di pasar modal saat ini. Namun, terdapat usulan pembentukan task force supaya lebih mudah menangani permasalahan secara satu pintu.

“Tim khusus diusulkan supaya penanggulangan masalah lebih manageable. Semua bisa sama-sama memberikan berita positif, dan kalau ada kasus bisa sharing informasi,” jelas Oktavianus.

Pada kesempatan sama, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi membenarkan adanya usulan tim khusus yang berisi SRO dan para pelaku pasar. Namun, Inarno tidak menjelaskan secara spesifik mengenai tugas tim khusus tersebut jika memang akan dibentuk.

“Ini hanya pertemuan para pelaku pasar dan memang sudah menjadi tugas regulator selama ini. Mengenai ke depannya bagaimana, ya kita menuju pasar modal yang lebih baik,” jelas dia.

Investor Daily berupaya meminta penjelasan lebih lanjut kepada sejumlah manajer investasi dan sekuritas yang hadir saat pertemuan. Namun, tak ada yang berkenan menjelaskan detail pertemuan OJK dengan pelaku pasar. Belum lagi, indeks harga saham gabungan (IHSG) yang masih mengalami tren pelemahan.

Pada penutupan perdagangan Jumat, IHSG berada pada level 5.866,94 atau sepanjang tahun berjalan (year to date) telah terkoreksi 6,87%. Koreksi tersebut merupakan yang paling tinggi di antara bursa-bursa acuan Asia. Adapun indeks saham di Bursa Efek Filipina berada di posisi kedua dengan penurunan 6,82%.

Direktur Utama PT Schroder Investment Management Indonesia Michael Tjoajadi mengatakan, tantangan di pasar saham memang tidak hanya datang di dalam negeri, tapi juga di global mengingat ada sentimen dari Virus Korona. Untuk dalam negeri, sentimen positif bisa datang dari sejumlah regulasi.

“Jika omnibus law dan Undang-Undnag tenaga kerja yang baru diloloskan. Itu bisa jadi pemicu yang bagus, untuk investasi apapun, termasuk bagi foreign direct investment,” jelas dia.

Wanaartha Life

Seperti diketahui, rentetan skandal PT Asuransi Jiwasraya yang membuat Kejaksaan Agung memblokir sekitar 800 sub-rekening efek sejak Januari lalu membuka tantangan baru.

Kini, PT Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha atau dikenal dengan nama Wanaartha Life mengalami keterlambatan dalam pemenuhan kewajiban klaim asuransi yang telah jatuh tempo.

Berdasarkan surat Wanaartha kepada nasabahnya tertanggal 12 Februari 2020 tertulis, pada 21 Januari 2020, perseroan mendapatkan informasi secara informal yang menyatakan ada perintah pemblokiran atas rekening efek milik perusahaan dari pihak yang berwenang.

“Atas informasi tersebut, manajemen perusahaan telah melakukan langkah-langkah klarifikasi kepada pihak-pihak terkait, termasuk di dalamnya pihak Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan OJK,” tulis manajemen.

Atas arahan OJK, perseroan akhirnya meminta klarifikasi kepada Kejagung. Selanjutnya, perseroan mendapatkan konfirmasi dari Kejagung, terkait kebenaran rekening efek milik perusahaan yang dikenakan perintah pemblokiran.

Manajemen Wanaartha Life pun menjamim seluruh polis yang merupakan hak pemegang polis yang ada di perusahaan dalam keadaan aman. Perseroan dengan segala upaya akan menindaklanjuti permasalahan ini kepada OJK, Kejagung dan pihak terkait agar pemblokiran rekening ini segera diakhiri.

“Kami akan melakukan pembayaran atas hak-hak pemegang polis secara bertahap dimulai 14 hari setelah pemblokiran efek milik perseroan diakhiri oleh pihak yang berwenang,” jelas manajemen.

Pada bagian lain, Januari lalu juga terdapat tuntutan nasabah dari PT Emco Asset Management yang kesulitan melakukan redemption sejak Desember 2019. Penundaan redemption sempat disampaikan oleh manajemen Emco melalui surat resmi tertanggal 27 November 2019.

Manajemen Emco beralasan sebagian besar portofolio dalam empat reksadana saham yang dikelola Emco tidak dapat diperdagangkan di pasar dan Emco tengah melakukan penyelesaian transaksi redemption yang sebelumnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN