Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan memperhatikan pergerakan saham di sebuah galeri sekuritas di Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Karyawan memperhatikan pergerakan saham di sebuah galeri sekuritas di Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Pasar Modal Syariah Tumbuh Pesat dalam Lima Tahun Terakhir

Selasa, 8 Desember 2020 | 10:36 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Pasar modal syariah terus berkembang setiap tahunnya. Hal ini terlihat dari jumlah investor dan frekuensi transaksi yang terus meningkat dalam lima tahun terakhir.

Wakil Presiden RI Ma'ruf Amin mengatakan, pasar modal syariah sebagai salah satu sektor di industri keuangan syariah memiliki potensi yang cukup besar dalam mendorong perekonomian nasional. Dia menyebutkan, per 2019, kontribusi pasar modal syariah mencapai 29% atau senilai Rp 4.569 triliun terhadap PDB nasional.

"Sementara, kapitalisasi pasar saham syariah mencapai 29% atau mencapai Rp 3.745 triliun dari PDB pada 2019 senilai Rp 15.833 triliun," jelas Ma'ruf dalam acara seminar nasional BRI Danareksa Sekuritas yang berlangsung secara virtual, Senin (7/12).

Dia menegaskan, kontribusi yang cukup besar terhadap PDB nasional ini juga diimbangi oleh pertumbuhan jumlah investor pasar modal syariah yang terus meningkat. Dalam lima tahun terakhir atau sejak 2016 hingga saat ini, jumlah investor syariah mencapai 81.413 investor atau bertumbuh 63%. Dari jumlah tersebut, sebanyak 26% di antaranya adalah investor syariah aktif dengan rasio investor syariah terhadap total investor sebesar 5,7%.

Dari sisi nilai transaksi, menurut Ma'ruf, juga meningkat signifikan dari Rp 920 miliar pada 2016 menjadi Rp 3,58 triliun pada Oktober 2020. Volume transaksi juga meningkat dari hanya 1,1 miliar transaksi pada 2016 menjadi 10,7 miliar transaksi pada Oktober 2020. "Demikian pula secara frekuensi, terjadi peningkatan dari semula hanya 151 ribu transaksi pada 2016 meningkat menjadi 1.280 ribu transaksi pada Oktober 2020," jelas dia.

Melihat tingginya potensi pasar modal syariah ini, kata Ma'ruf, pemerintah perlu mendorong perkembangannya. Hal ini dilakukan melalui pengembangan produk pasar modal syariah berbasis socially responsible investment (SRI) dan peningkatan ragam produk investasi pasar modal syariah lainnya.

"Beberapa rencana aksi yang akan dilakukan antara lain pengembangan produk investasi berwawasan lingkungan, implementasi sukuk korporasi ritel, dan pemanfaatan instrumen pasar modal syariah sebagai sumber pendanaan infrastruktur dan industri halal," tutur dia.

Pengembangan infrastruktur juga penting terutama yang berkaitan dengan perkembangan teknologi finansial (financial technology atau fintech). Karena itu, program pengembangan infrastruktur pasar modal syariah ke depan berupa penguatan pengaturan terkait pasar modal syariah, pemanfaatan fintech, dan kapasitas kelembagaan di pasar modal.

Terkait pemanfaatan teknologi ini, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi mengatakan, saat ini sudah banyak perusahaan sekuritas yang mengembangkan sharia online trading system (SOTS). "Adanya SOTS diharapkan bisa menjadi bagian dari layanan pasar modal syariah di Indonesia," kata dia.

D'ONE Syariah

Salah satu perusahaan sekuritas yang mengembangkan layanan SOTS adalah PT BRI Danareksa Sekuritas melalui layanan D'ONE Syariah. Direktur Utama BRI Danareksa Sekuritas Friderica Widyasari Dewi mengatakan, D’ONE Syariah akan memudahkan investor mendapat keuntungan dari perdagangan saham tanpa rasa khawatir akibat menyalahi prinsip syariah.

Adapun beberapa fitur yang sudah disesuaikan dengan prinsip syariah di antaranya running trade yang hanya menampilkan saham syariah dan fitur otomatis untuk tidak dapat melakukan pembelian saham di luar saham syariah, serta fitur otomatis untuk tidak dapat melakukan pembelian tanpa ketersediaan dana.

Friderica menjelaskan, upaya pengembangan D’ONE Syariah ini juga merupakan langkah perusahaan untuk terus mengembangkan layanan di pasar modal guna mendukung program BRI sebagai Integrated Financial Solution di Indonesia. "Kami berupaya agar BRI Danareksa Sekuritas dapat terus bertumbuh secara berkesinambungan. Melalui kerja sama jaringan distribusi luas dan tersebar yang dimiliki oleh BRI, BRIDS atau BRI Danareksa Sekuritas mendapat amanah untuk dapat lebih fokus mengembangkan pasar ritel,” ungkap dia.

Perseroan juga akan terus melakukan sosialisasi dan edukasi masyarakat di berbagai kota di Indonesia guna meningkatkan jumlah nasabah. Tahun ini, BRI Danareksa Sekuritas juga mendapatkan mandat untuk mengakuisisi rekening efek pegawai Grup BRI dan nasabah ritel BRI.

Sebagai informasi, PT Danareksa Sekuritas resmi mengubah nama perusahaan menjadi PT BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), sekaligus mengubah logo. Penggantian nama dan logo perusahaan dilakukan setelah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mengakuisisi 67% saham Danareksa Sekuritas. Keputusan penggantian nama ini berlaku efektif per 9 Oktober 2020.

Dengan proses akuisisi tersebut, tentu memberikan banyak peluang bagi kedua pihak terutama bagi BRIDS, mengingat jaringan distribusi luas yang dimiliki BRI, menjadi sarana dalam mempermudah perkembangan dan literasi pasar modal yang dapat dilakukan oleh BRIDS.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN