Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pekerja melintasi layar pergerakan saham di gedung BEI, Jakarta, belum lama ini. Foto: BeritasatuPhoto/Ruth Semiono

Pekerja melintasi layar pergerakan saham di gedung BEI, Jakarta, belum lama ini. Foto: BeritasatuPhoto/Ruth Semiono

Pasar Saham Berisiko 'Terpapar' Virus Corona

Gita Rossiana, Senin, 27 Januari 2020 | 09:41 WIB

JAKARTA, investor.id - Pasar saham dalam negeri berisiko ‘terpapar’ wabah virus corona, pekan ini. Selain sentimen eksternal, pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dipengaruhi sentimen dari dalam negeri yang berasal dari rilis laporan keuangan emiten.

Analis PT MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menjelaskan, pasar modal global dalam beberapa waktu terakhir sangat memperhatikan berita mengenai virus corona. "Indeks global ini terpengaruh kekhawatiran akan penyebaran virus corona. Selain itu, faktor potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia yang disampaikan oleh International Monetary Fund (di ajang World Economic Forum, di Davos)," ujar dia kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dengan berbagai sentimen ini, dia menilai, IHSG akan cenderung terkoreksi. Menurut Herditya, IHSG pekan ini akan bergerak di level 6.220-6.260. Sementara itu, IHSG pada Jumat pekan lalu ditutup turun 0,08% ke 6.244,11.

Senada dengan Herditya, analis PT Philip Sekuritas Anugerah Zamzami melihat ada potensi koreksi IHSG pada pekan ini. Salah satunya dikarenakan tidak adanya sentimen domestik yang berpengaruh signifikan terhadap pergerakan IHSG.

Sementara dari sisi eksternal, menurut Zamzami, investor juga akan menanti data penjualan properti dan produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat. Selain itu, hasil Federal Open Market Committee meeting pada 29 Januari 2020, dengan Federal Funds Rate (FFR) diperkirakan tetap di 1,5-1,75%.

"Secara teknikal, IHSG juga membentuk pola double top, sehingga berpeluang menguji support di level 6.190-6.220," papar dia.

Saham BBRI

Di tengah potensi koreksi IHSG, Zamzami merekomendasikan sejumlah saham. Dia menilai saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) bisa dilirik investor pekan ini, dengan target harga Rp 8.150 per unit. Kemudian, saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dengan target harga Rp 8.450 dan saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dengan target harga Rp 12.000.

Saham lain yang bisa dilirik adalah PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) dengan target harga Rp 19.500 dan PT Astra International Tbk (ASII) dengan target harga Rp 7.200. Selanjutnya, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dengan target harga Rp 3.970 dan PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) dengan target harga Rp 2.250.

Peluang Menguat

Sementara itu, Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee melihat IHSG masih berpeluang menguat pekan ini, namun dengan level yang terbatas. Pasalnya, IHSG dalam sepekan terakhir terus menurun sehingga ada peluang untuk rebound.

"Kami perkirakan IHSG berpeluang menguat terbatas. Adapun support IHSG di level 6.218-6.200 dan resistance di level 6.256 sampai 6.312," papar dia.

Hans juga menilai virus corona akan memengaruhi pergerakan IHSG, karena pelaku pasar modal Asia dan global khawatir akan penyebarannya. Kendati demikian, pihak World Health Organization (WHO) mengeluarkan pernyataan bahwa wabah virus corona belum menjadi keadaan darurat global. Selain itu, ada respons cepat Tiongkok untuk menutup perjalanan masuk dan keluar dari Wuhan, sumber wabah virus corona.

"Tetapi, ini kan tahun baru Imlek, di mana banyak warga melakukan perjalanan di dalam dan luar negeri. Hal itu menimbulkan kekhawatiran di pasar," kata dia.

Dia menyebutkan, rilis laporan keuangan korporasi global juga akan memengaruhi pasar pada pekan ini. Sekitar 12% dari perusahaan yang terdaftar di S&P 500 telah melaporkan keuangannya. FactSet mengumumkan, 70% perusahaan-perusahaan tersebut membukukan laba lebih baik dari perkiraan.

Hans mengatakan, setelah Presiden AS Donald Trump dan Wakil Perdana Menteri Tiongkok Liu He menandatangani perjanjian perdagangan fase pertama, ketegangan di antara kedua negara tersebut mulai berkurang. ”Namun, optimisme positif kesepakatan perang dagang Tiongkok dan AS mulai memudar di pasar. Apalagi ditambah pernyataan dari menteri keuangan AS yang akan mempertahankan tarif barang-barang Tiongkok sampai kesepakatan tahap kedua berakhir," imbuh dia.

Ia menilai, melebarnya perang dagang juga perlu mendapat perhatian pelaku pasar. Pasalnya, setelah penandatanganan kesepakatan perdagangan fase 1 antara Tiongkok dan AS, pernyataan Presiden AS Donald Trump terasa menekan zona Euro. Trump mengatakan bahwa Uni Eropa tidak punya pilihan selain menyetujui kesepakatan perdagangan baru.

Sedangkan dari dalam negeri, kisruh pembubaran reksa dana masih berpotensi menekan kinerja IHSG. Nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana ini merosot.

“Lebih dari 35 reksa dana yang NAB-nya menurun lebih dari 50% berpotensi menekan indeks ke depan. Belum lagi pembekuan 800 rekening nasabah, kami perkirakan akan menimbulkan sentimen negatif di pasar," kata dia.

Di tengah berbagai sentimen tersebut, Hans merekomendasikan beberapa saham. Menurut dia, saham PT Ciputra Development Tbk (CTRA) berpeluang menguat dengan area akumulasi di level Rp 965-1.005 dan target harga di level Rp 1.040-1.060.

Kemudian, saham PT Indosat Tbk (ISAT) dengan target harga di level Rp 2.520-2.570. “Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) juga berpeluang menguat dengan target harga di level Rp 1.660-1.690. Begitu juga saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dengan target harga di level Rp 790-810,” paparnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN