Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Indeks Harga Saham Ganungan di Bursa Efek Indonesia

Indeks Harga Saham Ganungan di Bursa Efek Indonesia

Pasar Saham dalam Tren Menguat, Michael Steven: Tetap Waspada dan Jangan Serakah!

Mashud Toarik, Sabtu, 30 Mei 2020 | 12:10 WIB

JAKARTA, investor.id – Pakar Keuangan dan Investasi, Michael Steven mengingatkan pelaku pasar modal untuk berhati-hati dan bijak dalam mengambil keputusan investasi khususnya di pasar saham seiring kondisi ketidakpastian ekonomi yang terjadi pada tingkat global.

Menurutnya, selama ini pola pergerakan bursa regional termasuk Bursa Efek Indonesia (BEI) cenderung mengekor dan dipengaruhi oleh sentimen bursa global terutama bursa-bursa di Amerika Serikat (AS). Saat bursa AS menurun, biasanya bursa regional juga menurun. Begitu pula saat terjadi penguatan.

Michael yang juga Direktur Utama PT Kresna Graha Investama Tbk ini mengingatkan, saat ini ada sentimen yang didorong oleh keinginan besar Presiden Amerika Serikat, Donald Trump untuk membawa Dow Jones Industrial Average kembali ke level 30.000 dari posisi saat ini sekitar level 25.500.

Ambisi tersebut dikatakannya tidak lepas dari upaya Trump untuk memikat hati pemilih agar terpilih menduduki posisi Presiden AS untuk periode kedua. Untuk mendorong kenaikan pasar saham ini, Trump menggulirkan insentif pemotongan pajak besar-besaran sekaligus meningkatkan anggaran belanja.

“Untuk membiayai kebijakan tadi, Trump terus menumpuk utang. Ini merupakan sinyal yang salah,” ujar Michael saat diskusi yang dilakukan secara virtual melalui aplikasi Zoom pada Jumat (29/5/2020).

Kerena itu Micheal memperkirakan tren penguatan pasar global yang terjadi belakangan ini perlu diwaspadai apalagi kondisi ekonomi global tengah melambat karena dihantam pandemi Covid-19.

“Apalagi besar peluang Trump bakal kalah oleh pesaingnya Joe Biden. Orang pikir kalau Trump kembali menang maka dunia akan kacau lagi selama 4 tahun,” urainya.

Mencermati kondisi ini, Michael mengingatkan pelaku pasar untuk tidak terlalu euforia dengan penguatan pasar dengan melakukan akumulasi secara emosional atau bernafsu.

“Harus hati-hati sebagai investor saham, jangan serakah. Segera take profit kalau ada peluang dan jangan terlalu mimpi return terlalu besar karena berfikir saham naik ikut AS,” kata Micheel mengingatkan.

Dalam kesempatan tersebut Michael juga menyangkan sikap pelaku pasar yang kerap mengekor langkah asing. Akibatnya pemodal lokal selalu tertinggal oleh asing. “Saat asing beli, lokal baru beli sehingga dapat harga saham lebih mahal. Begitupula saat asing jual, lokal baru jual sehingga potesi kerugiannya lebih besar,” urainya.

Lebih jauh melihat kondisi ketidakpastian pasar, Michael mengungkapkan adanya dampak bagi perusahaan efek terutama pada bisnis penjaminan emisi efek. Kresna sendiri menurutnya tidak terlalu berharap besar akan membawa perusahaan melantai di bursa tahun ini. Namun kondisi pasar diharapkan akan lebih baik pada tahun 2021.

Memang ada beberapa potensi untuk IPO, tetapi kita melihat pasar masih kurang kondusif. Kami akan lihat lagi kkondisinya dalam 3 bulan ke depan tetapi bukan tidak mungkin (membawa IPO baru),” ujarnya.

Sebagai catatan pada perdagangan pasar saham Jumat kemarin, IHSG ditutup menguat 37,43 poin atau 0,79% ke level 4.753,61.

Sementara di AS dini hari tadi, Indeks S&P 500 tercatat ditutup naik 0,48%, lalu indeks Dow Jones Industrial Average turun tipis 0,07%. Kendati begitu sepanjang Mei indeks Dow Jones mengalami kenaikan 3,04%. Adapun indeks S&P naik 3,57% sepanjang Mei 2020.

 

 

 

 

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN