Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengunjung berada di galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta, belum lama ini. Foto: BeritasatuPhoto/Uthan AR

Pengunjung berada di galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta, belum lama ini. Foto: BeritasatuPhoto/Uthan AR

Pasar Saham Jatuh, Ini Tanggapan BEI

Nabil Al Faruq, Kamis, 27 Februari 2020 | 16:26 WIB

JAKARTA, investor.id — Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (27/2) ditutup anjlok 153,2 poin (2,69%) ke level 5.535,6. Pasar saham masih diselimuti sentimen negatif wabah Virus Korona yang meluas dan di luar dugaan.

Hingga Kamis (27/2), berdasarkan data worldometers.info, tercatat 2.804 orang meninggal akibat coronavirus COVID-19 tersebut. Sedangkan pasien yang sembuh sebanyak 32.854 orang. Saat ini ada 82.166 kasus yang dikonfirmasi di 48 negara dan wilayah.

Adapun sentimen terpangkasnya Dow Jones dan beberapa indeks acuan di bursa global, serta proyeksi penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,6% dan pelemahan rupiah ikut memperparah situasi pasar domestik.

Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Hasan Fawzi mengakui, sentimen terkuat yang menyebabkan penurunan IHSG lebih dari 2% adalah perkembangan wabah Virus Korona. “Indeks Nikkei hari ini turun signifikan, di atas 2%. Sedangkan Dow Jones juga mencatatkan rekor penurunan terbesar dalam dua hari berturut-turut,” kata dia di Jakarta, Kamis (27/2).

Hasan menegaskan, pemerintah telah mengeluarkan beberapa kebijakan untuk menghadapi dampak wabah tersebut, terutama untuk beberapa sektor industri yang sensitif terhadap situasi ini, seperti pariwisata. Selain itu, kebijakan fiskal dan moneter juga dilakukan.

Sementara itu, BEI akan terus mencermati perkembangan pasar. Menurut Hasan, pihaknya sudah melengkapi diri dengan protokol yang diperlukan, jika terjadi penurunan pasar hingga mencapai batas yang ditoleransi.

Protokol Krisis tersebut, yakni apabila IHSG mengalami penurunan sebesar 1% dalam satu sesi perdangangan, maka pihaknya akan melakukan evaluasi secara internal. Kemudian, jika IHSG turkoreksi 5% dalam satu sesi perdagangan, pihaknya akan bertemu dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Kemudian, apabila kinerja IHSG turun sebanyak 7,5% dalam satu sesi perdagangan, pihaknya akan mengambil langkah berupa aktivasi manajemen protokol krisis (crisis management protocol/CMP). Lalu, apabila IHSG jatuh hingga 10% dalam satu hari perdagangan, maka pihak BEI akan melakukan penghentian sementara dalam rangka cooling down dan menyebarkan informasi kepada publik.

Protokol Krisis tersebut pernah diterapkan pada 2008. Namun, untuk saat ini, BEI masih akan mencermati dari sisi fundamental. Menurut Hasan, kejatuhan IHSG tak hanya terjadi pada beberapa sektor saham saja, melainkan merata di semua sektor.

Sementara itu, mengenai pemblokiran sejumlah rekening efek terkait kasus Jiwasraya, dia menegaskan bahwa itu hanya berdampak pada awal tahun saja. Kasus ini sudah dibuat ketegasan proses hukum dan wacana alternatif penyelamatan.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN