Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Surat Utang

Surat Utang

Pasar Surat Utang Antisipasi Libur dan Sentimen pemakzulan Trump

Gita Rossiana, Senin, 23 Desember 2019 | 08:59 WIB

JAKARTA, investor.id  – Pergerakan harga surat utang negara (SUN) sepanjang pekan ini berpotensi stagnan. Hal ini seiring dengan mulai masuknya masa libur Natal dan Tahun Baru.

Associate Director Fixed Income PT Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto mengatakan, pada pekan ini, imbal hasil (yield) SUN 10 tahun akan bergerak pada rentang 7,2-7,3%.

Market akan cenderung stagnan, karena sudah mulai memasuki libur," kata dia kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.

Selain faktor libur panjang, sentimen eksternal juga turut mempengaruhi yield SUN pekan depan. Dia menjelaskan, proses pemakzulan Presiden Amerika Serikat Donald Trump berpotensi meningkatkan ketidakpastian pasar dalam jangka pendek. "Investor saat ini menanti kejelasan atas masalah tersebut," jelas Ramdhan.

Lebih lanjut, dari dalam negeri, investor masih terpengaruh data neraca dagang yang dirilis pekan lalu. Kemudian, permasalahan reksadana yang belum selesai juga menjadi perhatian investor.

Dalam situasi tersebut, investor disarankan untuk mulai melirik SUN seri terbaru. Menurut Ramdhan, SUN seri benchmark yang akan dirilis tahun depan bisa menjadi pilihan. Adapun seri SUN tersebut adalah FR0081 dan FR0082.

Sementara itu, Head of Fixed Income PT Mandiri Sekuritas Handy Yunianto mengatakan, yield SUN 10 tahun berpotensi untuk bergerak di rentang 6,75-7% pada akhir 2019. Hal ini dipengaruhi oleh pergerakan defisit transaksi berjalan (current account deficit/ CAD) dan tingginya kepemilikan asing di pasar obligasi Indonesia.

Handy menjelaskan, kepemilikan asing pada SUN pada 2019 mencapai 38%. Sedangkan hingga Desember 2019, investor asing mencatatkan beli bersih (net buy) di SUN sebesar Rp 173 triliun.

“Negara-negara yang memiliki CAD yang besar umumnya akan memberikan yield yang lebih tinggi. Seperti halnya Indonesia yang membutuhkan inflow untuk menekan CAD,” ujarnya.

Ke depan, Handy menjelaskan, yield obligasi masih akan murah. Yield SUN pada tahun depan diperkirakan akan bergerak di kisaran 6,5-6,7%.

Handy mengungkapkan, kebijakan pemerintah yang akan berusaha menekan budget defisit bisa berpengaruh positif terhadap pasar obligasi. "Ini penting untuk pasar obligasi, karena dengan budget defisit yang diharapkan tetap rendah, suplai (SUN) akan turun,” jelas Handy.

Selain itu, kebijakan BI juga turut mempengaruhi pergerakan SUN tahun depan. Handy menilai, BI masih akan memangkas suku bunga acuan sebanyak satu kali menjadi 4,75% pada 2020. Hal ini dilakukan setelah BI menurunkan BI 7 days reverse repo rate (BI

7DRRR) menjadi 5% hingga Oktober 2019. Menurut Handy, terdapat tiga faktor yang menentukan arah pergerakan BI-7DRRR, yakni tingkat inflasi, pergerakan Fed Fund Rate (FFR), dan posisi CAD. Dia menjelaskan, hasil pertemuan FOMC

Desember 2019 mengindikasikan bahwa The Fed akan menahan FFR di tahun depan setelah memo tong FFR sebesar 75 bps menjadi 1,75% pada tahun ini.

"Arah kebijakan the Fed yang dovish tersebut memberikan dampak positif bagi pasar keuangan global, terlihat dari aliran modal asing yang kembali masuk ke negara- negara emerging market (EM), termasuk Indonesia," ujar dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA