Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi pasar surat utang. (Foto:  Pixabay)

Ilustrasi pasar surat utang. (Foto: Pixabay)

Pasar Surat Utang Antisipasi Sentimen Tapering

Senin, 18 Oktober 2021 | 07:03 WIB
Lona Olavia

JAKARTA, investor.id – Harga surat utang negara (SUN) diperkirakan terkoreksi pada pekan ini, karena sepekan lalu harganya sudah kembali menguat di tengah pergerakan US Treasury Bond.

“Kecenderungannya masih dikarenakan antisipasi investor terhadap tapering dan respons rapat bank sentral dari sebagian negara di global. Selain itu, tekanan kenaikan harga bahan baku dan barang seiring supply chain disruption yang berlanjut dan kenaikan harga energi,” kata analis Panin Sekuritas Hosianna E Situmorang kepada Investor Daily, Minggu (17/10).

Adapun pendorong yield masih akan turun dan harganya naik, dikarenakan terus menurunnya target indikatif penerbitan SUN oleh pemerintah dan jumlah lelang yang dimenangkannya di tengah bid penawaran investor yang tetap stabil. Dimana, untuk SUN dengan tenor 10 tahun, Hosianna menyebutkan ada di angka 6-6,25%.

Sementara itu, terkait penawaran lelang surat utang negara (SUN) pada Selasa lalu (12/10) yang mengalami penurunan menjadi Rp 50,14 triliun dari Rp 58,82 triliun pada lelang SUN 28 September, menurut dia, tidak bisa diartikan sebagai turunnya minat investor terhadap lelang SUN. Sebab itu lebih ke penyesuaian terhadap besaran nominal target indikatif. Meski begitu, kondisi pasar obligasi saat ini masih dibayangi kenaikan yield US Treasury.

“Penawaran yang masuk turun karena investor antisipasi dari arah tapering dan tekanan inflasi global yang akan mendorong kenaikan yield, jadi potensi harga terkoreksi,” katanya.

Dalam lelang SUN kali ini, seri FR0090 yang akan jatuh tempo pada 15 April 2027 menjadi seri paling banyak diburu investor dengan jumlah penawaran Rp 13,72 triliun. Akan tetapi, seri tenor panjang FR0092, menjadi seri yang paling banyak dimenangkan dalam lelang SUN kali ini, dengan total serapan pemerintah Rp 2,65 triliun. 

Associate Director Head of Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto mengatakan, pada lelang kali ini, investor masih menahan diri untuk masuk ke pasar obligasi, walaupun likuiditas masih baik. Adapun, investor masih menunggu dampak dari tapering yang akan dilakukan Federal Reserve di akhir tahun ini. Hal tersebut berdampak pada investor asing menahan diri untuk masuk dan investor dalam negeri pun wait and see

Ramdhan menyebut, ketidakpastian dari pasar keuangan masih berpotensi terjadi di tengah kondisi ini. Sehingga SUN dengan tenor jangka waktu pendek menengah cenderung lebih banyak diminati pasar.

Untuk pekan ini, Ramdhan menuturkan bahwa harga SUN memang diprediksi melemah, terutama dipicu isu pengurangan likuiditas (tapering off) dari bank sentral Amerika Serikat (AS) yang membuat investor asing khususnya menahan diri untuk masuk ke pasar baik di primary market maupun secondary market. Namun, investor domestik di sisi lain masih memiliki likuiditas yang cukup baik.

”Jadi, ada potensi pelemahan karena asingnya menahan diri masuk dan domestik yang menopang pasar kita sejak pandemi masih ada yang ambil sikap wait and see untuk masuk ke pasar, tapi ini jangka pendek,” pungkasnya.

Dengan sentimen tersebut, Ramdhan melihat yield SUN 10 tahun pekan ini akan berada di sekitar 6,25%. Sementara itu, sampai akhir tahun, yield SUN diperkirakan akan berada pada kisaran 6,1-6,3%.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN