Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Surat utang. Foto ilustrasi: DAVID

Surat utang. Foto ilustrasi: DAVID

Pasar Surat Utang Dapat Sentimen Positif

Senin, 19 Juli 2021 | 06:02 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Harga surat utang negara (SUN) diproyeksikan meningkat pekan ini, seiring masih berlanjutnya penurunan imbal hasil (yield). Penerapan PPKM Darurat serta pertemuan Bank Sentral Amerika Serikat dan Bank Indonesia menjadi sentimen utama yang akan diperhatikan investor.

Associate Director of Research and Investment PT Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menjelaskan, imbal hasil SUN masih berpotensi turun pekan ini. SUN dengan tenor 5 tahun akan berada di rentang 5,3-5,35%, 10 tahun di 6,3-6,4%, 15 tahun di 6,35-6,4% dan 20 tahun di 7,05-7,1%. "Data penting yang akan mempengaruhi SUN pekan ini adalah pertemuan Bank Indonesia pada 22 Juli 2021," ujar dia kepada Investor Daily, Minggu (18/7).

Menurut Nico, pertemuan Bank Indonesia akan menjadi perhatian utama karena investor akan melihat sikap Bank Indonesia terhadap PPKM darurat. Sikap BI akan menjadi perhatian dan tolok ukur sejauh mana kebijakan moneter mampu mengakomodir kebutuhan stimulus perekonomian. 

Sentimen lain yang akan diperhatikan dari dalam negeri adalah perkembangan Covid-19, terutama kebijakan pemerintah dalam mengendalikan Covid-19. Sentimen ini yang akan menggerakkan arus modal asing yang sejauh ini masih stabil, meskipun sudah mulai terbatas.

"Apabila pemerintah Indonesia tidak bisa secepatnya mengendalikan Covid 19, sejauh itu pula pelaku pasar dan investor akan semakin pesimis bahwa perekonomian akan pulih karena telah kehilangan momentum pemulihan," kata dia.

Nico melihat, PPKM saat ini hanya dilakukan di Jakarta. Sementara, daerah lain belum menerapkan kebijakan serupa sehingga kebijakan ini dinilai tidak akan berjalan optimal. Pasalnya, kasus Covid-19 di Jakarta berpotensi menurun, sedangkan daerah sekitarnya tidak menurun. "Ini yang harus diperhatikan, karena akan menjadi batu sandungan ke depannya apabila penegakan PPKM Darurat hanya terfokus di daerah saja," terang dia.

Sementara dari Amerika Serikat, data penting yang akan diperhatikan investor adalah leading index dan PMI Manufacturing yang diproyeksi menurun. Sedangkan dari kawasan Eropa, pertemuan bank sentral yang akan menjadi perhatian.

Pelaku pasar pun masih akan memperhatikan pertemuan The Fed, meskipun Jerome Powell sudah mengatakan The Fed belum akan melakukan pengurangan pembelian obligasi atau menaikkan tingkat suku bunga. Namun pelaku pasar dan investor masih diliputi kecemasan, karena data inflasi Amerika semakin menggeliat. 

Di tengah situasi dan kondisi tersebut, lelang SUN pekan ini akan cenderung sepi. Investor akan menanti lelang pekan depan karena akan hadir SUN seri terbaru, yakni FR0090, FR0091 dan FR0092. Investor yang belum mendapatkan SUN seri tersebut sebelumnya akan memanfaatkan momen lelang pekan depan untuk membelinya.

"Total penawaran yang masuk kami perkirakan akan berkisar Rp 60 triliun hingga Rp 70 triliun. Apabila lebih dari itu, maka memberikan sinyal bahwa animo masyarakat terhadap pasar obligasi masih diminati," kata dia.

Di lain pihak, Head of Fixed Income PT Sucorinvest Asset Management Dimas Yusuf melihat yield obligasi akan cenderung menurun, setelah mengalami kenaikan yield yang cukup tinggi pada pekan lalu. Kenaikan yield pekan lalu mempersempit spread antara SUN tenor 10 tahun dan US Treasury 10 years ke level 500 bps, setelah sebelumnya meningkat di atas 510 bps. "Dalam waktu dekat, spread antara US Treasury 10 years dan SUN bisa kembali mendekat ke level 480 bps sehingga perbaikan fundamental Indonesia lebih terefleksikan pada yield obligasi," terang dia.

Beberapa risiko yang bersifat sementara dinilai masih akan mempengaruhi perkembangan SUN, seperti perpanjangan PPKM Darurat yang bisa berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Namun, Dimas berharap dampak tersebut tidak terlalu besar dan bersifat jangka pendek, apabila pemerintah memiliki arahan yang jelas dan lebih tanggap terhadap perubahan.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN