Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi. Dealer memperhatikan pergerakan harga di Treasury Room Bank OCBC NISP, Jakarta.  Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Ilustrasi. Dealer memperhatikan pergerakan harga di Treasury Room Bank OCBC NISP, Jakarta. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Pasar Surat Utang Dapat Sentimen Positif

Thereis Love Kalla, Selasa, 2 Juni 2020 | 08:33 WIB

JAKARTA, investor.id – Harga Surat Utang Negara (SUN) diprediksi naik sejalan dengan peluang penurunan imbal hasil (yield) sepanjang pekan ini. Peluang kenaikan didukung oleh sentimen positif rilis sejumlah data ekonomi global dan dalam negeri.

Head of Economy Research Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C Permana mengungkapkan, kenaikan harga juga didukung stabilnya nilai tukar rupiah dan penurunan indeks persepsi risiko investasi (credit default swap/ CDS). “Sangat besar kemungkinan yield SUN 10 tahun turun menuju 7,0%,” ujarnya kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (1/6).

Sementara itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, pergerakan harga SUN dipengaruhi rilis data ekonomi pekan ini, yaitu indeks PMI Manufaktur dan inflasi Indonesia yang diperkirakan mengalami penurunan. Inflasi nasional diproyeksikan turun di tengah wabah Covid-19 yang berimbas terhadap penurunan daya beli masyarakat.

“Namun, itu hal yang wajar, karena kami melihat investor masih mentoleransi data tersebut, sehingga pekan ini pasar surat utan akan bergerak secara imbal hasil akan mengalami kenaikkan dalam rentang 50-75 bps,” jelas Nico.

Nico memprediksi, yield seri SUN bertenor 5 tahun akan bergerak di kisaran 6,75% – 6,95%, dan yield bertenor 10 tahun pada rentang 7,35%-7,50%. Sementara yield bertenor 15 tahun berpotensi melaju pada area 7,65%-7,85%, dan yield bertenor 20 tahun pada level 7,85%-7,95%.

Selain sentimen dari dalam negeri, Nico mengatakan, data ekonomi global yang akan dirilis pekan ini juga menjadi pertimbangan investor obligasi. Salah satunya yang menarik perhatian adalah rilis data inflasi Amerika Serikat yang diperkirakan kembali mengalami penurunan.

Tak hanya itu, AS juga akan merilis data PMI Manufacturing, Services, dan Composite, dan juga data Trade Balance yang diperkirakan kembali berada di area negatif. Adapun, data ekonomi serupa, juga akan dirilis oleh negara-negara lainnya pada pekan ini. Semisal, Eropa akan menerbitkan data mengenai PMI Manufacturing, Services, dan Composite . Namun yang akan mencuri perhatian adalah rencana pertemuan Bank Sentral Eropa yang dilakukan pekan ini.

Pergerakan harga SUN juga akan dipengaruhi rilis data ekonomi dari Tiongkok yang diikuti juga data ekspor, impor, dan trade balance. Sedangkan Jepang akan merilis data yang sama, diikuti rilis data Monetary base yang juga dinantikan pelaku pasar.

Di sisi lain, lanjut Nico, ketegangan yang kembali terjadi antara Amerika dan Tiongkok bisa menjadi sentimen negatif bagi harga SUN. Namun, apabila pelaku pasar dapat mentolerir hal tersebut, maka pasar obligasi berpotensi mengalami penurunan yield.

Kendati demikian, untuk mengantisipasi sentimen negatif tersebut, Nico menyarankan agar investor untuk mengambil lebih banyak porsi investasinya di obligasi jangka pendek. “Kami merekomendasikan obligasi jangka pendek dengan porsi yang lebih besar ketimbang obligasi jangka panjang dengan persentase 75% - 25%,” ujar Nico.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN