Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Kalbe Farma Tbk. Foto: Perseroan.

PT Kalbe Farma Tbk. Foto: Perseroan.

Pasarkan Remdesivir, Kalbe Gandeng Grup Hetero India

Rabu, 30 September 2020 | 22:34 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) menggandeng PT Amarox Pharma Global, anak usaha dari perusahaan asal India, Hetero Drugs Ltd, untuk memasarkan obat Remdesivir di bawah merek Covifor. Aksi ini menambah daftar kontribusi Kalbe dalam membantu penanganan pandemi Covid-19, selain pengembangan vaksin.

Direktur Utama Kalbe Farma Vidjongtius mengatakan, perseroan menandatangani perjanjian kerja sama dengan Amarox Pharma dan Hetero India pada 28 September 2020. Perseroan langsung memulai proses persiapan pengadaan produk, sehingga Covifor produksi Hetero ini bisa dipasarkan pada Oktober.

“Covifor diimpor dari Hetero India untuk pasar Indonesia. Mengenai jumlah volume obat yang akan dipasarkan untuk tahun ini, sedang kami finalkan dalam minggu ini,” jelas dia kepada Investor Daily, Rabu (30/9).

Sebagai informasi, Hetero Drugs merupakan salah satu perusahaan farmasi di India yang membeli lisensi obat Remdesivir dari perusahaaan asal Amerika Serikat (AS), Gilead Science Inc. Perjanjian lisensi tersebut bertujuan untuk membuat dan menjual obat di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Pada Juni lalu, Hetero Drugs meraih izin dari Drug Controller General of India (DCGI) untuk memasarkan produk, khususnya pada wilayah-wilayah dengan tingkat kasus positif Covid-19 yang tinggi di India, seperti Maharashtra dan Delhi. Obat ini dijual dalam bentuk obat suntik dengan kisaran harga 5.400 rupe per vial.

Adapun Hetero Drugs yang bekantor pusat di Hyderabad ini merupakan grup farmasi besar yang memiliki divisi laboratorium dan pengembangan. Perseroan memiliki kantor perwakilan di AS, Eropa, Tiongkok, Rusia, Afrika Selatan, Mesir, Polandia, Meksiko, Filipina, Singapura, Uni Emirat Arab, Australia, Thailand, Kenya, Ukraina, Korea Selatan, Vietnam, Myanmar, Indonesia, Kolombia, dan Brasil.

Vaksin

Strategi kerja sama Kalbe secara internasional tercermin dari kolaborasi perseroan dengan perusahaan asal Korea Selatan, Genexine Inc, dalam uji klinis vaksin Covid-19.   Adapun, uji klinis fase 1 vaksin berjalan di Korea Selatan. Kemudian, uji klinis fase dua dijadwalkan pada Oktober atau November yang diperkirakan memakan waktu selama enam bulan.

Uji klinis dilakukan dengan koordinasi bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Jika berjalan sesuai rencana, hasil akhir produk vaksin bisa tersedia pertengahan 2021.

Manajemen Kalbe memetakan tiga skenario untuk memproduksi awal vaksin Covid-19. Semisal, produksi skala kecil sebanyak 1-3 juta dosis vaksin, produksi skala menengah berkisar 10 juta dosis, dan skala besar berkisar di atas 25 juta dosis. Produksi skala besar diperkirakan bisa menelan investasi minimal Rp 500 miliar. Investasi dibutuhkan untuk mendatangkan mesin-mesin impor. Selain itu, nilai investasi juga tergantung dari seberapa cepat vaksin tersebut diharapkan tersedia di pasar.

Vaksin merupakan bisnis baru bagi Kalbe, sehingga vaksin Covid-19 akan menjadi portofolio pertama perseroan. Sebelum pandemi, Kalbe hanya fokus pada empat pilar usaha, yakni divisi obat resep, produk kesehatan, nutrisi, dan distribusi serta logistik. Startegi jangka panjang perseroan adalah banyak mengembangkan produk-produk herbal dari bahan-bahan alami dalam negeri.

Tahun ini, upaya Kalbe dalam mengembangkan obat baru seperti produk berbasis bioteknologi juga semakin dimaksimalkan. Pada pertengahan September, perseroan bersama PT Bifarma Adiluhung sepakat mendirikan PT Kalbe Biotek Indonesia. Anak usaha ini didirikan untuk membuat obat bioteknologi potensial.

Sebelumnya, Vidjongtius mengatakan, perseroan selalu berupaya meningkatkan anggaran penelitian dan pengembangan (research and development/R&D). Hal bercermin terhadap strategi perusahaan-perusahaan farmasi kelas multinasional yang bisa mengalokasikan 5%-7% dari penjualan untuk R&D. Adapun anggaran R&D Kalbe sekitar Rp 250-300 miliar selama setahun.

Hingga semester I-2020, perseroan telah menghabiskan anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 596 miliar, yang sebagian besar digunakan untuk menyelesaikan relokasi pabrik Bintang Toedjoe dan Saka Farma ke Cikarang. Penggunaan capex juga dialokasikan untuk pembangunan gudang Enseval Putera Mega Trading dan Global Chemindo Megatrading.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN