Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Emisi Obligasi dan Sukuk Korporasi

Emisi Obligasi dan Sukuk Korporasi

Pefindo: 47% Obligasi Menjadi Berisiko Tinggi Dipicu Pandemi Covid-19

Rabu, 21 Oktober 2020 | 12:39 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mengungkap bahwa pandemi Covid-19 berpengaruh signifikan terhadap peringkat surat utang korporasi. Kondisi tersebut mengakibatkan sebanyak 47,1% dari total outstanding surat utang atau obligasi korporasi menjadi berisiko tinggi (high) dan sangat berisiko (very high).

Presiden Direktur Pefindo Salyadi Saputra mengatakan, saat ini, outstanding obligasi korporasi mencapai Rp 418,21 triliun dari 135 penerbit. Dari jumlah tersebut, entitas yang berada pada level tinggi akibat pandemi Covid-19 mencapai 54 entitas atau 40% dari total entitas.

"Sedangkan dilihat dari total outstanding mencapai 43,8% atau sekitar Rp 183,06 triliun," ujar dia dalam Seminar Capital Market Summit and Expo 2020 di Jakarta, Rabu (21/10).

Direktur Utama Pefindo, Salyadi Saputra. Foto: Majalah Investor /UTHA A RACHIM
Direktur Utama Pefindo, Salyadi Saputra. Foto: Majalah Investor /UTHA A RACHIM

Sementara sekitar 5,2% atau tujuh entitas terkena dampak sangat tinggi dari pandemi Covid-19. Nilai outstanding obligasi korporasi dari tujuh entitas ini mencapai Rp 13,78 triliun atau sekitar 3,3% dari total outstanding.

Sedangkan 39,3% entitas dengan 33,3% outstanding obligasi korporasi berada pada level moderat akibat pandemi Covid-19. Selebihnya, yakni 11,1% dan 4,4% berada pada level rendah dan netral akibat pandemi Covid-19.

Dilihat dari kelompok usaha, perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) menjadi grup usaha yang terkena dampak paling besar dari pandemi Covid-19. Pefindo mencatat, dari 73 penerbit surat utang korporasi yang berstatus BUMN atau BUMN, sekitar 28 diantaranya berada pada level tinggi akibat penyebaran virus corona.

Hal ini sejalan dengan kontribusi surat utang korporasi perusahaan BUMN atau BUMD. "Sekitar 68,4% dari total outstanding obligasi korporasi berasal dari perusahaan BUMN dan BUMD," papar dia.

Sementara kelompok usaha lain yang berada pada level tinggi adalah grup besar nasional. Grup usaha ini adalah grup usaha yang dimiliki oleh kelompok usaha yang memiliki kemampuan keuangan kuat. Pefindo mencatat, sekitar 13 dari 30 penerbit obligasi korporasi dari grup besar nasional berada pada level tinggi akibat pandemi COvid-19.

Dilihat dari nilai outstanding obligasi korporasi, sekitar Rp 27,14 triliun obligasi yang diterbitkan oleh grup besar nasional berada pada level tinggi akibat pandemi Covid-19. Sementara itu, senilai Rp 31,46 triliun dan Rp 14,4 triliun outstanding lainnya berada pada level moderat dan rendah.

Salyadi melanjutkan, seiring dengan belum berakhirnya pandemi Covid-19, surat utang obligasi yang diterbitkan korporasi akan terus terkena dampaknya. Hal ini sejalan dengan besarnya tekanan yang dirasakan oleh beberapa sektor industri akibat pandemi tersebut.

Adapun sektor industri yang diperkirakan masih tertekan akibat pandemi ini adalah bidang usaha yang bergerak di bidang penerbangan, restoran, pariwisata, hotel dan transportasi. Kemudian bidang lainnya, seperti perdagangan ritel, konstruksi bangunan, institusi keuangan, pertambangan, semen, otomotif, perikanan, tekstil, elektronik dan kosmetik juga akan terkena dampaknya, namun dengan level yang lebih rendah.

Sementara sektor lainnya seperti perbankan, media, perlengkapan rumah, industri rokok, kimia, jalan tol, kertas, kayu, alat berat, kemasan plastik serta produk konsumer akan berada pada level moderat. Sedangkan sektor makanan dan minuman, energi, perkebunan, makanan hewan dan pelabuhan hanya akan sedikit tertekan akibat pandemi Covid-19.

"Untuk sektor kesehatan, farmasi dan telekomunikasi tidak akan tertekan akibat pandemi ini," kata Salyadi.

Dengan besarnya pengaruh pandemi Covid-19 ini, Pefindo menurunkan banyak peringkat perusahaan selama semester I-2020. Jumlah penurunan peringkat tersebut telah melampaui penurunan peringkat pada 2019. Sedangkan revisi outlook telah melampaui 5 kali dari revisi pada 2019.

Kendati terjadi banyak penurunan peringkat, namun perusahaan dengan rating AAA belum pernah mengalami gagal bayar hingga catatan Agustus 2020. Namun untuk perusahaan dengan peringkat A dan BBB, tingkat gagal bayarnya meningkat menjadi masing-masing 5,88% dan 7,69% "Untuk instrumen surat utangnya, tingkat gagal bayar peringkat A dan BBB juga meningkat masing-masing 2,8% dan 6,61%," ujar dia.

Restrukturisasi surat utang, menurut Salyadi, menjadi pilihan bagi emiten yang mengalami gagal bayar utang surat utang. Restrukturisasi ini dilakukan melalui perjanjian dengan wali amanat. Kemudian, restrukturisasi ini harus disetujui oleh Rapat Umum Pemegang Saham Obligasi (RUPO).

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN