Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pefindo. Foto: Majalah Investor/UTHAN A RACHIM

Pefindo. Foto: Majalah Investor/UTHAN A RACHIM

Pefindo: Emisi Obligasi Korporasi Diprediksi Maksimal Rp 100 Triliun pada 2020

Jumat, 10 Juli 2020 | 14:58 WIB
Thereis Love Kalla (thereis.kalla@beritasatumedia.com)

JAKARTA, Investor.id – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menetafkan target moderat penerbitan obligasi korporasi tahun ini maksimal Rp 100 triliun, dibandingkan realisasi tahun lalu senilai Rp 126,51 triliun.

Target emisi tersebut didasarkan realisasi penerbitan obligasi korporasi hingga semester I-2020 baru mencapai Rp 30,3 triliun. Sedangkan surat utang yang jatuh tempo tahun ini berkisar Rp 130,7 triliun

Direktur Utama Pefindo Salyadi Saputra mengungkapkan, melihat kondisi ekonomi dan arah suku bunga acuan tahun ini diperkirakan nilai penerbitan oblgiasi maksimal Rp 100 triliun hingga akhir tahun ini. “Kami membuat tiga skenario perkiraan emisi obligasi korporasi hingga akhir semester II-2020, yaitu skenario pesimistis, moderat, dan optimistis,” ujarnya dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Jumat (10/7).

Salyadi Saputra - Direktur Utama PT Pefindo. Sumber: BSTV
Salyadi Saputra - Direktur Utama PT Pefindo. Sumber: BSTV

Skenario pesimistis, yaitu penerbitan obligasi korporasi diprediksi hanya berkisar Rp 60-70 triliun atau meningkat 25% dari total mandat obligasi yang sudah didapatkan Pefindo hingga Juni 2020. Hingga Juni 2020, Pefindo telah menerima mandat pemeringkatan penerbitan obligasi dengan total mencapai Rp 74,16 triliun.

Kedua, skenario moderat diasumsikan bertambah 50% dari total mandat penerbitan surat utang yang sudah dipegang Pefindo, sehingga diestimasikan mencapai Rp 80 triliun. Lalu skenario ketiga, optimistis penerbitan obligasi korporasi mencapai Rp 100 triliun hingga akhir tahun 2020.

“Banyak sekali faktor penentu perubahan di tengah pandemi ini, karena tidak ada seorangpun bisa memperkirakan kapan wabah yang terjadi bisa berakhir, sehingga kami juga kesulitan memperkirakan prospek obligasi tahun 2020 ini,”

Salyadi sebelumnya cukup yakin penerbitan obligasi korporasi tahun ini tembus Rp 158,5 triliun. Angka ini didasarkan atas jumlah surat utang yang jatuh tempo sebesar Rp 130,7 triliun, khususnya perusahaan yang memiliki kecenderungan melakukan refinancing.

Sedangkan Pefindo telah menerima mandat pemeringkatan obligasi dengan total mencapai Rp 74,16 triliun hingga Juni 2020. Pemeringkatan berasal dari perusahaan sektor perbankan sebesar 13,48%, perusahaan multifinance 11,87% dan perusahaan jalan tol 10,59%.

Secara rinci, sebanyak 59 perusahaan dari berbagai sektor yang telah menyampaikan niatnya untuk melakukan pemeringkatan emisi obligasi. Terdapat dua perusahaan perbankan dengan nilai emisi sebesar Rp 10 triliun, tujuh perusahaan multifinance Rp 8,8 triliun, lima perusahaan jalan tol Rp 7,85 triliun, dua perusahaan telekomunikasi senilai Rp 5,15 triliun, dan sisanya berasal dari perusahaan sektor lainnya.

Meski sudah ada permintaan pemeringkatan, Salyadi memperkirakan, belum tentu emisi obligasi tersebut bisa terealisasi seluruhnya tahun ini. “Prediksi awal kami, penerbitan obligasi besar tahun ini didasarkan surat utang jatuh tempo mencapai Rp 130,7 triliun. Namun akibat kondisi kurang kondusif ini, perusahaan kemungkinan kembali meminta pembiayaan ke perbankan,” ujar Salyadi.

Sementara itu, Salyadi mengatakan, porsi investor asing pada obligasi korporasi masih jauh rendah, dibandingkan di instrumen obligasi negara, yakni hanya sekitar 7,2% hingga kuartal I-2020. Pada obligasi negara porsi investor asing mencapai 32,7% dan pada instrumen saham mencapai 50,8%. “Hal ini kemungkinan dipengaruhi atas likuiditas obligasi korporasi yang kurang likuid atau tidak se-likuid saham dan SUN,” ungkap Salyadi.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN