Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. (BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal)

Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. (BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal)

Pegangan! Volatilitas Pasar Makin Tinggi di Kuartal III-2022

Rabu, 29 Juni 2022 | 05:04 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Head of Research Aldiracita Sekuritas Agus Pramono menyebut, volatilitas pasar bursa di Indonesia akan makin tinggi di kuartal III-2022. Hal ini dikarenakan berbagai sentimen yang bakal menghantui pergerakan pasar, baik global maupun dalam negeri. Diantaranya ancaman inflasi yang tinggi dan bank sentral di seluruh dunia menyesuaikan dengan kenaikkan suku bunga. Menyusul naiknya suku bunga The Fed yang diperkirakan akan agresif di kuartal ini.

Agus menjelaskan pasar AS yang sedang berada dalam kondisi yang tidak stabil karena kemungkinan naiknya suku bunga acuan beberapa kali oleh The Fed. Ia bahkan menilai, hal tersebut dapat menyebabkan Inflasi dan resesi yang tidak terkendali pada Pasar AS. Bahkan, berdasarkan riset Bloomberg, hal ini berpotensi membuat AS mengalami resesi sebesar 33%. Sehingga membuat ketidakpastian di AS masih cukup tinggi.

Advertisement

Baca juga: Bersiaplah! Bunga Fintech Lending Bisa Naik pada Kuartal IV

“Hal ini juga akan berimbas pada volatilitas pasar di Indonesia semakin makin tinggi. Pergerakan IHSG diperkirakan akan bergerak di sekitar 6.900-7.200 pada kuartal III-2022,” ungkapnya disela edukasi Aldiracita Sekuritas di Jakarta, Selasa (28/6/2022).

Disisi lain, lanjut dia, perlambatan pertumbuhan ekonomi global masih menjadi ancaman. Perlambatan ekonomi ini mendorong harga komoditas menurun. Mengingat, melemahnya permintaan. Alhasil, harga-harga komoditas pun akan kembali ke titik normal. Misalnya saja, pada harga CPO yang menjadi salah satu andalan komoditas Indonesia ini sudah mengalami kenaikan sangat besar. Namun kini, mengalami penurunan dan kembali ke titik normal.

“Tapi, harga batu bara diperkirakan akan tetap tinggi seiring dengan ketidakpastian perang antara Rusia dengan Ukraina. kalaupun jatuh harga batu bara tentu tidak akan kembali lagi seperti tahun lalu,” jelas Agus.

Baca juga: Lebih Detail tentang Skema Penyelesaian Utang Garuda (GIAA)

Agus menilai, Indonesia masih akan berada pada posisi yang baik. Mengingat Indonesia merupakan penghasil komoditas. Ditambah lagi, kondisi perekonomian yang kembali membaik. Bahkan, tingkat perekonomian dinilainya sudah kembali ke waktu pra-pandemi Covid-19. Hal ini pun berimbas pada kinerja para emiten yang diperkirakan mengalami pertumbuhan positif pada Kuartal II-2022.

“Paling penting adalah result di kuartal II, mengingat di masa ini perekonomian sudah jauh membaik pada periode itu,” tegasnya.

Namun,  Agus memperkirakan adanya kemungkinan Bank Indonesia (BI) juga akan menaikan suku bunga pada kuartal III-2022. Kenaikan ini diperkirakan akan 50 - 75 basis points (bps) di tahun ini. “Untuk itu, Saham-saham non-cyclical consumer dapat diperhatikan pada kuartal III-2022,” tutupnya.   

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN