Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang investor memotret pergerakan indeks di BEI, Jakarta. Foto ilustrasi: DAVID

Seorang investor memotret pergerakan indeks di BEI, Jakarta. Foto ilustrasi: DAVID

Pekan Depan, IHSG Diprediksi Bergerak dalam Rentang 6.131 – 6.250

Mashud Toarik, Sabtu, 7 Desember 2019 | 18:13 WIB

Jakarta, Investor.id – Aneka sentimen baik skala global, regional dan dalam negeri akan jadi perhatian pelaku pasar dalam melakukan aktivitas transaksi sepanjang pekan depan.

Terkait itu, Hans Kwee Direktur Anugerah Mega Investama memperkirakan indeks harga saham gabungan (IHSG) pekan depan akan bergerak di level support 6.131 sampai 6.095 dan resistance di level 6.200 sampai 6.250.

“Investor kami rekomendasikan BOW (buy on weakness) ketika pasar melemah,” urai Hans sebagaimana hasil riset mingguan yang diterima Majalah Investor, Sabtu (7/12/2019).

Terkait sentimen global, Hans memaparkan pekan depan pasar menanti kejelasan negosiasi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, apalagi kedua negara punya waktu kurang dari 7 hari untuk mencapai kesepakatan perdagangan fase pertama sebelum penerapan tarif tambahan 15% senilai USD156 miliar terhadap impor barang Tiongkok oleh AS.

Pernyataan Trump bahwa sesuatu dapat terjadi mengenai tarif tersebut, tetapi kedua pihak belum membahas hal itu. Disisi lain juru bicara Kementerian Perdagangan Tiongkok, mengatakan kedua belah pihak tetap berkomunikasi erat terkait perdagangan. Kementerian Perdagangan Tiongkok menegaskan, Washington harus memotong tarif impor ingin mencapai kesepakatan perdagangan sementara.

“Ini menjadi rumit karena kantor berita yang dikenal sebagai pendukung setiap Presiden Trump Fox News melaporkan Gedung Putih masih berencana untuk terus maju dengan tarif yang dijadwalkan pada 15 Desember untuk barang-barang Tiongkok. Hal ini terlepas dari upaya baru-baru ini dengan "gencatan" perdagangan "fase pertama". Artinya AS akan tetap mengenakan tarif atas produk Tiongkok pada 15 Desember biarpun ada gencatan perdagangan fase pertama,” urai Hans.

Sebagaimana diketahui, awal pekan lalu pasar bergejolak tertekan setelah sejumlah pernyataan Trump. "Dalam beberapa hal, saya suka gagasan menunggu sampai setelah pilpres untuk kesepakatan Tiongkok, tetapi mereka ingin membuat kesepakatan sekarang dan kita akan melihat apakah kesepakatan itu benar terjadi." papar Trump dalam wawancara di London kepada wartawan.

Pemerintah Tiongkok dikabarkan sudah menyiapkan skenario terburuk tekait komentar tersebut. Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross menyatakan jika tidak ada kemajuan perundingan perdagangan, maka tarif impor bagi produk Tiongkok diantaranya ponsel, laptop dan mainan akan berlaku efektif 15 Desember. Berlarutnya perang dagang ditambah kenaikan tarif antar kedua negara serta potensi pelebaran perang dagang ke wilayah lain akan membawa dunia masuk ke jurang resesi yang panjang.

Sementara pada akhir pekan pasar kembali menaikan optimisme setelah pernyataan seorang nara sumber yang memahami perundingan perang dagang, mengatakan kedua negara semakin dekat dekat untuk menyetujui jumlah tarif yang akan ditarik kembali dalam apa yang disebut kesepakatan perdagangan fase-pertama. Presiden Donald Trump, juga mengatakan perundingan perdagangan dengan Tiongkok berjalan sangat baik. Hal ini sangat berbeda dengan komentar penundaan kesepakatan perang dagang yang Trump kemukakan sebelumnya.

Lebih jauh dikatakan Hans, potensi perang dagang melebar ke zona Euro. Perwakilan Perdagangan Amerika mengatakan dapat mengenakan bea masuk hingga 100% pada produk tertentu dari Prancis senilai 2,4 miliar dolar AS. Hal ini menyusul keputusan Perancis untuk mengenakan pajak pada perusahaan digital. Hal ini dianggap kantor Perdagangan AS pajak Prancis berbahaya bagi perusahaan teknologi AS. Negara-negara Eropa lainnya termasuk Inggris juga dikabarkan memiliki rencana untuk mengenakan pajak digital. Ini tentu membuat potensi perluasan perang dagang antar kedua wilayah. Dikabarkan Prancis dan Uni Eropa berjanji untuk membalas tarif potensial AS untuk barang-barang Prancis.

Selain itu Menteri Perdagangan AS, Wilbur Ross, mengatakan pemerintahan Trump tidak mengesampingkan penetapan tarif pada mobil-mobil Eropa yang diimpor, meski tidak mengumumkan keputusan pada November tentang apakah akan mengenakan bea masuk tambahan pada mobil-mobil dari wilayah tersebut.

Twit dari Presiden Trump kembali mengoyang pasar, dan memperlebar perang dagang ke Amerika Latin. Trump mengatakan AS akan mengembalikan bea masuk pada baja dan aluminium dari Brasil dan Argentina.

Kedua negara Amarika Latin ini dianggap mendevaluasi mata uang dan menyebabkan komditas kedua Negara menjadi lebih murah dan merugikan petani Amerika. AS akan mengembalikan Tarif pada komoditas Baja & Aluminium yang dikirim ke AS. Konkret terkait tarif ini masih akan menjadi perhatian pasar. Selain itu aksi balasan atas pengenaan tarif dari negara Amerika Latin tentu menjadi perhatian pasar.

Sementara masalah dukungan AS untuk demonstrasi di Hong Kong diperkirakan mampu mengagalkan negosiasi perang dagang AS dan Tiongkok. “Kami perkirakaan pasar juga masih akan memantau proses pemakzulan terhadap Trump,” ujar Hans.

 

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN