Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sejumlah pengunjung berada di galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta.  Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Sejumlah pengunjung berada di galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Prediksi IHSG

Pekan Depan, IHSG Diprediksi Konsolidasi Cenderung Menguat

Sabtu, 4 Januari 2020 | 09:03 WIB
Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

Jakarta, investor.id -  Aktivitas pasar saham pada dua hari perdagangan pekan pertama 2020 terlihat relatif sepi. Kondisi ini disebabkan sebagian besar pemodal masih menikmati libur pergantian tahun 2020.

Minimnya aktivitas transaksi juga dipicu oleh terjadinya bencana banjir yang terjadi dibergai wilayah Jabotabek.

Direktur Anugerah Mega Investama, Hans Kwee menilai banjir telah membuat padamnya aliran listrik beberapa tempat, ganguan koneksi internet dan tergenangnya beberapa wilayah yang membuat arus transportasi terganggu. Beberapa hal ini tercermin dari transaksi yang relatif rendah di pekan ini.

Kendati begitu Hans optimistis, aktivitas perdagangan akan kembali normal mulai pekan depan, Senin, 6 Januari 2020

Sepanjang pekan depan, Hans memperkirakan IHSG berpeluang mengalami konsolidasi  cenderung menguat dengan support di level 6.263 sampai 6.219 dan resistance di level 6.337 sampai 6.348.

“Pelaku pasar kami rekomendasikan melakukan SOS atau jual ketika menguat mengantisipasi koreksi akibat kenaikan yang sudah cukup tinggi,” urainya dalam riset mingguan yang diterima Majalah Investor, Sabtu (4/1/2020).

Asumsi itu menurutnya didorong oleh sejumlah sentimen baik skala global maupun regional  terutama terkait optimisme pelaku pasar terhadap penandatanganan peerjanjian fase 1 antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Hal ini menyusul pernyataan Presiden AS, Donald Trump yang mengatakan kesepakatan perdagangan Fase 1 akan ditandatangani pada 15 Januari di Gedung Putih. Tanda-tanda kemajuan dalam kesepakatan itu mendorong produksi pabrik dan aktivitas manufaktur di Tiongkok tumbuh untuk dua bulan berturut-turut.

“Indeks Dow juga terlihat mengalami break all time high. Biarpun kami melihat penandatangan hanya sebuah eforia sesaat, karena itu kami merekomendasikan pelaku pasar SOS,” urai Hans.

Masalah brexit masih akan menjadi perhatian pelaku pasar. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan Uni Eropa mungkin perlu memperpanjang batas waktu untuk pembicaraan tentang hubungan perdagangan baru dengan Inggris.

Sebelumnya pemilihan umum Inggris dianggap memperlancar jalan keluar Inggris dari Uni Eropa. Yang dinantikan pelaku pasar tentu kemampuan Inggris untuk mencapai kesepakatan perdagangan baru dengan Uni Eropa dalam rentang waktu yang relatif singkat tetap menjadi perhatian bagi beberapa investor.

“Keputusan bank sentral Tiongkok untuk melakukan pelonggaran kebijakan moneternya kami prediksi akan menjadi sentimen positif di pasar keuangan,” katanya.

Sebelumnya di kabarkan Bank Sentral Tiongkok telah memangkas jumlah uang tunai yang harus disimpan dalam cadangan perbankan, melepaskan dana sekitar 800 miliar yuan (US$ 115 miliar) guna menopang perlambatan ekonomi negara itu.

Selain itu bank sentral Tiongkok(PBoC) mengatakan akan menggunakan suku bunga pinjaman sebagai patokan baru untuk menentukan suku bunga mengambang. Hal ini diyakini akan menurunkan biaya pinjaman yang pada akhirnya dapat mendorong pertumbuhan.

Sementara di dalam negeri, angka inflasi yang keluar di awal tahun 2020 menunjukan inflasi Desember 2019 hanya 0.34% jauh di bawah harapan pasar 0.42%. Selain itu inflasi YOY hanya 2.72% di bawah inflasi tahun 2017 sebesar 3,61% dan tahun 2018 sebasar 3,13%.

“Rendahnya angka inflasi disatu sisi memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk melanjutkan penurunan suku bunga apalagi bila angka pertumbuhan terus mengecewakan. Tetapi disisi lain perlambatan angka inflasi juga sering kali mengindikasikan perlambatan pertumbuhan ekonomi yang mungkin hanya akan tumbuh 4.9% sampai 5,04%. Selain itu inflasi rendah juga sering mengindikasikan lemahnya daya beli masyarakat,” ujarnya.

Selain itu pekan depan, pasar juga akan dipengaruhi masalah geopolitik terkait panasnya tensi di Timur Tengah. Naiknya harga minyak di akhir pekan ini akibat serangan udara AS ke milisi Irak yang di dukung oleh pemerintah Iran.

Serangan udara AS dikabarkan menewaskan Mayor Jenderal Iran Qassem Soleimani, kepala Pasukan elit Quds, dan komandan milisi Irak Abu Mahdi al-Muhandis. Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei berjanji akan membalas serangan tersebut yang menimbulkan kekawatiran terjadi konflik di wilayah tersebut. Meningkatnya kekhawatiran bahwa ketegangan Timur Tengah dapat mengganggu pasokan minyak dan telah membuat harga minyak naik.

 

 

 

Editor : Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN