Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengunjung melintas di depan layar elektrik yang menampilkan pergerakan IHSG pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pengunjung melintas di depan layar elektrik yang menampilkan pergerakan IHSG pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pekan Depan, IHSG Diramal Bergerak Variasi di Rentang 4.317 - 4.975

Mashud Toarik, Minggu, 19 April 2020 | 12:03 WIB

JAKARTA, investor.id – Pelaku pasar finansial dunia menyambut suka cita kabar tentang serangkaian ujicoba obat yang diharapkan mampu menyebuhkan penderita virus Covid-19. Adalah Gilead Sciences yang melakukan uji coba remdesivir obat eksperimental pada pasien Covid-19 yang kondisinya parah di Rumah Sakit Chicago, Amerika Serikat. Sebanyak 19 pasien yang diuji mengalami pulih dengan cepat dari gejala yang parah.

Suka cita ini dimanifestasikan pelaku pasar dengan melakukan akumulasi di pasar saham, alhasil sejumlah bursa utama dunia pun menguat, termasuk Bursa Efek Indonesia pada akhir pekan lalu.

Tercermin pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan akhir pekan lalu yang tercatat menguat 3,44% atau 154,21 poin menjadi 4.634,82.

Direktur Anugerah Mega Investama, Hans Kwee memprediksi harapan munculnya obat Covid-19 di AS masih akan menjadi sentimen positif pendorong IHSG pada perdagangan awal pekan mendatang. Namun menurutnya euforia ini tidak akan berlangsung lama sebab pada pertengahan dan akhir pekan depan IHSG diramal akan kembali mengalami koreksi.

“Pekan depan, IHSG akan bergerak dengan suppot 4.463 sampai 4.317 dan resistance di level 4.747 sampai 4.975,” urainya dikutip dari riset mingguan yang diterima Majalah Investor, Minggu (19/4/2020).

Terkait kondisi ini, Hans menyarankan pemodal untuk melakukan akumulasi beli ketika IHSG dan sejumlah saham unggulan melemah.

Dipaparkan Hans, tren pelemahan pasar saham dunia dan BEI masih disebabkan oleh kekhawatiran pelemahan ekonomi global atas dampak pandemi Covid-19.

Data Departemen Tenaga Kerja menunjukan klaim pengguran mingguan AS berturut turut 5,245 juta dimana periode seblumnya 6 juta, 6,6 juta dan 3,3 juta sehingga jumlah orang yang kehilangan pekerjaan menjadi 22 juta orang selama pandemi Covid-19.

Sementara angka penjualan ritel sepanjang Maret turun 8,7%, menurut laporan dari Departemen Perdagangan Amerika. Penurunan ini adalah penurunan satu bulan terbesar sejak data di rilis tahun 1992. S&P Global Economics juga menurunkan prospek ekonomi AS pada 2020 menjadi kontraksi sebesar - 5,3%pada 2020. Ini jauh lebih buruk dari prakiraan penurunan sebelumnya sebesar - 1,3%. GDP Tiongkok pada periode kuartal I - 2020 mengalami penurunan – 6,8%.

Dikatakan Hans, data negatif adalah pelemahan kuartalan pertama kalinya sejak 1992. Konsensus analis memperkirakan GPD Tiongkok hanya turun sebesar 6,5%. “Buruknya data ekonomi yang mungkin masih akan berlanjut dalam beberapa pekan kedepan akan menjadi katalis negatif pasar keuangan dunia,” ujarnya.

Pernyataan Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva yang memperingatkan dunia yang akan menghadapi krisis ekonomi yang paling mengerikan setelah Great Depression. IMF memprediksi tahun 2020 pertumbuhan ekonomi akan turun -3% dari prediksi sebelumnya di Januari 2020 yang masih tumbuh 3.3%. Prediksi ini kami anggap menimbulkan kekawatiran sesudah Virus Covid 19 dunia menghadapi resesi global.

Tak berhenti disitu, potensi tekanan pasar juga akan disebabkan oleh laporan keuangan emiten dengan perkiraan sebagian besar akan mengalami penurunan. Sebagian analis memperkirakan pertumbuhan laba S&P 500 akan turun 10,2% pada kuartal pertama di hitung dari year-on-year.

“Ada analis yang memproyeksikan laba perusahaan global akan turun ke level terendah hingga turun 70% pada tahun 2020. Bank-bank besar Amerika yang mulai melaporkan laba mengalami penurunan laba 40% karena harus membuat pencadangan miliaran dolar untuk menutupi kerugian pada kredit, kartu kredit dan hipotek. Data yang turun mengkonfirmasi dampak buruk dari pandemi Covid-19 ke perekonomian dan perusahaan,” urainya.

Selain itu rencana Amerika Serikat yang akan menunda pendanaan untuk Organisasi Kesehatan Dunia – WHO juga akan turun jadi perhatian negatif pasar. Hal ini menyusul peryataan Presiden Donald Trump yang mengatakan Amerika meninjau respons lembaga tersebut terhadap pandemi Covid-19. WHO dianggap membuat kesalahan yang "menyebabkan begitu banyak kematian" karena virus Covid-19 menyebar di seluruh dunia.

“Langkah ini dianggap negatif oleh pasar, di tengah upaya seluruh Negara bersatu menghadapi Pandemi Covid 19,” tandasnya.

Katalis Positif

Selain kabar ujicoba obat Covid-19 di AS sebagaimana pekan lalu, katalis positif yang diharapkan pelaku pasar masih terkait ekspektasi pandemi Covid 19 sudah menuju titik puncak.

Di Eropa ini membuat timbulnya harapan pada kehidupan yang akan normal setelah berbagai negara mulai merencanakan mencabut pembatasan social pada kehidupan publik dan bisnis. Lockdown telah telah melumpuhkan ekonomi dan bisnis selama pandemi Covid 19.

Beberapa negara merencakan pelonggaran lockdown seperti Spanyol yang mulai mengizinkan beberapa area konstruksi dan manufaktur dibuka kembali. Italia akan membuka beberapa bisnis seperti pembukaan kembali toko buku dan alat tulis serta toko pakaian anak-anak.

Denmark akan membuka kembali sekolah dasar dan taman kanak-kana. Jerman sedang mempertimbangkan bagaimana menerapkan pemulihan secara bertahap. Jerman akan membuka kembali toko-toko pada 20 April dan sekolah pada 4 Mei. Pertemuan massal masih dilarang sampai 31 Agustus.

Tetapi Inggris dan Prancis masih berupaya memperluas langkah-langkah penguncian - lockdown hingga awal Mei.

 

 


 

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN