Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawati melihat pergerakan harga saham melalui layar monitor, di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Karyawati melihat pergerakan harga saham melalui layar monitor, di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pekan Ini, Pasar Saham Suram

Senin, 22 Maret 2021 | 05:53 WIB
Lona Olavia

JAKARTA, investor.id – Laju indeks harga saham gabungan (IHSG) untuk kembali menembus level psikologis 6.500 pada pekan ini dinilai berat. Meski demikian, sejumlah analis masih optimistis bahwa level yang pernah tercapai pada Februari 2019 itu bisa ditembus lagi, meski risiko masih tinggi.

Head of Research PT Henan Putihrai Sekuritas Robertus Hardy memproyeksikan, IHSG pekan ini diperkirakan bergerak mix cenderung melemah. Risiko global menandai bahwa tekanan kenaikan inflasi sepertinya masih akan menghantui para pelaku pasar, di samping kondisi dovish yang diutarakan oleh Ketua Bank Sentral AS Jerome Powell pada akhir pertemuan bulanan The Fed atau Federal Open Market Committee (FOMC).

”Untuk indeks mencapai 6.500 pada pekan ini masih berat, suram. IHSG support 6.268-6.167 dan resistance 6.387-6.472 apabila dapat melanjutkan penguatan,” kata Robertus kepada Investor Daily, Minggu (21/3).

Sedangkan sentimen dalam negeri, lanjutnya, sebenarnya apabila hanya mempertimbangkan tingkat inflasi Februari yang tercatat hanya sebesar 1,38% year on year. Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut, sebab pada akhir Rapat Dewan Gubernur pekan lalu masih dipertahankan di level 3,5%. ”Namun, apabila mempertimbangkan volatilitas nilai tukar rupiah, maka kami melihat langkah Bank Indonesia pekan lalu adalah tepat,” tegas dia.

Robertus menyarankan investor untuk buy on weakness untuk saham-saham berikut pada pekan ini, yakni PT Astra International Tbk (ASII), PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), dan PT Waskita Karya Tbk (WSKT).

Meski tertekan, sejumlah analis masih optimistis bahwa level IHSG yang pernah tercapai pada Februari 2019 bisa tembus lagi, meski resikonya masih tinggi. Apalagi untuk digapai pada perdagangan saham 22-26 Maret 2021 ini.

Kepala Riset Ekuator Swarna Sekuritas David Nathanael Sutyanto juga memproyeksikan, pekan ini IHSG masih akan mengalami tekanan. ”Meningkatnya US Treasury yield, kemudian tekanan pada nilai tukar membuat tekanan pada IHSG,” katanya.

Akan tetapi, adanya volatilitas dari harga komoditas dan juga pekan lalu ada aksi beli dari investor asing membuat IHSG berpotensi menguji resisten di 6.400. ”Pekan depan IHSG akan bergerak pada 6.200-6.500,” sebutnya.

Saham-saham yang menarik untuk dikoleksi pada pekan ini ada di sektor komoditas seperti batu bara yakni PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Adaro Energy Tbk (ADRO). Lalu saham konsumsi seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA). Serta, properti seperti PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) dan PT Ciputra Development Tbk (CTRA).

Sentimen Vaksin

Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengkhawatirkan dalam beberapa saat kedepan, perbankan AS harus melepas US Treasury-nya untuk memenuhi permodalan. Kebijakan ini akan membuat indeks melemah karena ada tekanan yield di pasar obligasi AS kembali. ”Ini pengaruhnya negatif ke IHSG, apalagi yield sempat naik lagi ke 1,7% sehingga IHSG menghadapi tekanan yang relatif terbatas,” katanya.

Tak hanya dari AS, sentimen negatif pasa modal juga datang dari Eropa, dengan lambatnya program vaksin Covid-19 hingga 15 negara di Eropa yang menangguhkan vaksin Covid-19 dari AstraZeneca. “Penghentian ini tentunya menjadi sentimen negatif bagi pasar,” kata Hans.

IHSG pun untuk tembus ke 6.500 pada pekan ini, jelas Hans, akan sulit. Sebaliknya, dia memprediksi IHSG akan apresiasi ke bawah seiring kenaikan yield obligasi AS. ”Investor sebaiknya buy on weakness saat IHSG dibawah 6.000, baru akumulasi beli,” ucapnya.

Sepanjang pekan lalu, IHSG mengalami perubahan sebesar 0,03% dari level 6.358,209 menjadi 6.356,160 pada penutupan perdagangan Jumat (19/3). Sedangkan untuk rata-rata nilai transaksi harian Bursa mengalami perubahan sebesar 4,14% menjadi Rp 11,45 triliun dari Rp 11,95 triliun pada pekan sebelumnya.

Rata-rata frekuensi harian turut mengalami perubahan sebesar 5,97% menjadi 1.137.111 kali transaksi dibandingkan pada penutupan pekan sebelumnya yang mencatatkan 1.209.323 kali transaksi. Perubahan sebesar 6,29% terjadi pada data rata-rata volume transaksi harian menjadi 16,793 miliar saham dari 17,921 miliar saham sepekan yang lalu.

Mengutip data RTI, dalam sepekan ini, investor asing membukukan net buy sebesar Rp 930,15 miliar di seluruh pasar. Sementara di pasar reguler asing mencatatkan net buy sebesar Rp 978,31 miliar.

Sedangkan sepanjang tahun 2021 investor asing mencatatkan beli bersih sebesar Rp 13,726 triliun.  Selama sepekan ini, investor asing paling banyak menjual saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 447,32 miliar.  Disusul PT Astra International Tbk (ASII) Rp 192,47 miliar dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) Rp 90,71 miliar.

Alhasil, pada periode perdagangan selama 15-19 Maret 2021 menunjukkan Pasar Modal Indonesia telah memperoleh kapitalisasi pasar sebesar Rp 7.477,625 triliun atau mengalami peningkatan sebesar 0,53% selama sepekan dibandingkan pekan sebelumnya yang berada pada posisi Rp 7.438,52 triliun.

Di pasar saham Amerika Serikat, dalam sepekan, indeks S&P 500 dan komposit Nasdaq turun 0,8%, sedangkan indeks Dow Jones melemah 0,5%. Seperti dilaporkan Reuters, pada akhir pekan lalu, indeks Dow Jones Industrial Average turun 234,33 poin, atau sekitar 0,71%, menjadi 32.627,97. Indeks S&P 500 berakhir datar dengan pergerakan turun hanya 2,36 poin menjadi 3.913,10. Sementara, Indeks komposit Nasdaq berhasil menguat 99,07 poin atau sekitar 0,76% menjadi 13.215,24.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN