Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan melintas di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Karyawan melintas di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pekan Kedua Desember, Window Dressing Jadi Sentimen Utama Penggerak Pasar

Senin, 7 Desember 2020 | 04:28 WIB
Ghafur Fadillah

JAKARTA, investor.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ini diperkirakan bergerak menguat dalam sepekan ke depan, sejalan dengan berbagai sentimen tren peningkatan harga komoditas hingga aksi Window Dressing yang bakal mewarnai pasar.

Analis PT Sucor Sekuritas Hendriko Gani menjelaskan, penguatan ini disebabkan IHSG yang masih dalam fase Up Trend, didukung dengan aksi Windows Dressing yang biasanya terjadi pada akhir tahun. Selain itu, perkembangan Covid-19 juga menjadi katalis positif yang dapat menjadi penggerak IHSG.

Hendriko Gani
Hendriko Gani

“Sedangkan sentimen lainya yang berpotensi mempengaruhi pergerakan IHSG yakni rilis Foreign Reserves dan Consumer Confidence menjadi kabar yang ditunggu oleh pelaku pasar,” jelasnya saat dihubungi oleh Investor Daily, Minggu (6/12).

Namun Hendriko memperkirakan, perkembangan Covid-19 yang semakin mengkhawatirkan menyebabkan asing cenderung melakukan jual bersih/Net Sell. Meski demikian, dia menyarankan para investor tidak perlu khawatir akan terjadinya koreksi pada IHSG, lantaran dominasi investor lokal yang cukup besar di pasar.

“Terbukti indeks kita tetap menguat walaupun asing Net Sell sejak Maret 2020 lalu, IHSG diproyeksikan berada pada Level Resistance pada rentang 5,592 sampai 5,853,” ujarnya.

Namun, apabila IHSG menunjukkan pelemahan, kesempatan ini sebaiknya dimanfaatkan oleh para investor untuk mencermati saham-saham Big Caps seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).

“Adapun untuk persiapan Window Dressing, saham-saham komoditas yang sedang berada pada fase penguatan seperti PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dapat jadi pilihan,” paparnya.

Hal senada juga diucapkan oleh Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Maximilianus Nico Demus yang mengatakan para pelaku pasar sedang menantikan data Foreign Reserves dan Consumer Confidence Index yang dapat menentukan arah laju IHSG. Sentimen lainnya yakni Initial Jobless Claims dan Continuing Claims Amerika Serikat (AS) yang diproyeksikan meningkat jadi perhatian pasar.

Maximilianus Nico Demus. Foto: IST
Maximilianus Nico Demus. Foto: IST

“IHSG sendiri diperkirakan bergerak di level 5,770 sampai 5,840 dengan potensi menguat, bila target itu terlampaui dapat mencapai level 5,940,” kata dia.

Nico menambahkan, asing saat ini lebih cenderung untuk melakukan jual bersih, hal ini dinilai dilakukan para investor asing untuk mencari keuntungan sementara. Beli bersih dilakukan untuk mendorong harga saham dan menjual saat harga sedang tinggi.

Meski demikian dengan kemenangan Joe Biden sebagai presiden terpilih AS dana asing diprediksi akan terus masuk ke Indonesia. Lantaran Indonesia sebagai pasar Emerging Market merupakan pasar yang menarik untuk tahun depan.

Sementara itu, untuk para investor agar mengutamakan kehati-hatian pada pasar yang cenderung menguat oleh ekspektasi dan harapan yang rapuh. Semisal pada harga saham yang murah saat ini, sebenarnya harga tersebut sudah sesuai secara valuasi dengan kondisi yang ada.

Untuk akhir 2020 para investor disarankan untuk mencermati saham pada sektor perbankan, infrastruktur, Consumer Goods, terutama saham yang berpotensi meningkat oleh aksi Windows Dressing. Meski demikian perhatikan pula saham yang kemungkinan mengalami kenaikkan.

“Meskipun sudah mengalami kenaikan pada bulan November lau, Hit and run masih menjadi pilihan apabila keuntungan sudah didapatkan,”pungkasnya.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN