Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. (BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal)

Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. (BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal)

Pekan Terakhir Jelang Libur Lebaran, Begini Respons Pelaku Pasar Saham

Minggu, 24 April 2022 | 22:53 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) diprediksi berfluktuasi cenderung melemah dalam sepekan ke depan atau pekan terakhir menjelang libur Lebaran. IHSG bakal menguji level terendah (support) 7.100, setelah Jumat lalu (22/4/2022) ditutup terkoreksi 50,5 poin (0,7%) ke posisi 7.225,6. Meski demikian, IHSG akan kembali melaju pada Mei-Juni ke level 7.700.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Martha Christina menegaskan, IHSG kemungkinan bergerak dalam rentang terbatas selama sepekan menjelang Idulfitri. Pelaku pasar cenderung tidak mengambil posisi, karena pasar akan libur panjang. Sementara itu, bank sentral Amerika Serikat, The Fed akan mengumumkan kenaikan suku bunga acuan pada 4 Mei 2022 atau saat Bursa Efek Indonesia (BEI) masih libur. “Jadi, pemodal akan mengantisipasi itu,” kata dia kepada Investor Daily, Minggu (24/4/2022).

Adapun pemodal dapat mencermati beberapa saham dalam sepekan ke depan, terutama bank-bank besar yang akan mengumumkan laporan keuangan kuartal I-2022 seperti BBRI, BMRI, dan BBNI. Pelaku pasar memiliki ekspektasi positif.

Baca juga: Jelang Lebaran, Saham-saham Ini Kasih ‘THR’ Gede

Lebih lanjut Martha mengatakan, konsolidasi pasar saham tergolong wajar, karena IHSG telah beberapa kali mencapai level tertinggi sepanjang masa (all time high). Ditambah, momen akhir bulan puasa yang secara siklus lebih lesu dan rawan profit taking.

“Tapi, kami masih yakin IHSG sampai akhir semester I-2022 bisa kembali bergerak positif ke level 7.700. Sektor-sektornya antara lain infrastruktur, perbankan, industri, serta energi yang sekarang naiknya cukup tinggi,” jelas dia.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menambahkan, untuk sepekan ke depan, saham-saham unggulan dari sektor properti, non-cyclical, infrastruktur, keuangan, serta sektor bahan baku layak untuk dipantau. Untuk IHSG, Nafan juga memprediksi bakal terkoreksi secara wajar.

“Berfluktuasi ini bisa terkoreksi, tetapi tetap ada peluang naik. Investor tetap mengamati dividen dan laporan keuangan kuartal I-2022 yang memang tengah ditunggu-tunggu,” tutur dia.

Nafan yakin sentimen positif laporan keuangan dan pembagian dividen bisa membantu IHSG tidak mengalami fluktuasi atau terkoreksi terlalu dalam. Pun, bisa menahan dampak negatif yang signifikan dari faktor peningkatan ketidakpastian global akibat kenaikan suku bunga acuan oleh The Fed yang diprediksi sebesar 50 bps, serta perang Rusia-Ukraina.

“Sentimen berikutnya dari Asia yang berkaitan dengan lockdown di sejumlah wilayah Tiongkok dalam mengendalikan peningkatan kasus positif Covid-19,” imbuh dia.

Baca juga: Sengit! Giliran BNI (BBNI) Geser Bank Jago (ARTO)

Dari dalam negeri, Nafan menilai fundamental ekonomi Indonesia benar-benar solid, dengan pertumbuhan ekonomi diprediksi mencapai 5% pada akhir 2022. Terlebih, momen lebaran diharapkan turut menopang pertumbuhan ekonomi, sehingga bisa menjadi katalis positif bagi IHSG.

Hal senada juga diungkapkan oleh analis Central Capital Futures Wahyu Tri Laksono. Menurut dia, IHSG sebelum libur panjang Lebaran diperkirakan berada pada kisaran 7.100-7.300 dengan cenderung terkoreksi dalam sepekan ke depan. Secara teknis, IHSG dalam kondisi jenuh beli (overbought), sehingga dinilai wajar terkoreksi setelah getol mengukir rekor tertinggi sepanjang masa.

“Sentimen terbesar masih risiko global. Wall Street yang masih terancam isu moneter dan inflasi, yield sebagai sentimen negatif. Sementara, secara domestik belum terlalu signifikan karena suku bunga kita belum naik, meski mulai ada wacana kesiapan kenaikan oleh BI. Jadi, sentimennya netral,” jelas Wahyu.

Dia menambahkan, harga komoditas global masih dalam tren naik. Alhasil, Indonesia tetap menjadi salah satu negara yang sangat diuntungkan oleh tren bullish tersebut, terutama metal, batu bara, dan komoditas pertambangan yang lain.

Baca juga: Mantap, Kapitalisasi Pasar Bursa Terus Meningkat

“Terkait isu geopolitik Rusia-Ukraina, Wall Street, dan bursa Eropa yang anjlok, IHSG justru anteng-anteng saja sebenarnya. Saat isu-isu tersebut mereda dan Wall Street mulai rebound kuat, IHSG bakal ikutan naik lagi,” papar Wahyu.

Meski Jumat lalu IHSG melemah dan rata-rata frekuensi transaksi serta volume harian turun, nilai kapitalisasi pasar justru naik dan nilai transaksi harian tembus Rp 21,3 triliun. “Sepertinya pasar saham kita masih punya potensi dan daya tarik bagi investor,” tegasnya.

Potensi Naik

Secara terpisah, analis teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memprediksi IHSG dalam sepekan ke depan akan menguji level 7.146 sebagai level terendah (support). Sedangkan prediksi level tertinggi (resistance) di 7.300. “Untuk Senin (25/4/2022) tampaknya masih ada potensi penguatan IHSG walau terbatas, yakni menguji level 7.250.

Namun, menurut Herditya, selama belum mampu menguat di atas 7.355, IHSG masih berada dalam fase bearish. Dia merekomendasikan saham TBIG, TOWR, MTEL, dan INDF yang diperkirakan harganya masih berpeluang menguat.

Pandangan berbeda disampaikan oleh Head of Investment Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe. Dia memperkirakan IHSG sepekan ke depan bisa terkoreksi lebih dalam, dengan level support 7.000. Jika naik pun, mentok di level 7.300.

Baca juga: Winner Nusantara (WINR ) dan Indo Boga (IBOS) Listing Senin, Bagaimana Arah Sahamnya?

“Senin itu waktunya sell terakhir supaya uangnya masuk sebelum libur Lebaran. Kalau sell pada Selasa atau Rabu sudah tidak bisa masuk nanti uangnya, masuknya setelah libur. Jadi, Senin volatilitasnya agak tinggi. Selasa, Rabu, Kamis cenderung stabil,” jelas Kiswoyo.

Di lain pihak, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menyatakan bahwa IHSG mulai memasuki fase konsolidasi. Menurut dia, IHSG tidak akan dapat melakukan penguatan lebih lanjut, bila fase konsolidasi masih belum selesai.

“Apalagi kalau kita perhatikan, IHSG juga sudah mengalami kenaikan yang tidak berhenti sejak 26 Januari lalu. Oleh sebab itu, tampaknya konsolidasi akan menjadi salah satu tahap yang sehat untuk penguatan kembali IHSG,” kata Nico.

Ia menilai, probabilitas penguatan IHSG mulai mengecil secara jangka pendek, hanya sebesar 31% untuk menuju ke 7.255. Karena itu, Nico melihat ada potensi pelemahan yang lebih besar. “IHSG sepekan ke depan akan melemah, seiring pekan terakhir menjelang Lebaran. IHSG akan bergerak dalam rentang 7.150-7.300,” pungkasnya.

Baca juga: Jelang Lebaran, IHSG Masih Bisa Rebound?

Nico menyarankan investor untuk mengamati beberapa saham di sektor infrastruktur, consumer cyclical, consumer non-cyclical, dan keuangan yang mungkin akan mendominasi pasar dalam sepekan ke depan. “Momen Lebaran diperkirakan akan menopang pergerakan harga saham di sektor-sektor tersebut,” ujarnya.

Adapun sektor perbankan, energi, transportasi, dan logistik masih akan menopang IHSG. Peningkatan risiko ketidakpastian global, seperti perang Rusia-Ukraina, inflasi tinggi di berbagai negara maju, kenaikan suku bunga acuan The Fed, dan lonjakan harga komoditas akan tetap mendorong capital inflow ke pasar saham Indonesia. (C02)

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN