Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank BNI. Foto: UTHAN

Bank BNI. Foto: UTHAN

Peluang Pertumbuhan BNI di Tengah Pandemi Korona

Parluhutan Situmorang, Senin, 30 Maret 2020 | 13:08 WIB

JAKARTA, investor.id - PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) akan menghadapi situasi yang penuh tantangan sepanjang tahun ini. Tantangan datang dari perkiraan perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat pandemi Covid-19 (virus Korona) dan ketatnya pendanaan. Meski demikian, perseroan diperkirakan tetap mencetak pertumbuhan kinerja keuangan.

Analis Danareksa Sekuritas Eka Savitri mengungkapkan, emiten perbankan nasional, termasuk BNI, akan fokus terhadap peningkatan kualitas aset seiring dengan penerapan PSAK 71 dan ketatnya likuiditas yang berimbas terhadap tingginya loan to deposit ratio (LDR) bank tahun ini.

Emiten perbankan juga menghadapi tantangan pandemi Covid-19 yang memicu perlambatan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB). Hal ini bisa berimbas terhadap pertumbuhan kredit sektor perbankan nasional dengan target hanya mencapai 7,6% tahun ini. Sejumlah bank juga diperkirakan mengalami penurunan kualitas asetkredit.

“Sedangkan adanya relaksasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait penilai kualitas aset dengan hanya menggunakan satu pilar dari sebelumnya tiga pilar untuk kredit di bawah Rp 10 miliar diharapkan menahan kenaikan NPL lebih tinggi tahun ini. Adapun risiko pelemahan nilai tukar rupiah diperkirakan tetap terkelola dengan baik,” tulis Eka dalam risetnya, baru-baru ini.

Eka sebelumnya menyebutkan bahwa BNI tidak mengalami perubahan besar tahun ini, seperti NIM diperkirakan stabil 4,9% dan biaya kredit (credit cost) diestimasi mencapai 180 basis poin. Namun, kinerja keuangan perseroan keungkinan terimbas penerapan PSAK 71 yang bisa memicu penambahan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN).

“Implementasi PSAK 71 bisa menurunkan CAR BNI, karena perseroan harus menaikkan alokasi pencadangan. Hal ini sejalan dengan keinginan manajemen untuk mengalokasikan dana berkisar Rp 13-15 triliun untuk provisi,” ungkap dia.

Bank BNI. Foto: DAVID
Bank BNI. Foto: DAVID

Berbagai faktor tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBNI dengan target harga Rp 8.000. Target tersebut merefleksikan perkiraan PE tahun ini sekitar 4,4 kali dan PBV mencapai 0,6 kali. Target harga tersebut juga telah mempertimbangkan peluang kenaikan laba bersih perseroan menjadi Rp 16,57 triliun tahun ini dibandingkan realisasi tahunlalu sebesar Rp 15,38 triliun.

BNI mencetak kenaikan laba bersih sebesar 2,5% menjadi Rp 15,38 triliun tahun 2019 dibandingkan realisasi tahun 2018 yang mencapai Rp 15,01 triliun. Sedangkan pendapatan bunga bersih naik dari Rp 35,44 triliun menjadi Rp 36,6 triliun.

Perseroan membukukan penurunan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) perseroan dari 5,3% menjadi 4,9%. Sedangkan rasio kreditbermasalah (NPL) kotor meningkat 31,4% dari Rp 9,74 triliun menjadi Rp 12,8 triliun. Sedangkan pertumbuhan kredit mencapai 8,6% dari Rp 512,77 triliun menjadi Rp 556,77 triliun.

Pandangan senada juga diungkapkan analis Maybank Kim Eng Sekuritas Rahmi Marina. Melalui risetnya, dia menyebutkan bahwa BNI tengah menghadapi sentimen negatif atas perlambatan ekonomi global yang dipicu pandemic Covid-19.

Apalagi, mayoritas penyaluran kredit perseroan ke segmen korporasi. Kondisi ini bakal berimbas terhadap perlambatan pertumbuhan kredit dan kenaikan rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL).

Peluang pelemahan permintaan kredit dipengaruhi oleh ekspektasi penurunan konsumsi dan aktivitas bisnis setelah ekonomi global terpengaruh pandemi Covid-19. Permintaan kredit ekspansi perseroan juga diasumsikan lebih rendah tahun ini dan pemulihan diperkirakan cenderung mendatar hingga tahun depan.

Bank BNI.
Bank BNI.

Berdasarkan perhitungan Maybank Kim Eng Sekuritas bahwa rata-rata pertumbuhan kredit BNI, BRI, Bank Mandiri, dan BCA hanya sebesar 7,5% tahun ini dibandingkan realisasi tahun lalu yang rata-rata sekitar 8,8%.

Sektor perbankan juga diperkirakan tetap mengalami tantangan berlanjutnya likuiditas pendanaan, apalagi LDR hampir semua bank telah mendekati level 94%. Meski demikian, pelemahan pertumbuhan kredit diharapkan menghindarkan bank dari ketatnya kompetisi dalam memperebutkan dana murah masyarakat. Perlambatan ekonomi global dan dalam negeri akibat Covid-19 mendorong Maybank Kim Eng Sekuritas untuk memangkas turun asumsi kinerja keuangan BNI tahun ini.

Perkiraan pertumbuhan kredit diturunkan dari 14,2% menjadi 7% tahun ini. NPL diproyeksikan meningkat dari perkiraan semula 2% menjadi 3,1% tahun ini. Begitu juga dengan perkiraan laba bersih BNI tahun 2020 direvisi turun sebesar 7,9% menjadi Rp 16,73 triliun dari semula yang diperkirakan Rp 18,17 triliun. Target laba bersih tersebut turun dibandingkan realisasi tahun lalu senilai Rp 15,38 triliun. Sedangkan laba sebelum provisi diharapkan meningkat dari Rp 27,88 triliun menjadi Rp 29,98 triliun.

Terkait pertumbuhan kredit, permintaan kredit sektor korporasi diproyeksi turun tahun ini, seperti korporasi BUMN dan swasta. Berdasarkan data, mayoritas kredit BNI disalurkan ke sektor korporasi, yaitu sebesar 33% untuk perusahaan swasta dan sekitar 19% kredit perseroan disalurkan ke BUMN.

Maybank Kim Eng Sekuritas juga memperkirakan bahwa 30% dari kredit dengan perhatian khusus (special mention loans/SML) akan berubah menjadi kredit bermasalah tahun ini, seiring dengan perlambatan ekonomi tahun ini. Hal itu tentu akan berimbas langsung terhadap NPL denganperkiraan meningkat sekitar 80 basis poin menjadi 3,1%.

Berbagai faktor tersebut mendorong Maybank Kim Eng Sekuritas untuk menurunkan target harga saham BBNI dari Rp 9.500 menjadi Rp 7.500 dengan rekomendasi dipertahankan beli. Taget harga tersebut mempertimbangkan perkiraan PBV tahun ini sekitar 1,2 kali dan ROE berkisar 14,8%.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN