Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Logo Tifa Finance.

Logo Tifa Finance.

Pemegang Saham akan Suntik Tifa Finance US$ 46,4 Juta

Senin, 21 September 2020 | 12:45 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id -The Korea Development Bank (KDB) dan Dwi Satrya Utama berencana menyuntikkan modal sebesar US$ 46,4 juta atau sekitar Rp 636,06 miliar kepada PT KDB Tifa Finance Tbk (TIFA). Langkah ini ditempuh  setelah KDB mengambil alih 80,6% saham Tifa Finance. 

Manajemen PT KDB Tifa Finance Tbk mengungkapkan, suntikan modal dilakukan untuk menambah modal Tifa Finance hingga Rp 1 triliun dalam satu tahun ke depan. KDB akan menyuntikkan US$ 39,4 juta dari total komitmen US$ 46,4 juta.  Sisanya akan disuntikkan Dwi Satrya Utama.

Tifa Finance saat ini memiliki modal US$ 36,6 juta atau Rp 509,39 miliar. Modal awal ini merupakan hasil transaksi akuisisi yang meningkat dari nilai awal sebesar Rp 452,79 miliar.

"Dengan adanya suntikan modal Rp 636,06 miliar, jumlah total modal awal KDB Tifa Finance diharapkan menjadi Rp 1,14 triliun," ujar manajemen berdasarkan publikasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (21/9).

Dengan modal minimal Rp 1 triliun, menurut manajemen Tifa Finance, perseroan bisa lebih leluasa menjalankan usaha, terutama di bidang pembiayaan infrastruktur. “Ini seperti disyaratkan Peraturan OJK (POJK) No 35 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan,” jelas manajemen Tifa Finance.

Manajemen Tifa Finance menjelaskan, dengan masuknya KDB, perseroan juga akan mendapakan sumber pendanaan baru yang dapat menurunkan rasio utang jangka pendek terhadap modal (gearing ratio).

"KDB dan bank induk juga akan memberikan jaminan atau pinjaman pemegang saham agar Tifa Finance bisa mendapatkan biaya dana yang lebih rendah sehingga bisa mewujudkan kemandirian Tifa Finance sebagai penerbit obligasi tunggal di industri multifinance," papar manajemen.

Pembiayaan Infrastruktur

Setelah mendapatkan suntikan modal sebesar Rp 1 triliun, menurut manajemen Tifa Finance, pemegang saham berharap perseroan bisa memulai bisnis pembiayaan infrastruktur pada 2021. Dengan masuk ke pembiayaan infrastruktur, kinerja Tifa Finance diharapkan bisa meningkat dengan target aset US$ 171 juta pada 2021. "Net interest margin (NIM) juga diharapkan meningkat menjadi 10,8% pada 2021," jelas manajemen.

Sementara itu, hingga semester I-2020, Tifa Finance membukukan laba bersih Rp 13,87 miliar, turun 19,73% dibandingkan semester I-2019 yang mencapai Rp 17,28 miliar.

Penurunan laba terjadi seiring menurunnya pendapatan yang pada semester I-2020 tercatat Rp 81,44 miliar. Padahal, pada semester I-2019, perseroan membukukan pendapatan Rp 101,23 miliar.

Penurunan juga terjadi dari sisi aset, yakni dari Rp 1,21 triliun pada akhir 2019 menjadi Rp 1,08 triliun pada semester I-2020. Begitu juga liabilitas, turun menjadi Rp 700,84 miliar dari periode akhir 2019 yang mencapai Rp 841,35 miliar.

Sebelumnya, Tifa Finance mendapatkan pembiayaan dari sejumlah bank, di antaranya dari PT Bank JTrust Indonesia Tbk (BCIC) senilai Rp 100 miliar dan dari PT Bank Harda Internasional Tbk (BBHI) sebesar Rp 10 miliar. PT Bank Mayora juga memberikan fasilitas pinjaman sebesar Rp 100 miliar. Bank lainnya, PT Bank MNC International Tbk (BABP), juga memberikan pinjaman senilai Rp 50 miliar.

Secara total, pinjaman yang diterima Tifa Finance hingga semester I-2020 mencapai Rp 537,74 miliar, turun dibandingkan akhir 2019 yang mencapai Rp 615,51 miliar.

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN