Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Pengembangan BEI Hasan Fawzi

Direktur Pengembangan BEI Hasan Fawzi

Penambahan Investor Ritel Tembus Rekor Tertinggi

Senin, 21 Desember 2020 | 08:52 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id) ,Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA – Jumlah penambahan investor ritel di pasar modal mencatat rekor tertingginya pada 2020. Karena itu, regulator pasar modal berkomitmen menyempurnakan regulasi, tingkat kepatuhan, tata kelola, penegakan hukum, meningkatkan perlindungan nasabah untuk meningkatkan kepercayaan investor.

Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Hasan Fawzi mengatakan, peran investor domestik cukup signifikan terhadap pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) selama tahun 2020 ini, baik dari sisi kepemilikan saham maupun aktivitas transaksinya. Per 30 November 2020, BEI mencatat, kepemilikan investor domestik di saham mencapai Rp 3.491 triliun atau 50,44% dari total kepemilikan di pasar saham.

"Porsi kepemilikan saham investor ritel domestik pun terus naik, dari 10,6% pada 2019 menjadi 12,6% pada November 2020," kata dia kepada Investor Daily, Sabtu (19/12).

Hasan menyatakan, jumlah penambahan investor ritel mencatat rekor tertingginya pada 2020. Hingga 18 Desember 2020 sudah terjadi penambahan lebih dari 527 ribu investor baru saham atau meningkat 47,71% dari 2019.

"Ini menjadi rekor tertinggi penambahan investor saham sepanjang sejarah pasar modal Indonesia. Rekor penambahan jumlah investor saham pada tahun ini naik lebih dari dua kali lipat dibanding rekor sebelumnya di tahun 2019 lalu sebanyak 252 ribu investor saham baru," terang dia.

Investor baru dengan rentang usia 18-25, jelas Hasan bertambah 226 ribu orang atau 43% dari total investor baru saham sepanjang 2020. Kenaikan ini semakin memperbesar dominasi investor muda dengan usia di bawah 40 tahun yang tahun ini mencapai 71% dari total investor, angka tertinggi sepanjang sejarah pasar modal.

Nilai transaksi harian saham di pasar modal juga didominasi oleh investor domestik. Dari transaksi harian Rp 8,42 triliun per 30 November 2020, sekitar 66,9% dilakukan oleh investor domestik. Sebanyak 45,9% dari 66,9% tersebut dilakukan oleh investor domestik ritel dan 21% oleh investor domestik institusi.

"Lonjakan peningkatan jumlah dan aktivitas investor domestik ritel ini sangat berperan dalam mendorong lonjakan IHSG, dan juga menjadi penopang ketahanan pasar modal Indonesia," ujar dia.

Hasan berpendapat, peningkatan investasi di saham disebabkan karena belum pulihnya konsumsi akibat Covid-19. Selain itu, kepercayaan investor meningkat terhadap potensi pemulihan ekonomi nasional yang akan mendorong perbaikan kinerja perusahaan tercatat di bursa. 

Namun, Hasan mengakui, memang perlu dorongan untuk mengubah lingkungan dari saving society menjadi investment society. Hal ini bisa dilakukan dengan mengedukasi masyarakat untuk meningkatkan kesadarannya berinvestasi. Di sisi lain, pasar modal harus berbenah sehingga bisa menjadi sarana investasi yang menguntungkan, mudah, nyaman, murah, dan memberikan perlindungan yang baik bagi para investor.

Dia menjelaskan, pada 2020 ini, Bursa telah menerapkan kebijakan simplifikasi pembukaan rekening efek secara full online. BEI juga menggelar kegiatan edukasi masif secara digital untuk memacu kesadaran dan pemahaman dalam berinvestasi di pasar modal.

Dari sisi tata kelola dan regulasi, lanjut Hasan, BEI juga akan menyempurnakan regulasi, kepatuhan, tata kelola, dan penegakan hukum, di samping mengedepankan aspek keterbukaan, pembinaan, keadilan, dan kepastian bagi semua pihak.

Strategi lain yang dilakukan Bursa untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat di pasar modal adalah dengan terus melakukan edukasi berkelanjutan, memastikan kepatuhan regulasi dan law enforcement. Hasan mengharapkan kinerja perusahaan tercatat bisa meningkat dan keterbukaan informasi kepada publik dilakukan dengan baik.

"Dengan solusi teknologi informasi, komunikasi, dan digitalisasi, berbagai upaya tersebut bisa ditingkatkan secara efektif dan masif," papar dia.

Di lain pihak, Head of Economy Research PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C Permana mengatakan, jumlah investor ritel yang meningkat akhir-akhir ini berpengaruh signifikan terhadap pergerakan IHSG.

"Peningkatan jumlah investor ritel ini seiring dengan meningkatnya financial literacy di pasar modal dan juga adanya produk surat berharga negara (SBN) ritel, program 'nabung saham' dan adanya platform yang menyediakan produk reksa dana," ucap dia.

Ke depan, untuk meningkatkan investasi di pasar modal ini, Fikri berpendapat regulator harus memberikan kepastian hukum kepada para pelanggar di pasar modal. Selain itu, diperlukan juga keamanan data nasabah untuk memperkuat kepercayaan mereka.

Adapun Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan mengatakan, investor ritel domestik mengambil peran penting dalam penguatan IHSG sepanjang tahun ini, utamanya terlihat selama semester II-2020.

Dara Praus Capital menunjukkan, porsi investor ritel pada sektor saham telekomunikasi mencapai 19,17% per akhir November 2020, naik 55% dibanding akhir Juni 2020 sebesar 12,35%. Kemudian, di sektor makanan dan minuman ada lompatan 34% menjadi 33,72%, di sektor perkebunan terjadi lonjakan 31% menjadi 33,45%, dan di sektor rokok terjadi kenaikan 19% menjadi 37,33% per akhir November.

Lebih lanjut, di sektor farmasi terdapat peningkatan 15% menjadi 17,96%, di sektor perbankan ada kenaikan 14% menjadi 20,56%, dan di sektor semen porsi investor ritel meningkat 12% menjadi 22,22%. Sementara itu, di sektor kesehatan tercatat kenaikan 11% menjadi 17,78%, di sektor batu bara terekam lonjakan 4% menjadi 25,84%, dan di sektor kontruksi terjadi lompatan porsi investor ritel 2% menjadi 39,50% hingga akhir November, dibanding akhir Juni 2020.

“Faktor investor ritel ini ditambah lagi dengan faktor eksternal sehingga membuat IHSG menguat cukup bagus. Kita lihat vaksin Covid-19 mulai didatangkan, hasil pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) juga sudah tidak ada beban lagi,” jelas dia kepada Investor Daily, Sabtu (19/12).

Menurut Alfred, perlu adanya riset mendalam untuk mengetahui tren peralihan investasi dan dari bank ke instrumen pasar modal lantaran banyak indikator. Salah satunya memang dana pihak ketiga bank yang turun, namun muncul tren penambahan nilai transaksi dan investor di pasar modal. Sekuritas telah banyak yang mengalami penambahan investor baru sepanjang tahun ini.  

Penambahan investor baru khususnya milenial, kata Alfred, perlu direspons otoritas dengan pengawasan yang lebih ketat terhadap bentuk-bentuk penawaran investasi yang hanya mencari sensasi. “Kami berharap investor ritel berakhir happy ending. Saat ini banyak saham yang fundamentalnya tidak jelas menjadi sasaran promosi investasi,” kata Alfred.

Nantinya ketika investor sudah memiliki pemahaman yang mendalam mengenai investasi, OJK ataupun BEI bisa lebih banyak memfasilitasi produk-produk baru di pasar modal. “Penambahan instrumen baru di pasar modal tidak bisa dipaksakan, karena percuma jika instrumen bertambah, tapi literasi investornya kurang,” ujar Alfred.
Equity Analyst PT Philip Sekuritas Indonesia, Anugerah Zamzami Nasr mengatakan, lonjakan IHSG selama sepekan didorong oleh peran investor ritel lokal. Dia juga melihat terdapat peralihan dana dari bank ke instrumen pasar modal. “Investor mencari instrumen investasi yang memberikan potensi return lebih besar seperti saham,” ujar dia.
Karena itu, Zamzami mengimbau pentingnya edukasi dan mempermudah regulasi di pasar modal agar terjadi perubahan dari saving society ke investment society. “Pemerintah juga perlu mengurangi pajak dividen. Instrumen derivatif saham perlu diperbanyak,” kata dia.
Sedangkan untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pasar modal, dia menyarankan agar nilai penjaminan ditingkatkan. Sedangkan seluruh stakeholder harus menjunjung tinggi integritas dan etika.

 

Editor : Hari Gunarto (hari_gunarto@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN