Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi investasi. Foto: Gerd Altmann (Pixabay)

Ilustrasi investasi. Foto: Gerd Altmann (Pixabay)

Penawaran Lelang Bisa Capai Rp 75 T, Harga SUN Diprediksi Menguat Terbatas

Senin, 1 Februari 2021 | 05:35 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Harga surat utang negara (SUN) diprediksi bergerak menguat terbatas selama pekan ini, karena aliran dana asing (capital inflow) kemungkinan tidak signifikan. Sementara itu, lelang SUN pada pekan ini diperkirakan bisa menarik penawaran investor sekitar Rp 55-75 triliun.

Associate Director of Fixed Income PT Anugerah Sekuritas Ramdhan Aria Maruto mengatakan, imbal hasil (yield) SUN diperkirakan bergerak dalam rentang yang sempit, karena harga SUN masih cenderung datar. Pihaknya memperkirakan yield seri acuan bertenor 10 sekitar 6,2-6,35% selama pekan ini.

“Saat ini, masih ada kehati-hatian investor, baik di primary maupun secondary market. Pelaku pasar menanggapi grafik kasus Covid-19 yang tetap tinggi dan berpotensi mengganggu pertumbuhan ekonomi tahun ini,” kata dia kepada Investor Daily, Minggu (31/1).

Tahun ini, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan laju perekonomian Indonesia akan tumbuh 4,8% atau lebih rendah dari target pemerintah berkisar 5%. Sementara itu, sejak pekan lalu, jumlah kasus positif Covid-19 telah mencapai lebih dari 1 juta kasus.

Ramdhan menjelaskan, pemerintah memang tak tinggal diam dan terus berupaya menyelesaikan tantangan domestik akibat pandemi. Hal ini salah satunya tercermin dari besarnya nilai SUN yang dilelang sejak awal tahun demi memenuhi sebagian target pembiayaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2021. “Pada awal 2021, pemerintah cenderung melakukan lelang di atas Rp 30 triliun, berbeda dengan awal 2020 yang sekitar Rp 20-25 triliun,” tutur dia.

Pada Selasa (2/2), Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) akan melelang tujuh seri SUN dengan target indikatif Rp 35 triliun dan maksimal Rp 52,5 triliun. Masing-masing surat utang jatuh tempo pada 5 Mei 2021, 3 Februari 2022, 15 April 2026, 15 Februari 2031, 15 Juni 2036, 15 April 2040, dan 15 Agustus 2051.

Associate Director of Research Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, lelang obligasi konvensional akan menjadi sebuah saksi, apakah pelaku pasar dan investor mulai masuk ke pasar obligasi dalam negeri atau tidak. Total penawaran yang masuk dalam jumlah besar hanya terjadi satu kali dan penawaran itu pun hanya terjadi pada awal tahun.

“Lalu, bagaimana sisanya? Pelaku pasar dan investor seolah-olah ragu dan khawatir untuk masuk ke pasar obligasi, karena di satu sisi pasar saham sedang gegap gempita. Sekarang di tengah penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG), tentu menjadi pilihan bagi pelaku pasar dan investor untuk masuk ke obligasi,” kata Nico.

Dia menambahkan, pihaknya memprediksi total penawaran yang masuk akan berkisar Rp 55-75 triliun. Apabila imbal hasil yang diminta investor tidak terlalu tinggi, tidak menutup kemungkinan pemerintah akan menyerap target maksimalnya yaitu Rp 52,5 triliun.

Pekan ini, lanjut Nico, yield obligasi berpotensi mengalami penurunan, antara lain yield seri bertenor lima tahun akan bergerak pada rentang 5,05-5,25%, sementara yield tenor 10 tahun pada kisaran 6,15-6,3%. Selanjutnya, yield seri tenor 15 tahun akan bergerak 6,25%-6,4% dan yield seri bertenor 20 tahun pada kisaran 6,8-6,9%.

Nico mengakui bahwa Januari 2021 tidak memberikan efek signifikan ke pasar obligasi. Hal ini sekaligus menegaskan pasar obligasi tidak mengalami kenaikan capital inflow selama Januari lalu. Pihaknya mencatat, capital inflow ada, namun ternyata tidak sebesar yang diharapkan. “Ketidakpastian terkait dengan pemulihan perekonomian masih menjadi penyebab ragunya asing untuk masuk ke dalam pasar obligasi dalam negeri,” jelas dia.

Menurut Nico, di tengah tingginya volatilitas pasar karena ketidakpastian, obligasi jangka pendek masih menjadi sebuah pilihan, karena akan mengurangi tingkat volatilitas. Namun, investor disarankan tetap maksimalkan keuntungan dengan menaruh porsi investasi pada obligasi jangka panjang yang bertenor lebih dari 20 tahun.

Pihaknya melihat masih ada peluang tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia kembali diturunkan. Obligasi acuan untuk seri 5 dan 10 tahun yang menjadi pilihan tepat saat ini adalah FR 86 dan FR 87. Untuk jangka panjang, seri FR 83 bisa dikoleksi.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN