Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Lippo Karawaci. Foto: whatsnewindonesia.com

Lippo Karawaci. Foto: whatsnewindonesia.com

Pendapatan Lippo Karawaci yang Disesuaikan Meningkat 16%

Farid Firdaus, Jumat, 29 Mei 2020 | 17:15 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) membukukan pendapatan yang telah disesuaikan sebesar Rp 12,25 triliun pada 2019, meningkat 16% dibandingkan 2018 yang sebesar Rp 10,62 triliun. Hal itu pasca penyesuaian penjualan tanah yang tidak berulang sebesar Rp 65 miliar pada 2019 dan Rp 838 miliar pada 2018.

Sementara, jika sesuai dengan laporan keuangan 2019, pendapatan perseroan mencapai Rp 12,32 triliun, meningkat sebesar 7,6% dibandingkan Rp 11,45 triliun yang tercatat pada 2018. Pendapatan didorong oleh pertumbuhan recurring revenue yang kuat, terutama dari segmen healthcare, yakni PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO).

Pertumbuhan tersebut diimbangi oleh penurunan pada bisnis properti dari tahun ke tahun, terutama terkait dengan laba yang terjadi sesekali pada periode kuartal II-2018 dan kuartal III-2018. Sementara itu, hal positif lainnya pada tahun 2019 adalah pencapaian pra-penjualan yang senilai Rp 1,85 triliun, meningkat 15,5% dibandingkan 2018 yang sebesar Rp 1,6 triliun.

CEO Lippo Karawaci John Riady mengatakan, pada kuartal IV-2019, Lippo Karawaci terus menunjukkan kemajuan dalam rencana transformasi bisnis. Pra-penjualan pada kuartal IV-2019 merupakan pra-penjualan kuartal tertinggi untuk tahun tersebut.

“Realisasi penawaran umum terbatas secara signifikan juga telah meningkatkan posisi kas dan setara kas kami untuk mengatasi krisis yang diciptakan oleh Covid-19, serta membangun fondasi untuk bangkit kembali pasca Covid-19,” kata John dalam keterangan resmi, Jumat (29/5).

Perseroan menyatakan kembali target pra-penjualan pada 2020 sebesar Rp 2,5 triliun. Adapun pada kuartal I-2020, realisasinya telah mencapai 28% dari target atau sebesar Rp 703 miliar.

Sementara itu, anak usaha perseroan, Siloam Hospitals mencatat pertumbuhan pendapatan yang kuat pada 2019 sebesar 17,7% menjadi Rp 7,02 triliun dibandingkan tahun sebelumnya Rp 5,96 triliun. Pencapaian ini berkontribusi terhadap 75,1% dari total pendapatan recurring pada 2019 dibandingkan tahun 2018 yang sebesar 71,3%. Pada kuartal IV-2019, Siloam membuka rumah sakit baru, yakni Siloam Paal Dua di Manado, sehingga menambah total rumah sakit menjadi 37 rumah sakit.

Adapun pendapatan dari segmen bisnis Lippo Karawaci real estate management dan services meningkat 13,2% menjadi Rp 9,2 triliun, yang merupakan 74,8% dari total pendapatan tahun 2019 dibandingkan tahun 2018 yang sebesar 71,1%.

Lebih lanjut, pendapatan real estate development pada 2019 turun 3,8% menjadi Rp 2,98 triliun dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 3,09 triliun. Bisnis ini memberikan kontribusi sebesar 24,1% dari total pendapatan tahun 2019 dibandingkan 2018 yang sebesar 27%.

Penjualan sesekali pada 2018 dan 2019 merupakan penjualan tanah Meikarta ke MSU di Lippo Cikarang, yang merupakan pendapatan tidak berulang masing-masing sebesar Rp 838 miliar dan Rp 65 miliar. Jika perhitungan menyesuaikan penjualan sesekali tersebut, pendapatan real estate development meningkat sebesar 29% pada 2019.

Sedangkan EBITDA Lippo Karawaci pada kuartal IV-2019 meningkat sebesar 7,9% menjadi Rp 397 miliar dibandingkan kuartal III-2019 yang sebesar Rp 368 miliar. Seperti dilaporkan, EBITDA 2019 menurun sebesar 43,4% menjadi Rp 1,3 triliun dari tahun sebelumnya yang senilai Rp 2,3 triliun.

Hal tersebut terutama disebabkan oleh biaya sesekali dan biaya konstruksi yang lebih tinggi untuk memulai kembali beberapa proyek konstruksi terintegrasi di bisnis real estate development pada 2018. Selain itu, ada penyesuaian biaya non-tunai sesekali di Siloam pada 2019, yang menyebabkan margin EBITDA tahun 2019 turun menjadi 11% dari tahun 2018 yang sebesar 20%.

Di Siloam, yang mendasari pertumbuhan EBITDA sebesar 26% adalah perbaikan kinerja dari berbagai segmen, dimana kerugian EBITDA di rumah sakit baru turun menjadi Rp 23 miliar pada kuartal IV-2019 dari Rp 26 miliar pada kuartal III-2019 atau membaik sebesar 11,5%.

Pada 2019, Siloam melaporkan pertumbuhan EBITDA yang kuat sebesar 26,2% yang disebabkan oleh pendapatan yang lebih tinggi dan kontrol biaya yang lebih baik di berbagai segmen bisnis. Sebagai hasil dari beberapa penyesuaian biaya sesekali, EBITDA yang dilaporkan oleh Siloam terkena dampak sebesar Rp 123,3 miliar. Secara keseluruhan, Lippo Karawaci melaporkan rugi bersih tahun 2019 sebesar Rp 1,98 triliun dibandingkan 2018 yang mencatat laba bersih sebesar Rp 720 miliar.

Lippo Karawaci telah memperkuat posisi kasnya dengan saldo kas dan setara kas sebesar Rp 4,69 triliun pada 2019 dibandingkan per akhir 2018 yang sebesar Rp 1,82 triliun. Tahun lalu, perseroan melaporkan total utang sebesar Rp 12,25 triliun dibandingkan tahun sebelumnya Rp 14,87 triliun atau berkurang sebesar Rp 2,62 triliun.

Sebagai hasilnya, rasio utang bersih terhadap ekuitas perseroan meningkat secara signifikan menjadi 0,22 kali pada 2019 dibandingkan 2018 yang sebesar 0,53 kali. Perusahaan berencana untuk memanfaatkan peluang untuk mendiversifikasi utang dari dolar Amerika Serikat (AS) dengan lebih banyak utang dalam mata uang rupiah. Saat ini, utang berdenominasi dolar AS perseroan sebesar 92% dari total utang.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN