Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Emas Antam. Foto: B1 photo/Joe

Emas Antam. Foto: B1 photo/Joe

Penjualan Antam Naik 29,4%, Emas Jadi Kontributor Terbesar

Kamis, 16 April 2020 | 21:18 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) meraih penjualan sebesar Rp 32,71 triliun pada 2019, naik 29,4% dibandingkan perolehan pada 2018 sebesar Rp 25,27 triliun. Kenaikan ditopang oleh pertumbuhan tingkat produksi dan penjualan komoditas utama perseroan.

Kontribusi penjualan terbesar Antam masih berasal dari komoditas emas dengan nilai penjualan sebesar Rp22,46 triliun pada 2019, naik 34,4% dibanding perolehan 2018 Rp 16,70 triliun. Sementara penjualan feronikel pada 2019 senilai Rp4,87 triliun, bijih nikel Rp3,7 triliun, bijih bauksit Rp758 miliar, aluminia senilai Rp547,3 miliar, perak senilai Rp151,96 miliar, batu bara Rp50,4 miliar, dan logam lainnya Rp2,2 miliar.

Sekretaris Perusahaan Antam Kunto Hendrapawoko mengatakan, perseroan mencatatkan volume produksi feronikel sebesar 25.713 ton nikel dalam feronikel (TNi), naik 3% dari capaian 2018 dengan tingkat penjualan mencapai 24.212 TNi, tumbuh 9% secara tahunan. Sementara pada komoditas emas, perseroan berhasil menjual 34.016 kg, tumbuh 22% secara tahunan.

“Antam mencatat total volume produksi emas dari tambang Pongkor dan Cibalung sebesar 1.963 kg pada 2019,” jelas dia dalam keterangan resmi, di Jakarta, Kamis (16/4).

Untuk komoditas bijih nikel, Antam berhasil menjual 7,6 juta wet metric ton (wmt) dengan tingkat produksi 8,7 juta wmt. Sementara komoditas baukesit turut memberikan kontribusi positif dengan produksi sebanyak 1,73 juta wmt dan penjualan 1,66 juta wmt sepanjang 2019.

Tahun lalu, perseroan membukukan laba kotor Rp 4,45 triliun dengan laba usaha Rp 955 miliar. Perseroan juga turut mencatatkan kenaikan beban pokok penjualan sebesar 37,15% menjadi Rp 28,27 triliun, dan beban usaha naik 12,43% menjadi Rp 3,49 triliun seiring dengan kenaikan volume produksi dan penjualan.

Sementara itu, perseroan membukukan beban lain-lain sebesar Rp 268 miliar, yang terdiri dari pendapatan dan beban keuangan, kerugian kurs, kerugian entitas asosiasi dan ventura bersama. Alhasil, laba bersih perseroan mengalami penurunan hingga 88,2% menjadi Rp 193,85 miliar dengan tingkat EBITDA mencapai Rp 2,3 triliun pada 2019.

Adapun, seiring dengan selesainya proses akuisisi keseluruhan saham PT Indonesia Chemical Alumina (PT ICA) oleh perseroan, maka terdapat konsolidasi secara penuh laporan keuangan PT ICA. Perseroan pun reklasifikasi pos keuntungan akuisisi itu sehingga terdapat penyajian kembali laporan keuangan 2018.

Pada 2019, PT ICA telah memproduksi alumina sebesar 104 ribu ton dengan tingkat penjualan sebesar 71 ribu ton. Perolehan tersebut jauh lebih besar dibandingkan dengan capaian 2018, yaitu produksi hanya mencapai 13 ribu ton dan penjualan sebesar 8 ribu ton.

“Di tengah tantangan pengoperasian pabrik serta aspek pemasaran produk dalam kondisi harga jual yang berfluktuasi, komoditas alumina diharapkan mampu memberikan kontribusi yang semakin positif bagi kinerja perseroan di masa mendatang,” kata Kunto.

Dengan nilai kas dan setara kas sebesar Rp 3,64 triliun, Antam masih memiliki posisi keuangan yang solid untuk mendukung pengembangan bisnis perseroan. Antam senantiasa terbuka untuk menjalin kerja sama dengan mitra strategis dalam mengembangan proyek hilirisasi berbasis nikel, emas dan baukesit.

Salah satu bentuk kerja sama tersebut adalah kolaborasi antara Antam dengan Shandong Xinhai melalui penandatanganan perjanjian pendahuluan (head of agreement/Hoa) antara kedua belah pihak terkait pengembangan smelter yang telah dilakukan sebelumnya.  

Rencananya, smelter tersebut akan menggunakan teknologi rotary kiln electric furnace 4 X 48 megawatt berkapasitas 40 ribu TNi pada tahap pertama. Dalam HoA tersebut, para pihak akan bekerja sama dalam penyusunan studi kelayakan serta persiapan aktivitas lainnya terkait pengembangan bisnis.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN