Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tambang batu bara Bukit Asam. Foto: UTHAN

Tambang batu bara Bukit Asam. Foto: UTHAN

Penyerapan 'Capex' Bukit Asam Rendah

Minggu, 27 September 2020 | 20:27 WIB
Thereis Love Kalla (thereis.kalla@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) telah menyerap anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar Rp 1 triliun hingga semester I-2020. Realisasi tersebut setara 25% dari total anggaran tahun ini Rp 4 triliun.

Direktur Utama Bukit Asam Arviyan Arifin mengatakan, sebagian besar capex diserap untuk membiayai pembangunan proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Sumsel 8. Progres pengerjaan proyek yang ditargetkan rampung pada kuartal I-2022 telah mencapai 65% dan ditargetkan selesai akhir tahun ini.

“Sebagian capex digunakan untuk investasi rutin, yang sifatnya logistik dan pengembangan usaha. Teruntuk juga progres proyek Sumsel 8 dan gasifikasi operasional. Sisanya untuk unit Pelabuhan Tarahan (Peltar) maupun Kertapati, Palembang,” ujar Arviyan dalam acara Corporate Action di Berita Satu TV, baru-baru ini.

Dia mengatakan, rendahnya penyerapan belanja modal hingga semester I-2020 tersebut dipengaruhi oleh sejumlah efisiensi yang dilaksanakan perseroan. Sebagaimana diketahui, pandemi Covid-19 yang mengakibatkan lockdown di beberapa negara berimbas negatif terhadap permintaan batu bara, sehingga menekan kinerja keuangan pada kuartal pertama 2020.

Faktor tersebut mendorong perseroan untuk menerapkan sejumlah efisiensi dalam operasional produksi sebagai antisipasi penurunan permintaan tersebut. Efisiensi tersebut berimbas terhadap penyerapan belanja modal.

Dia menambahkan, perseroan telah melakukan transformasi bisnis dengan membangun pabrik gasifikasi batu bara yang menghasilkan dimetil eter (DME). Pasokan DME nantinya untuk memenuhi kebutuhan LPG, PT Pertamina yang selama ini masih dominan impor. Adapun proyek ini juga bekerja sama dengan Air Products and Chemical Inc sebagai penyedia teknologi.

“Jadi kalau pabrik ini berhasil dikembangkan dalam tiga sampai empat tahun ke depan, ketergantungan impor LPG Indonesia akan berkurang, sehingga menghemat cadangan devisa dan menumbuhkan industri dalam negeri, serta memanfaatkan batubara kalori rendah kami yang selama ini masih sulit dimanfaatkan penggunaannya,” jelas Arviyan.

Guna menekan biaya logistiknya, perseroan telah bekerja sama dengan Pelindo II untuk menjadikan angkutan sungai sebagai moda transportasi untuk membawa hasil produksi perseroan. Dengan kerja sama ini, diharapkan dapat mendorong penambahan kapasitas perseroan untuk kedepannya. “Kami harapkan sekitar target volumenya bisa mencapai 20-30 juta ton per tahun, tergantung kapasitas tongkang yang saat ini tengah dipelajari,” ujar Arfiyan.

Di sisi lain, langkah untuk memproduksi energi terbarukan, juga telah dilakukan perseroan dengan bekerja sama dengan PT Angkasa Pura II, untuk membangun solar panel pada atap Gedung Airport Operation Control Center (AOCC) Bandara Soekarno Hatta Tangerang, Banten. Pemasangan solar panel akan berlanjut pada bandara milik Angkasa Pura yang lainnya, untuk mewujudkan transformasi energi terbarukan.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN