Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Surat utang. Foto ilustrasi: DAVID

Surat utang. Foto ilustrasi: DAVID

Perang Dagang Mereda, Pasar Surat Utang Lanjutkan Penguatan

Farid Firdaus, Senin, 9 Desember 2019 | 07:18 WIB

JAKARTA, investor.id – Harga surat utang negara (SUN) sepanjang pekan ini diprediksi menguat seiring mengecilnya imbal hasil (yield). Aksi pemerintah yang memutuskan untuk tidak menggelar lelang surat berharga syariah negara (SBSN) pekan ini berpotensi membuat transaksi di pasar sekunder meningkat.

Associate  Director Fixed Income PT Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto mengatakan, pihaknya mencatat setidaknya dalam 10 hari terakhir harga SUN mengalami konsolidasi dan terjadi pelemahan tipis. Hal ini dipicu oleh ketidakpastian dari ekonomi global khususnya negosiasi dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

“Namun, ketegangan negosiasi tersebut mulai mereda, sehingga pada Kamis dan Jumat lalu, SUN mampu menguat kembali dan diperkirakan berlanjut pada pekan ini,” jelas dia kepada Investor Daily di Jakarta, Minggu (8/12).

Ramdhan menambahkan, menjelang akhir tahun adalah waktu yang tepat bagi investor untuk merapikan portofolio obligasinya. Sementara, pasokan dari pasar primer sudah berkurang karena pemerintah tidak menggelar lelang sejak pekan lalu, maka transaksi akan masuk banyak masuk di pasar sekunder.

Seperti diketahui, Direktorat Jendral Pengelolaan Pembiayaan danRisiko Kementerian Keuangan telah mengumumkan untuk membatalkan lelang pada 3 dan 10 Desember. Penghentian ini setelah mempertimbangkan outlook pemenuhan pembiayaan untuk tahun 2019 telah terpenuhi.

Head of Fixed Income Division PT Indomitra Securities Maximilianus Nico Demus. Foto: id.linkedIn
Head of Fixed Income Division PT Indomitra Securities Maximilianus Nico Demus. Foto: id.linkedIn

Secara terpisah, Associate Director Head of Research and Investment PT Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus memprediksi, yield SUN akan mengalami penurunan pekan ini. Yield seri SUN lima tahun akan bergerak pada kisaran 6,45-6,52% dan yield seri 10 tahun diproyeksikan pada rentang 7,05-7,15%. Sementara itu, yield SUN seri 15 tahun berpotensibergerak pada kisaran 7,5-7,65%, sementara yield seri 20 tahun di rentang 7,55-7,65%.

Menurut Nico, lantaran sentiment mayoritas datang dari luar negeri, maka pelaku pasar akan mencermati data inflasi AS yang akan dirilis pada 11 Desember. Pihaknya melihat ada peluang data inflasi mengalami kenaikan dari sebelumnya 1,8% menjadi 2%. “Sejauh ini, target inflasi dari AS sudah sesuai dengan yang diinginkan, namun pertanyaannya adalah, apakah inflasi tersebut sudah cukup konsisten atau belum,” jelas dia.

Pekan ini, lanjut Nico, investor juga menanti hasil pertemuan dewan Bank Sentral AS, The Fed, dalam Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan pada 12 Desember.

Secara garis besar, pihaknya memperkirakan bahwa The Fed tidak akan mengubah tingkat suku bunganya. Justru yang dicermati adalah bagaimana The Fed memandang perekonomian AS saat ini, dan pergerakan tingkat suku bunga tahun depan yang berpotensi ada potensi pemangkasan sebanyak satu kali.

Tak hanya The Fed yang akan melakukan pertemuan, Bank Sentral Eropa (ECB) juga turut menggelar pertemuan pekan ini. Hal tersebut bakal menjadi pertemuan ECB pertama kali yang akan dipimpin oleh Christine Lagarde.

“Cukup menarik untuk menanti sepak terjang yang akan dilakukan oleh Christine, setelah sebelumnya ECB melakukan quantitave easing tahap dua sampai dengan batas waktu yang tidak ditentukan,” jelas Nico.

Lebih lanjut, Tiongkok juga mengumumkan data mengenai trade balance dan inflasi. Data trade balance yang keluar pada 8 Desember kemarin tercatat masih surplus namun turun dibandingkan bulan sebelumnya.

Sedangkan data inflasi, kata Nico, diperkirakan akan mengalami kenaikkan dari bulan lalu. Nico menambahkan, pekan ini bakal menjadi penantian akan kesepakatan negosiasi dagang AS dan Tiongkok. Sejauh ini, pihaknya melihat negosiasi akan menjadi pusat perhatian dan banyak yang menilai hal tersebut berkembang cukup positif.

“Kami melihat pekan ini masih akan menjadi minggunya sumringah, sehingga ada potensi untuk mengalami kenaikkan meskipun rapuh. Oleh sebab itu, kami sarankan perbesar obligasi jangka waktu pendek guna menjaga tingkat volatilitas, dengan porsi 70% untuk tenor pendek, 30% tenor panjang,” ujar dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA