Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengunjung berada di galeri BEI, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Pengunjung berada di galeri BEI, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Pernyataan Jerome Powell Positif untuk Pasar

Senin, 7 September 2020 | 09:31 WIB

JAKARTA – Pernyataan Ketua The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell bahwa terjadi perbaikan data-data ekonomi, khususnya turunnya pengangguran berdampak positif bagi pasar. Powell menyebut bahwa selama empat bulan terakhir angka pengangguran menurun hingga 10% sejalan dengan tingkat suku bunga yang masih rendah. 

PIlarmas Sekuritas menyatakan, hal tersebut menandakan bahwa AS mampu bekerja dan terlepas dari stimulus untuk bertahan hidup. Namun, perlu diingat perbaikan data in harus dibarengi dengan pengendalian virus agar tidak terjadi penyebaran ulang. Powell juga menyarankan bantuan stimulus yang lebih banyak untuk membantu pengangguran yang masih tersisa dan usaha kecil yang terdampak langsung oleh Covid-19.

Pilarmas Sekuritas dalam risetnya menyatakan, hingga saat ini para anggota parlemen AS masih belum menemui kesepakatan terkait rencana pemberian stimulus yang terbaru. Kubu Demokrat menginginkan bantuan stimulus ini diberikan dalam jumlah yang lebih besar, berbanding terbalik dengan niatan Republik sebagai pihak berkuasa yang menyarankan agar bantuan tersebut diberikan dengan nilai lebih kecil.

Menanggapi perdebatan ini, Powell berharap pemerintah memberikan yang terbaik untuk masyarakatnya agar terhindar dari jerat kemiskinan untuk mempersulit penyebaran Covid-19.

“Maka dari itu tingkat suku bunga yang rendah ini akan berjalan dalam jangka waktu yang cukup lama untuk mendukung kegiatan perekonomian, dan mungkin akan dinilai kembali dalam beberapa tahun mendatang,” demikian riset Pilarmas, Senin (7/9/2020).

Seperti yang disepakati pada bulan Juni lalu, The Fed menyatakan tingkat suku bunga akan tetap mendekati nol hingga tahun depan dan bahkan diprediksikan akan bertahan hingga tahun 2022 mendatang. Hal ini akan menjadi pembahasan pada rapat yang akan digelar pada 15-16 September mendatang termasuk proyeksi suku bunga hingga tahun 2023.

“Dengan adanya proyeksi ini menandakan bahwa tingkat suku bunga di Indonesia juga ke depan diperkirakan terus berada pada level yang rendah dan menjadi kabar yang cukup positif. Sebab, perekonomian Indonesia juga membutuhkan stimulus melalui penyaluran kredit agar perekonomian dapat bergerak maju,” ujar Pilarmas.

Dari dalam negeri sendiri pergerakan nilai tukar rupiah yang tertekan pada pekan lalu dinilai menjadi bukti kekhawatiran para pelaku pasar terhadap skema kerja Bank Indonesia (BI) dan pemerintah yang berniat  merevisi Undang-Undang yang membuat BI tidak memiliki posisi yang independen. Adapun dalam revisi Undang-undang No 23/1999 tentang Bank Indonesia dan wacana pembentukan Dewan Moneter dinilai dapat memberikan celah pada berlanjutnya monetisasi utang yang telah disepakati pemerintah dan BI. 

Seperti yang diketahui defisit APBN harus diperlebar tahun ini sejalan dengan kebutuhan pembiayaan yang meningkat untuk penanganan dampak dari pandemi Covid-19. Pemerintah dan BI menyepakati Surat Keputusan Bersama (SKB) pertama, di mana Bank Indonesia dapat membeli surat berharga negara (SBN) langsung di pasar perdana, sesuai dengan mekanisme pasar. 

Kemudian, pemerintah dan BI kembali menyepakati SKB kedua yang lebih dikenal dengan skema Burden Sharing. Berdasarkan skema ini, BI akan menanggung seluruh pembiayaan yang bersifat Public Goods dan menanggung sebagian bunga pembiayaan untuk Non Public Goods

“Kami melihat ada peluang apabila SKB tetap berlanjut di tahun berikutnya akan menimbulkan dampak yang besar pada tekanan inflasi ke depannya. Sementara pada saat yang sama BI harus dihadapkan pada keputusan independennya dalam menaikkan suku bunga acuan,”papar PIlarmas.

Selain itu, pada wacana pembentukan Dewan Moneter, Pilarmas menilai bahwa Dewan Moneter yang dipimpin Menteri Keuangan, akan memainkan peran utama dan instruktif dalam pengaturan kebijakan moneter. Pasalnya, pemerintah dapat mengirim lebih dari satu menteri ke pertemuan Komite Kebijakan Moneter BI untuk memberikan suara. Meski RUU BI masih belum final dan tidak semua perubahan yang diusulkan akan dimuat, namun sejauh ini telah menimbulkan kekhawatiran di pasar terkait dengan dampak RUU terhadap independensi BI dan stabilitas makroekonomi Indonesia. 

“Dibanding merubah aturan yang saat ini sudah berjalan dengan baik, kami sarankan pemerintah untuk lebih fokus lebih memperkuat Bank Indonesia sebagai penjaga stabilitas dan juga penyerapan anggaran dan kebijakan fiskal. Spekulasi yang timbul saat ini, membuat pasar khawatir dan mengalami koreksi yang cukup dalam,” tegas Pilarmas.

 

Editor : Hari Gunarto (hari_gunarto@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN