Menu
Sign in
@ Contact
Search
Duet Pluang-CELIOS

Duet Pluang-CELIOS

Pluang Gandeng Celios Luncurkan Studi Dampak Investasi Multi-Aset pada Industri Ritel

Sabtu, 24 September 2022 | 11:47 WIB
Majalah Investor (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Pertumbuhan investasi di kalangan ritel sangat pesat. Meski demikian, belum banyak kajian soal dampak kehadiran aplikasi investasi multi-aset terhadap perkembangan investasi ritel.

Merespons kondisi tersebut, Pluang bersama lembaga riset Center for Economic and Law Studies (CELIOS) meluncurkan studi berjudul “Dampak Aplikasi Multi-Aset Terhadap Pertumbuhan Investor Ritel”. Ini merupakan kajian pertama dalam sektor investasi ritel yang berfokus pada tren investasi ritel dan aplikasi multi-aset.

Berdasarkan data dari 3.530 responden survei di seluruh Indonesia, studi ini bertujuan untuk memberi gambaran sektor investasi ritel di Indonesia, perilaku dan kebutuhan investor ritel. Studi ini juga menyoroti  dampak kehadiran aplikasi multi-aset bagi investor ritel maupun pertumbuhan ekonomi nasional.

Peluncuran studi CELIOS merupakan inisiatif Pluang sebagai anggota Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) dan Badan Pengembangan Keuangan Digital (BPKD) Kadin Indonesia. Co-Founder Pluang, Claudia Kolonas, sosok woman-tech startup tanah air, berharap bahwa studi ini dapat menjadi pelopor kajian pada sektor investasi ritel di Indonesia.

“Dengan inovasi teknologi di sektor keuangan digital, studi tentang sektor investasi ritel ini diharapkan dapat membuka banyak ruang untuk membangun ekosistem keuangan digital yang kondusif. Studi ini menjadi salah satu inisiatif Pluang untuk menyediakan referensi yang bisa menjadi dasar pembuatan kebijakan yang mendorong percepatan sektor keuangan digital di Indonesia,” kata Claudia dalam acara diseminasi riset CELIOS bersama Pluang di Jakarta, baru-baru ini.

Claudia mengemukakan, studi dampak aplikasi multi aset ini juga merupakan komitmen Pluang untuk meningkatkan cakupan literasi dan inklusi finansial.  Studi ini berguna untuk mengakselerasi pertumbuhan ekosistem inovasi teknologi sektor keuangan (ITSK) di Indonesia.

Berinvestasi menggunakan platform digital kini menjadi pilihan pengguna, melalui kemudahan akses, biaya yang terjangkau, dan kelengkapan fitur yang ditawarkan. Kajian CELIOS bersama Pluang mengungkap lebih dari setengah responden merasa keberadaan platform aplikasi multi-aset berdampak positif pada pendapatan mereka.

Dari populasi tersebut, mayoritas responden berinvestasi untuk meningkatkan pendapatan pasif dan tujuan investasi jangka panjang seperti mempersiapkan dana darurat, dana pensiun dan dana pendidikan anak. Data KSEI menunjukan bahwa per April 2022, 60,29 persen investor pasar modal berusia di bawah 30 tahun, yang rata-rata masih berada di awal dan pertengahan karir profesionalnya.

Penelitian CELIOS bersama Pluang juga menemukan hal yang sejalan dengan kondisi demografi ini. Investasi tidak lagi terbatas pada investor bermodal besar, namun dapat dimulai dengan modal yang terjangkau. Sebanyak 61 persen responden mengalokasikan kurang dari 1 juta rupiah dari pendapatan bulanannya untuk berinvestasi. Di platform investasi multi-aset, para investor juga berkeinginan untuk menambah instrumen Investasi hingga ke 2 sampai 3 kelas aset. Mayoritas  investor tertarik mempelajari produk investasi lain.

Executive Director CELIOS, Bhima Yudhistira, menjelaskan  mayoritas responden menganggap berinvestasi memiliki kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Pesatnya momentum ekonomi digital di Indonesia dan adopsi teknologi yang cepat dari kalangan generasi muda mendorong terciptanya persepsi ini.

"Berinvestasi di platform investasi digital dianggap sebagai aksi berkontribusi terhadap peningkatan sektor teknologi informasi, membantu pendanaan perusahaan, dan efek penciptaan tenaga kerja dari investasi. Hal ini menjadi indikasi positif bahwa platform investasi digital mampu mendorong terciptanya investment-oriented society atau masyarakat yang melek investasi,” ujarnya. 

Responden studi ini memiliki preferensi tinggi untuk memilih influencer keuangan di media sosial atau fin-fluencer sebagai sumber informasi investasi yang dapat dipercaya. Studi ini merekomendasikan adanya pengembangan kapasitas untuk influencer keuangan agar dapat memberikan literasi finansial yang valid & edukatif.

Deputi IV Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Mohammad Rudy Salahuddin, membuka peluncuran kajian ini dengan menekankan pentingnya peran fintech dan potensi investor ritel pada pertumbuhan ekonomi.  Kehadiran fintech yang membantu mendistribusikan produk investasi ikut mendorong munculnya investor ritel domestik. Pertumbuhan investor ritel memiliki korelasi dengan perekonomian nasional.

"Dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh tingginya perkembangan investor ritel di segmen milenial, diharapkan dapat mendukung penciptaan berbagai sumber pertumbuhan baru dan menstimulasi aktivitas ekonomi secara agregat melalui peningkatan kemandirian pembiayaan, penguatan stabilitas pasar domestik, secara penyediaan biaya pembangunan infrastruktur,” ujar Mohammad Rudy Salahuddin

Pertumbuhan investor ritel ini juga berkontribusi pada inklusivitas akses investasi aset kripto di Indonesia. Sejalan dengan studi CELIOS bersama Pluang, angka perdagangan komoditas berjangka di Bappebti tumbuh pesat di 2021 dengan kontribusi signifikan dari emas digital dan aset kripto. Bappebti juga mengamati bahwa sebanyak 70% investor aset kripto mengalokasikan pendapatannya dengan nominal investasi di bawah Rp500.000.

"Hal ini menunjukan bahwa akses investasi aset kripto di Indonesia semakin mudah dengan semakin terjangkaunya nominal untuk memulai berinvestasi aset kripto.” ujar Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan Pasar Bappebti, Tirta Karma Senjaya.

Direktur Hubungan Masyarakat Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Darmansyah juga menyampaikan perlunya harmonisasi kebijakan antar regulator untuk memberi masyarakat kepastian hukum terutama terkait perlindungan konsumen. Hasil riset dinilai sangat penting bagi OJK untuk membentuk kebijakan edukasi dan perlindungan konsumen guna melindungi para investor, juga untuk kebijakan bagi industri. 

"Dengan semakin banyaknya investor ritel yang menjadikan figur publik sebagai sumber informasi investasi, edukasi menjadi kian penting untuk membantu investor ritel melindungi diri dari penipuan. Ini menjadi catatan bagi kami untuk terus meningkatkan standar perlindungan di tengah pesatnya perkembangan teknologi di sektor jasa keuangan.” ujar Darmansyah.

Direktur Eksekutif Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH), Mercy Simorangkir,  menyambut baik kehadiran studi ini. Ia pun berharap Studi CELIOS bersama Pluang ini memberikan landasan untuk membuat pengukuran kesuksesan layanan keuangan digital.

“Para pelaku usaha di sektor keuangan digital perlu mengetahui bagaimana mencapai tujuan platform digitalnya, termasuk memperluas inklusi finansial. AFTECH berharap studi ini menjadi landasan penyusunan kebijakan layanan keuangan digital yang memiliki beragam tantangan khususnya menyeimbangkan antara growth, innovation dan governance,” ujar Mercy Simorangkir.

Editor : Frans (ftagawai@gmail.com)

Sumber : Majalah Investor

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com