Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PP Presisi. Foto: David

PP Presisi. Foto: David

PP Presisi Siap 'Buyback' 9,2% Saham, Berapa Dananya?

Kamis, 26 Desember 2019 | 18:19 WIB
Nabil Al Faruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT PP Presisi Tbk (PPRE) berencana membeli kembali (buyback) saham perseroan sebanyak 941 juta saham atau setara 9,2%. Perseroan menyiapkan dana sebesar Rp 293 miliar untuk aksi korporasi tersebut.

“Aksi tersebut akan dilakukan selama periode 18 bulan terhitung sejak tanggal RUPSLB yang menyetujui rencana tersebut, yakni untuk periode 6 Februari 2020 sampai 30 Juli 2021,” jelas manajemen PP Presisi dalam keterangan resmi, Kamis (26/12).

Aksi korporasi tersebut karena perseroan telah mengalami pertumbuhan yang berkelanjutan, sehingga menghasilkan arus kas yang melebihi dari ekspektasi dalam mempertahankan pertumbuhan berkelanjutan. Kemudian, perseroan juga memiliki leverage yang baik, sehinga PP Presisi memiliki kesempatan untuk meningkatkan leverage apabila diperlukan.

Sementara itu, dampak yang diberikan dari aksi tersebut, yakni dapat memberikan fleksibilitas untuk mencapai struktur permodalan yang efisien dan memungkinkan untuk menurunkan biaya biaya modal keseluruhan, meningkatkan earning per share (EPS) dan return on equity (ROE).

“Selain itu, dapat memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam rangka mengelola modal jangka panjang sejauh surplus modal dan surplus dana yang melebihi kebutuhan dengan mempertahankan rencana pengembangan dan ekspansi usaha,” tutur manajemen. Adapun rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) terkait persetujuan rencana buyback itu dijadwalkan pada 31 Januari 2020.

Mengenai kinerja, PP Presisi telah memproyeksikan perolehan kontrak baru pada 2020 tumbuh 20% dibandingkan tahun ini. Hingga November 2019, perseroan membukukan nilai kontrak baru sebesar Rp 5,6 triliun atau 97% dari total tahun ini sejumlah Rp 5,8 triliun.

“Pencapaian kontrak baru ini akan menjadi modal bagi PP Presisi untuk menyongsong tahun 2020 dan juga memacu optimisme kami terhadap target perolehan proyek baru di tahun mendatang, yang kami proyeksikan akan bertumbuh sekitar 20%,” ungkap Direktur Keuangan PP Presisi Benny Pidakso, baru-baru ini.

Menurut Benny, total nilai kontrak baru sebesar Rp 5,6 triliun itu sebagian besar ditopang oleh proyek-proyek yang berasal dari eksternal. “Dari total proyek baru Rp 5,6 triliun tersebut, sebagian besar berasal dari eksternal group PT PP Persero, yakni sebesar 52% dari swasta, BUMN, dan pemerintah, dan 48% sisanya berasal dari Group PTPP (feeding),” kata Benny.

Dia menambahkan, perolehan proyek baru dari eksternal group yang lebih besar sejalan dengan strategi perseroan untuk memperluas pangsa pasar di luar group sendiri. “Ini untuk membuktikan perseroan mampu bersaing di sektor konstruksi nasional," ujar Benny.

Perolehan proyek baru antara lain berasal dari proyek pembangunan jalan angkut (hauling road) batu bara di Kalimantan, serta kontrak proyek pembangunan Bandara Baru di Kediri, Jawa Timur, yang diprakarsai oleh PT Gudang Garam Tbk melalui entitas anaknya PT Surya Dhoho Investama. Selain itu, pekerjaan penambahan lajur Tol Jagorawi, Tol Trans Sumatera ruas Lubuk Linggau - Curip Bengkulu, Bendungan Bener, dan Pekerjaan Pondasi RDMP Balikpapan.

Dengan progres yang sudah mencapai 97%, lanjut Benny, dirinya optimistis perseroan dapat melewati target yang telah ditetapkan. “Kami sangat optimistis dapat mencapai target tahun 2019 yang masih menyisakan waktu kurang dari satu bulan lagi. Optimisme kami tersebut didukung oleh masih akan diterimanya feeding dari PTPP,” imbuh Benny.

Benny menjelaskan beberapa proyek feeding dari PT PP, yaitu proyek jalan tol Semarang-Demak, PLTU Sulawesi Utara, PLTU Timor, dan Smelter Kalimantan Barat.

Sementara itu, tahun depan, perseroan akan menyiapkan anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) dengan besaran yang konservatif mengikuti jumlah proyek yang diperoleh. "Kami akan tetap konservatif kalau mengenai capex. Berbeda dengan industri lain, kalau di konstruksi, jika kita genjot capex hingga tercapai tapi tidak mendorong income, maka akan menjadi beban penyusutan yang besar. Lebih baik capex-nya saya kurangin, sehingga alat berat kami bisa optimal," ujar Benny.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN