Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

PPKM Diperpanjang, Bagaimana Nasib IHSG Pekan Ini?

Senin, 26 Juli 2021 | 07:01 WIB
Ghafur Fadillah

JAKARTA, investor.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) pekan ini diperkirakan tertekan ke level 6.000. Sejumlah analis sepakat bahwa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) masih menjadi sentimen utama yang bisa mempengaruhi indeks.

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan, para pelaku pasar saat ini mencermati cara pemerintah dalam menangani lonjakan kasus Covid-19. “Sentimen kesehatan masih jadi fokus utama pelaku pasar domestik. Indeks dapat kembali terkoreksi hingga ke level 6.000 apabila PPKM diperpanjang,” kata dia kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.

Dia menegaskan, dari sentimen global, lockdown yang dilakukan oleh beberapa negara dan anjuran untuk kembali memakai masker dalam berkegiatan diperkirakan membawa sentimen negatif bagi IHSG.

Sementara itu, senior analis CSA Research Institute Reza Priyambada menjelaskan, berdasarkan chart weekly, IHSG pekan ini berpotensi bergerak konsolidasi pada level 5.900 sampai dengan 6.100. Adapun level support di 5.925 sampai dengan 6.050 dan resistance di 6.150 hingga 6.170.

Namun, apabila jumlah kasus Covid-19 dapat menurun, bukan tidak mungkin IHSG kembali ke level 6.200. Saat ini, sentimen positif dan negatif yang seimbang, membuat indeks cukup sulit untuk naik ke level 6.200.

Meski begitu, bisnis yang masih belum berjalan dengan baik juga masih menjadi perhatian pasar untuk berinvestasi dan cenderung menahan diri atau wait and see. Kebijakan pemerintah soal menangani pandemi jadi hal yang menentukan.

Perilaku wait and see, kata Reza, sejalan dengan indeks yang masih volatile. Kondisi ini dimanfaatkan pelaku pasar dengan switching saham pada aset yang lebih aman seperti obligasi negara. Pemberitaan yang ada menjadi pertimbangan investor. “Meski yield-nya tidak begitu tinggi, jumlah penawaran yang masuk pada lelang sebelumnya menjadi bukti bahwa pelaku pasar cenderung berhati-hati dengan saham,” ungkapnya.

Pekan ini, Reza merekomendasikan saham-saham yang masih berpeluang memberikan gain pada investor, seperti saham PT Phapros Tbk (PEHA) dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF). Kemudian, di sektor perbankan, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Lalu, di sektor konstruksi, antara lain saham PT Waskita Karya Tbk (WSKT) dan PT PP Tbk (PTPP). Di sektor tambang, ada saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

Secara terpisah, analis Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, sentimen global yang dapat menopang kinerja indeks yakni pertemuan FOMC mengenai pengurangan obligasi oleh The Fed. Indeks diproyeksi bergerak di rentang 6.105-6.180. Adapun batas bawah berada di level 6.115.

“Sektor yang akan menarik untuk para investor masih seputar teknologi, transportasi dan logistik, serta komoditas. Perbankan menjadi menarik, selama sahamnya dipegang jangka menengah hingga panjang,” kata Nico.

Dia mengingatkan, investor untuk berhati-hati pada tingginya volatilitas indeks. Kondisi ini dapat dimanfaatkan dengan membeli saham dengan fundamental yang menunjang dan berpotensi upside di masa depan. 

“Fokuslah terhadap investasi jangka menengah hingga panjang. Namun, apabila bagi pelaku pasar dan investor yang suka dengan volatilitas, saat ini pasar sangat menarik. Volatilitas seperti inilah yang dicari oleh pelaku pasar dan investor,” tambahnya.

Salah satu saham yang kompak menjadi salah satu rekomendasi beli dari para analis yakni BBRI. Pasalnya, harga saham salah satu penghuni 10 besar market cap ini sedang berada di harga terendah atau undervalued.

“Harga BBRI yang masih di bawah Rp 4.000 bisa menjadi pilihan investasi. Apalagi, mimpi BBRI tahun depan begitu besar, ada PNM dan Pegadaian yang akan bergabung, ini akan menjadi holding ultramikro terbesar yang pernah ada,” ujar Nico.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN