Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang karyawati melihat melalui ponsel pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, di Jakarta. Foto Ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Seorang karyawati melihat melalui ponsel pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, di Jakarta. Foto Ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

'Private Placement' BMTR di Bawah Harga Pasar, Kasihan Investor Ritel!

Kamis, 13 Agustus 2020 | 20:48 WIB
Listyorini (listyorini205@gmail.com) ,Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Global Mediacom Tbk (BMTR) akan menerbitkan hingga sebanyak 700 juta saham baru melalui penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non-HMETD) atau private placement. Emiten Grup MNC ini menetapkan harga pelaksanaan Rp 200 per saham. Alhasil, dana segar yang berpotensi diraih sebesar Rp 140 miliar.

Pengumuman harga pelaksanaan tersebut direspons negatif oleh pemodal dengan koreksi harga BMTR hingga 6,06% ke level Rp 248 pada perdagangan Kamis (13/8). Sementara itu, harga rata-rata saham Global Mediacom selama 25 hari perdagangan terakhir sekitar Rp 208.

Global Mediacom menjadwalkan pelaksanaan private placement pada 24 Agustus 2020, kemudian hasil aksi korporasi itu akan diumumkan pada 26 Agustus. Pada prospektus sebelumnya disebutkan, private placement ini menimbulkan efek dilusi 7,53%.

Senior Vice President Research Kanaka Hita Solvera Janson Nasrial mengatakan, terdapat banyak skenario yang membuat perusahaan menetapkan harga private placement di bawah harga pasar. Salah satunya adalah pemanis atau sweetener untuk calon investor. “Dalam private placement itu yang kasihan adalah investor publik, karena mereka yang akan terdilusi. Ada contoh kasus, dimana ada perusahaan melakukan private placement, tapi setelah itu harga sahamnya turun terus,” kata dia kepada Investor Daily, Kamis (13/8).

Janson menegaskan, jika investor publik tidak mau terjebak pada investasi di saham-saham seperti itu, sebaiknya mempelajari betul rencana aksi korporasi perusahaan. Semisal, jadwal penerbitan saham baru dan mencermati skema HMETD atau non-HMETD. “Kalau mau level playing field, yang diberlakukan adalah HMETD. Investor khususnya ritel harus benar-benar melakukan due diligence,” jelas dia.

Sementara itu, mantan Dirut Bursa Efek Jakarta, Hasan Zein Mahmud mengatakan bahwa harga private placement di bawah harga pasar sangat merugikan investor, khususnya ritel. “Private placement di bawah harga pasar itu sama saja mengisi langsung kantong dari existing shareholders," katanya.

Hasan menilai, aksi korporasi ini mengandung unsur ketidakadilan, tidak menggunakan prinsip level playing field, meskipun sudah disetujui RUPSLB. Ia menggambarkan, dalam tender offer saja, pemegang saham pengendali diwajibkan melakukan mandatori dengan harga pelaksanaan tidak boleh lebih rendah dari harga rata-rata 90 hari terakhir perdagangan. "Private placement berdampak jauh lebih besar bagi investor ritel ketimbang mandatory," ujarnya.

Sebagai informasi, Global Mediacom berencana menggunakan dana hasil private placement untuk memperkuat struktur pemodalan. Perseroan akan melakukan pengurangan tingkat utang dan untuk modal kerja dalam operasional sehari-hari. Perseroan membuka seluas-luasnya kesempatan terhadap calon investor yang akan membeli saham baru perseroan.

Global Mediacom telah mengantongi restu pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) 11 Agustus 2020. Adapun struktur pemegang saham perseroan per 30 Juni adalah PT MNC Investama Tbk (BHIT) sebanyak 50,12% dan masyarakat 49,88%.

Pada semester I-2020, perseroan membukukan pendapatan Rp 5,86 triliun, turun 7,84% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 6,36 triliun. Salah satunya pemicunya adalah penurunan pendapatan iklan non-digital atau iklan konvensional yang menjadi kontributor utama perseroan.

Pendapatan yang berasal dari anak usahanya, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN), juga turun 13,5% secara tahunan menjadi Rp 3,2 triliun. Sementara itu, laba bersih Global Mediacom turun 7,71% menjadi Rp 551 miliar hingga semester I-2020 dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 597 miliar.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN