Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Aktivitas pekerja garmen di PT Sritex. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Aktivitas pekerja garmen di PT Sritex. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Prospek dari Moodys Turun, Sritex Yakinkan Keuangan Masih Stabil

Minggu, 12 Juli 2020 | 14:15 WIB
Thereis Kalla (thereis.kalla@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) mengungkapkan kondisi kinerja keuangannya tetap stabil hingga saat ini. Hal tersebut merespon hasil pemeringkatan Moody's yang mengubah prospek (outlook) perusahaan dari sebelumnya positif menjadi negatif dengan peringkat perusahaan dipertahankan tetap di Ba3.

Sekretaris Perusahaan Sritex Welly Salam mengungkapkan, hingga saat ini kondisi keuangan perseroan masih terjaga, yang ditunjukkan melalui rasio utang berbunga dibanding jumlah aktiva yang tercatat stabil pada tingkat 55%.

Selain itu, posisi kas perseroan tercatat cukup besar yaitu 10% dari total aktiva yang terbilang cukup untuk menjaga likuiditas perseroan.

“Dengan adanya covid ini, kita masih ada internal fund kita yang cukup lumayan. Untuk perbankan kita belum melihat kebutuhan tambahan dari luar, karena dengan operasional kita yang masih normal, kita yakin bisa survive dengan kondisi sekarang,” jelas Welly dalam paparan publik baru-baru ini.

Welly menambahkan, dengan strategi perseroan dalam mengatur rasio utang jangka panjang yang lebih dominan dibanding jangka pendek diyakini tidak akan mengganggu likuiditas perseroan, terlebih dalam situasi saat ini sangat penting untuk menjaga likuiditas perseroan.

Selain itu, dalam menjaga porsi rasio utang jangka panjang juga didukung oleh fasilitas pinjaman tersebut dapat diperpanjang otomatis selama jatuh tempo. Sedangkan untuk utang jangka pendek terdapat utang sindikasi yang jatuh tempo pada tahun 2020 sebesar US$ 68 juta juga akan diperpanjang secara otomatis.

“Perseroan juga aktif mengelola rasio utang dan struktur modal untuk menjaga fleksibilitas keuangan yang memungkinkan perseroan untuk merespon secara kompetitif dan cepat terhadap setiap perubahan kondisi ekonomi maupun peluang potensial yang ada di pasar,” kata Welly.

Sementara itu, Direktur Keuangan Sritex Allan Moran Saverino mengungkapkan, hingga saat ini tidak terjadi pengurangan permintaan pembelian dari pemasok ritel. Status Sritex sebagai supplier premium juga tetap menjadi prioritas bagi buyer-buyer besar untuk memenuhi kebutuhannya.

Retailer yang besar, itu juga mencari supply chain yang besar juga, jadi kita itu tidak ada pengurangan buyer. Retailer besar itu mengurangi supply chain yang masih kecil, yang premium supplyer masih dipertahankan mereka,” jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, Allan meyakini pada tahun ini pihaknya masih dapat memenuhi target penjualan perseroan. Dia menjelaskan, bisnis model Sritex yang terintegrasi vertikal menjadi kekuatan perseroan. Produksi Sritex dari benang sampai pakaian jadi membuat bisnis perseroan lebih cepat menyesuaikan dengan kebutuhan pasar sesuai dengan situasi yang terjadi.

Adapun sebelumnya, lembaga pemeringkat internasional Moody's Investors Service merevisi outlook perseroan dari sebelumnya positif menjadi negatif dengan peringkat perusahaan tetap di Ba3.

Rating tersebut juga berlaku untuk utang anak usaha Sritex, Golden Legacy Pte Ltd sebesar US$150 juta yang jatuh tempo pada tahun 2024 dan surat utang yang dijamin tanpa syarat dan tidak dapat dibatalkan senilai US$225 juta yang jatuh tempo pada tahun 2025.

Pemeringkatan tersebut didasari Moody’s atas proyeksi konsumsi pakaian secara global yang akan menurun sebagai dampak dari pandemi virus corona yang berpengaruh pada pengurangan pendapatan Sritex, namun seiring dengan itu kebutuhan modal kerja meningkat sampai 2020.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN