Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Global Mediacom dan MNC.

Global Mediacom dan MNC.

HARGA SEBAGIAN SAHAM GRUP MNC LANJUTKAN KOREKSI

Prospek Saham Grup MNC di Tengah Gugatan Pailit dan 'Private Placement'

Jumat, 14 Agustus 2020 | 17:11 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, Investor.id - Saham Group MNC berfluktuasi tinggi setelah ada gugatan pailit terhadap PT Global Mediacom Tbk (BMTR) ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat oleh perusahaan telekomunikasi asal Korea Selatan, KT Corporation. Gugatan tersebut terdaftar dengan nomor 33/Pdt.Sus-Pailit/2020/PN Niaga Jkt.Pst tertanggal 28 Juli 2020.

Penurunan harga saham perseroan kian menjadi setelah manajemen perseroan mengumumkan penerbitan sebanyak 700 juta saham baru melalui penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non-HMETD) atau private placement. Emiten Grup MNC ini menetapkan harga pelaksanaan Rp 200 per saham.

Berdasarkan data statistik perdagangan, saham Group MNC, khususnya BMTR sempat anjlok beberapa kali sejak kasus ini ramai diberitakan. Pertama 30 Juli, anjlok 3,60% dan tanggal 3 Agustus anjlok hingga 6,54%. Sementara saham MNCN sempat turun seminggu penuh sejak tanggal 24 Juli 2020 hingga 3 Agustus 2020 ke Rp790, dari Rp 900 pada 23 Juli 2020.

Hari ini, saham Grup MNC kembali melemah, yaitu saham BMTR anjlok Rp 16 (6,45%) menjadi Rp 232, MNCN turun Rp 65 (6,88%) menjadi Rp 880, dan PT MNC Sky Vision Tbk (MSKY) melemah Rp 65 (6,81%) menjadi Rp 890. Penurunan dipengaruhi atas kekecewaan investor terhadap harga private placement BMTR.

Analis Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengatakan, penurunan harga saham grup MNC merupakan masalah lama. Namun secara pengaruh, ia melihat tidak terlihat secara signifikan. "Harusnya tidak berpengaruh signifikan, memang pergerakan harga saham grup tersebut sekarang masih sideway," ujarnya di Jakarta, belum lama ini.

Berdasarkan Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga 10 Agustus 2020, terdaapat empat perusahaan terbuka atau emiten yang digugat pailit. Bahkan salah satu di antaranya sudah ditetapkan pailit oleh pengadilan. Terbaru, perusahaan properti PT Sentul City Tbk (BKSL) digugat pailit oleh konsumennya atas jual beli tanah kavling, Tiga emiten lainnya yang juga digugat pailit sehingga mendapatkan notasi khusus 'B', yakni PT Cowell Development Tbk (COWL), PT Global Mediacom Tbk (BMTR), dan PT Golden Plantation Tbk (GOLL). Notasi khusus 'B' menggambarkan bahwa emiten tersebut sedang dalam permohonan pernyataan pailit.

Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Samsul Hidayat menilai banyaknya gugatan pailit terhadap emiten di bursa efek kemungkinan juga dipengaruhi efek pandemi Covid-19. Sejumlah emiten yang mencatatkan penurunan kinerja hingga merugi, sehingga tidak mampu untuk melunasi kewajiban kepada kreditur maupun konsumen.

Sementara itu, Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengungkapkan, peluang emiten kembali digugat pailit bisa jadi bertambah dalam beberapa bulan mendatang. Hal ini dipengaruhi atas dibatasinya kegiatan masyaralat yang memicu penurunan kinerja sejumlah ke depan.

Dia mengungkapkan, investor yang menggenggam saham emiten yang digugat pailit memiliki dua pilihan, yaitu mengikuti proses gugatan pailit dengan harapan adanya perjanjian damai. Namun jalan tersebut akan memakan waktu yang lama. Sedangkan jika tidak ingin mengikuti proses gugatan pailit, investor dapat melepas sahamnya di pasar negosiasi. Memang risikonya harga saham akan turun tajam, namun investor setidaknya akan mendapatkan uang tunai dari saham tersebut.

Sementara itu, Analis CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan, emiten yang terlilit kasus pailit dengan konsumennya akan memiliki citra negatif di mata investor maupun masyarakat. Serta, menimbulkan kekhawatiran bagi pihak-pihak yang bekerjasama dengan emiten tersebut. “Misalnya Sentul City akan menghadapi kesulitan bekerja sama dengan perusahaan pemasok semen, alat bangunan, dan mebel, karena khawatir tak dibayar,” katanya.

Sementara itu, terkait gugatan KT Corporation kepada Global Mediacom atau dikenal MNC Media merupakan sebuah holding grup media besar di Tanah Air bermula dari sengketa utang piutang pada 2006 silam. Saat itu, KT Corporation dan Global Mediacom membentuk Perjanjian Opsi Jual dan Beli pada Juni 2006. Perjanjian tersebut awalnya ditandatangani oleh PT KTF Indonesia (kini menjadi KT Corporation), PT Bimantara Citra Tbk yang telah berganti nama menjadi Global Mediacom, dan Qualcomm Incorporated.

KT Corporation yang merupakan perusahaan telekomunikasi asal Korea Selatan kemudian menggugat pailit Global Mediacom, atas tindakan wanprestasi terhadap perjanjian Put and Call Option Agreement (perjanjian opsi) yang diputus pada 18 November 2010 silam. Putusan arbitrase International Chamber of Commerce (ICC) No 16772/CYK pada November 2010 mewajibkan Global Mediacom untuk membayar kepada KT. Corporation sejumlah USD13.850.966 untuk pembayaran harga penjualan berikut bunga serta USD731.642 untuk biaya hukum dan lainnya.

“Putusan Mejelis Arbitrase yang telah berjalan lebih dari 10 tahun itu sampai saat ini masih belum dijalankan oleh Global Mediacom, oleh karenanya kami mengajukan pailit karena dapat dibuktikan dengan sederhana bahwa mereka memenuhi syarat Undang Undang Kepailitan,” Papar Kuasa Hukum KT Corporation Warakah Anhar dari Amir Syamsudin Law Office.

Adapun, Direktur Global Mediacom David Fernando Audy mengungkapkan bahwa jika sebuah perusahaan tidak mau ada masalah, maka jangan menjadi perusahaan yang besar. “Biasa kok, namanya perusahaan besar, urusan hukum, gugatan ya pasti ada. Kalau enggak mau ada masalah gugatan, jangan jadi perusahaan besar,” ucapnya.

Apalagi, ungkap Audy, Global Mediacom bukan hanya perusahaan besar tapi juga merupakan perusahaan yang sudah terbuka sehingga masalah hukum itu menjadi biasa. “Masalah hukum itu biasa, apalagi untuk perusahaan tbk. yang penting semua sudah disampaikan di notes to financial statements,” jelasnya.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN